Jumat, 23 April 2010

Penggalian Dasar-Dasar/ Konsep Teologis Untuk Pendidikan dan Penyadaran Politik Bagi Orang Kristen di Indonesia Dr. Eddy Paimoen

Pendahuluan
Masalah utama filsafat politik adalah masalah legitimasi, legitimasi dalam arti etis terhadap dua lembaga dimensi politis manusia, yaitu hukum sebagai lembaga normatif penataan masyarakat dan kekuasaan politis atau negara sebagai lembaga penataan masyarakat efektif. Filsafat mengajukan tuntutan legitimasi terhadap hukum pada hakekatnya diajukan tuntutan bahwa hukum harus adil, sedangkan kekuasaan dituntut baik legitimasi materialnya maupun legitimasi subyek kekuasaan berdasarkan apa dan pihak mana boleh memegang kekuasaan. Filsafat politik pada hakekatnya menuntut agar segala claim atas hak untuk menata masyarakat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian tersobeklah tabir kepolosan ideologis. Filsafat politik mendestruksikan afirmativitas yang tidak dipertanyakan, mendongkel claim-claim kekuaaan yang naif, sampai mereka membuktikan diri dan dengan demikian menjadi refleksif dan terbuka terhadap kritik atau memang ditelanjangi sebagai layar asap ideologis bagi kepentingan-kepentingan khusus.
Jadi adanya filsafat politik berarti adanya suatu kenyataan dalam kehidupan masyarakat yang tidak membiarkan segala macam claim wewenang dan kekuasaan menjadi mapan begitu saja. Tantangan itu memaksa kekuatan-kekuatan itu untuk membenarkan diri, untuk membatasi diri pada wewenang yang sebenarnya, untuk menunjukan fungsinya demi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Filsafat politik meningkatkan tekanan agar kekuasaan-kekuasaan politik mencari legitimasi dan mempersulit merajalelanya legatimasi-legatimasi yang ideologis. Dengan demikian filsafat politik merupakan ragi dalam adonan masyarakat yang mendesak terus menerus agar segala usaha pembangunan dihadapkan pada tuntutan legitimasi normatif dan demokratis.

Politik Sebagai Bagian dari Proses Penatalayanan Allah.
Allah adalah pencipta langit dan bumi. Allah memelihara ciptaannya dengan menyediakan seluruh kebutuhan manusia menurut keperluannya. Lebih dari ciptaan Allah lainnya, manusia dituntut oleh Allah untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup dengan penuh tanggung jawab. Allah menciptakan seluruh umat manusia, agar memelihara kelestarian lingkungan hidup dengan benar dan adil (Mazmur 89:15). Manusia mempunyai kelebihan dari ciptaan Allah lainnya, karena manusia diciptakan menurut gambar dan teladanNya, dan diberikan tugas untuk menatalayani ciptaanNya. Menatalayani mengandung pengertian membuat keteraturan, berdasarkan sistem yang didukung oleh hukum keadilan dan keadilan hukum yang seimbang (Yesaya 11: 1-5).
Setelah jatuh dalam dosa manusia tidak sanggup lagi melaksanakan tugas sucinya. Manusia membuat alat-alat perang untuk saling membunuh. Oleh karena kerakusannya, mereka menebang hutan dengan tidak bertanggung jawab, mengeksploitasi bumi demi memperkaya diri dan tidak peduli terhadap lingkungan hidup, membuat zat-zat kimia sehingga mengotori alam lingkungan dan akhirnya manusia melawan Allah dengan dalih firman Tuhan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Akibatnya ekosistem secara totalitas tidak berfungsi bahkan telah menjadi berantakan karena ulah dan kerakusan manusia. Untuk memulihkan dan menatalayani bumi dan seluruh ciptaan Tuhan, gereja dipanggil untuk melaksanakan tugas kenabiannya (Daniel 4:26-27)
Allah berjanji untuk melaksanakan pemerintahanNya dengan benar dan adil. Hukum Allah dalam PL mengandung unsur keadilan, kebenaran, kekudusan dan anugerah (Yesaya 9: 5-6). Janji Allah selalu dikaitkan dengan kebenaran dan keadilan. Keadilan merupakan sifat Allah yang hakiki. Barangsiapa yang percaya kepada Allah mereka melakukan segala sesuatu yang berlandaskan pada keadilan Allah. Allah menolak semua sistem yang telah direkayasa dan digunakan oleh para penguasa untuk menindas mereka yang lemah. Dengan tegas nabi Habakuk mempertanyakan hal ini kepada Allah(Habakuk 1:2-4).Hal ini dapat terjadi di semua lembaga, baik dalam pemerintahan maupun dalam bisnis swasta, di dalamnya termasuk organisasi gereja.
Kedatangan Yesus Kristus adalah penggenapan rencana Allah dan sekaligus merupakan pernyataan tentang solidaritasnya dengan dunia (Yohanes 14:6). Allah ingin menebus umatNya melalui pengorbanan Yesus Kristus. Melalui Yesus, orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (Yesaya 19:25-26) akan dipersatukan. Mereka dapat hidup berdampingan, bahkan dapat hidup, makan dan bekerja bersama-sama serta saling berbagi dan melayani berdasarkan kepedulian timbal-balik. Allah berjanji untuk melaksanakan pemerintahanNya dengan benar dan adil. Hukum Allah dalam PL mengandung unsur keadilan, kebenaran, kekudusan dan anugerah (Yesaya 9: 5-6). Janji Allah selalu dikaitkan dengan kebenaran dan keadilan. Keadilan merupakan sifat Allah yang hakiki. Barangsiapa yang percaya kepada Allah mereka melakukan segala sesuatu yang berlandaskan pada keadilan Allah. Allah menolak semua sistem yang telah direkayasa dan digunakan oleh para penguasa untuk menindas mereka yang lemah. Dengan tegas nabi Habakuk mempertanyakan hal ini kepada Allah(Habakuk 1:2-4).Hal ini dapat terjadi di semua lembaga, baik dalam pemerintahan maupun dalam bisnis swasta, di dalamnya termasuk organisasi gereja.
Orang Kristen terpanggil untuk menyaksikan perubahan hidupnya. Kristus yang lahir dalam hidupNya memberikan buah-buah nyata. Pembaruan batin dan hidup merupakan suatu kesaksian nyata yang mampu menerobos dinding kekerasan. Setiap orang Kristen adalah murid Yesus, Ia harus meneladani gurunya. Ia harus mengerti hati gurunya. Hidup, karya dan ajaran gurunya harus melekat dalam hati sanubari yang terdalam. Sebagai murid, ia harus terus-menerus belajar ajaran gurunya dan harus berusaha mengaplikasikannya secara kontekstual. Jika dibaca dengan cermat, Perjanjian Baru bermuatan penuh dengan pengajaran sosial, budaya, politik, ekonomi dan bagaimana berpartisipasi dalam pembangunan bangsa. Sebagai seorang murid dan sekaligus sebagai warga negara Indonesia, ia siap dan bersedia duduk berdampingan dengan saudara-saudara senegara dan sebangsa untuk membangun wawasan, ekonomi dan politik bangsa Indonesia.


Peranan Gereja
Peranan dan peran serta gereja dalam masyarakat begitu luas, sehingga agak sulit untuk dibuat suatu ringkasan yang bersifat menyeluruh. Dengan demikian beberapa tugas gereja yang berkaitan dengan kemasyarakatan adalah sebagai berikut:

1. Memproklamasikan Injil Yesus Kristus (Yesaya 58:1-12; Yesaya 61: 1-2; Mat. 28:19-20; Mrk. 6:15; dan Luk. 4:18-19), secara terpadu dan menyeluruh.
a) Proklamasi Injil meliputi undangan menerima pekerjaan anugerah Allah yang memperbarui hati dan hidup manusia.
b) Gereja dipanggil oleh Allah untuk mewujudnyatakan kehadiran Kerajaan Allah di bumi(Yermia 29:7-8).
c) Politik Kerajaan Allah akan menekankan kebenaran, keadilan, kekudusan, anugerah dan kedamaian(Yesaya 11: 1-5).


2. Gereja sebagai tubuh Kristus.
Gereja dipanggil untuk hidup sebagai tubuh Kristus, yang berfungsi sebagai terang dan garam. Gereja dengan setia menjalankan panggilannya, dengan etika baru karena pembaruan yang terjadi oleh karena Kristus. Gereja dan anggotanya memancarkan komitmennya berdasarkan nilai baru yang mampu mempengaruhi nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat.
Dalam mengatasi konflik internasional, nasional, regional, lokal dan perdamaian dunia, gereja harus berupaya menjalankan misi damai dan perdamaian dunia. Gereja harus berupaya secara terus menerus untuk menjalankan misi damai Yesus dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Tanggung jawab yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a) Mentransformasi sifat masyarakat umum melalui peran sertanya sebagai agen Kerajaan Allah.
b) Bertindak benar, adil, tulus, jujur dan menghindarkan kekerasan.
c) Memaksimalkan fungsi sosial gereja untuk berinteraksi dengan masyarakat agar dapat berpartisipasi untuk memenuhi kebutuhan umum mereka secara minimal.
d) Berupaya untuk mempengaruhi dalam pembuatan kebijaksanaan, perundang-undangan dan peraturan-peraturan pemerintah.
e) Turut bertanggung jawab dalam percaturan politik melalui lembaga-lembaga: politik, sosial, kemanan, peradilan, pendidikan, perdagangan, komunikasi, dan informasi, pemanfaatan sumber daya alam, lingkungan hidup dan perjuangan hak asasi manusia.

3. Berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan bangsa.
Gereja hidup dalam masyarakat dengan demikian gereja tidak boleh menjadi asing dalam masyarakat meskipun masyarakat tidak menerima atau menolak kehadirannya. Gereja bukanlah Kerajaan Allah tetapi berfungsi sebagai agen bagi Kerajaan Allah. Dalam hal ini Snyder berkata, “...the church an instrument of God’s kingdom today.” Sebenarnya yang menjadi pusat perhatian gereja adalah kehadiran Kerajaan Allah. Dalam hal ini gereja sebagai agen pembaruan Kerajaan Allah mempunyai tugas yang sangat holistic, seperti yang diungkapkan oleh Yesus dalam Injil Lukas 4:18-19, Yesaya 58 dan 61.
Dari Perjanjian Lama sampai dengan Perjanjian Baru, melalui para hamba-hambaNya, Allah memberitakan datangnya tahun rahmat, di dalamnya terkandung berita anugerah, kebenaran, kekudusan dan keadilan. Allah tidak akan berkolusi dengan kejahatan dan juga tidak akan berkompromi dengan dosa. Kerajaan Allah adalah kudus, barangsiapa yang masuk ke dalamnya harus melalui proses pengudusan. Allah selalu akan menepati janjiNya bahwa ia akan memerintah dengan adil dan kebenaran. Ia juga akan membebaskan orang-orang tawanan, memberi penglihatan kepada orang-orang buta, dan membebaskan orang-orang tertindas (Yes. 61:1-2). Namun harus dimengerti bahwa Kerajaan Allah bukan suatu negara yang mempunyai wilayah atau memiliki suatu perencanaan yang dapat dilaksanakan oleh manajemen manusia. Tetapi Kerajaan Allah merupakan dinamika dari kuasa Allah sebagai penguasa, yang mendorong, menantang, memberi kedamaian, memberi hidup baru, memberi kemampuan, memberi inspirasi harapan baru dan membuka cakrawala baru kepada setiap orang untuk mengabdi dan melayani dimana Allah sendiri yang memberikan kemungkinan kepada umatNya untuk mencapai sasaran seperti yang diletakkan oleh Allah.


Meskipun kelihatannya begitu abstrak, di dalam Yesus kuasa pemerintahan Allah dapat dialami oleh setiap orang. Kerajaan Allah dapat dilihat ketika orang buta celik, orang sakit sembuh, orang mati bangkit, air menjadi anggur, orang miskin dikenyangkan, orang tertawan dilepaskan, orang tertindas dibebaskan dan orang berdosa diampuni. Inilah dinamika dari “kuasa” Kerajaan Allah atau wujud dari politik kerajaan Allah.
Yesus sebagai Kepala Gereja, akan memimpin umatNya menjadi agen pembaruan Allah, menjadi alat Tuhan untuk memberitakan tahun anugerah dan memproklamasikan Injil keselamatan. Bertitik-tolak dari pemahaman ini, gereja berfungsi untuk menyelamatkan dunia dari dosa, berperan serta secara aktif dalam menciptakan keadilan-sosial, turut bertanggung jawab dalam pembangunan bangsa, mempersiapkan dunia menjadi Kerajaan Allah. Sebagai agen pembaharu, gereja turut bertanggung jawab memperbaharui sistem atau struktur yang sudah terpolusi oleh dosa. Berusaha memerangi dosa struktural yang sudah menjadi kebudayaan. Menjadi alat untuk menyelamatkan manusia dari dosa, juga menerangi dan memperbarui semua sistem melalui perjuangan politik. Itulah sebabnya, Yesus memerintahkan gereja tetap tinggal di dunia agar menjadi berkat bagi dunia.

4. Gereja dan Politik
Istilah politik sangat sulit untuk didefinisikan secara tepat dan akurat, yang dapat digunakan secara mandiri dan bersifat umum. Para pakar politik telah berusaha membuat definisi tentang istilah politik, namun setiap pakar selalu mempunyai penekanan yang berbeda, dan dalam realitanya selalu dihubungkan dengan minat pribadi, konteks dan situasi serta kondisi yang sedang berlaku pada waktu itu (kontemporer). Meskipun demikian, berdasarkan sejarah politik yang memang sangat rumit dan kompleks, pada akhirnya Istilah Politik dapat didekati dari beberapa sudut pandang dan dapat diartikan sebagai interaksi dari masyarakat yang hidup di kota (polis), atau interaksi dari golongan masyarakat intelektual, dengan maksud mengatur kehidupan bersama, demi kebaikan dan kesejahteraan semua golongan yang terdapat dalam masyarakat. Dilihat dari sejarahnya, kegiatan politik tidak mengenal golongan, karena perjuangan politik adalah demi kepentingan semua golongan. Gerakan politik akan memberi inspirasi dan dorongan kepada warga masyarakat agar turut berperan serta secara aktif untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, demi pembangunan masyarakat yang adil dan makmur. Politik mempunyai posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, karena keputusan dan gerak dari politik akan memberi arah perjuangan yang jelas. Dari perjuangan politik akan diperoleh pemerataan pendapatan, hak untuk memiliki sesuatu, mempunyai kebebasan untuk berbicara, bersuara, berkumpul, beribadah, menulis, memilih, bekerja, dan mendapatkan perlindungan bagi setiap warga negara. Hal-hal ini sudah diatur oleh undang-undang.
Dalam konteks dunia modern, istilah “politik” sering digunakan sebagai alat perjuangan untuk mendapat kedudukan dan kekuasaan, dengan tujuan membangun masyarakat agar setiap anggota masyarakat tersebut mempunyai kesempatan untuk menikmati keadilan dan kemakmuran. Dalam hal ini, John Bennett menyatakan bahwa “negara” adalah sebuah lembaga politik sebagai tempat (wadah) otoritas dan kekuasaan dengan tugas mengatur dan memelihara ketertiban agar anggota masyarakat dapat hidup tertib dan damai-sejahtera, berdasarkan hukum yang dijalankan dengan adil. Di sini yang memegang peranan adalah hukum-keadilan dan keadilan-hukum.

Apabila hukum masih berjalan sesuai dengan eksistensi dan fungsinya, maka gerakan politik bukan hanya perjuangan untuk berebut kekuasaan, tetapi perjuangan untuk keadilan-sosial berdasarkan hukum. Dalam konteks ini, “politik“ mempunyai makna dan arti yang sangat positif. Namun sangat disayangkan, karena istilah politik seringkali telah disalahgunakan oleh golongan atau pribadi tertentu, yaitu dijadikan sebagai alat untuk menakut-nakuti sebagian dari warga masyarakat, sehingga mereka kehilangan hati nurani yang jernih, dan sebagai akibat yang sangat menyedihkan bahwa orang yang bersangkutan tidak lagi dapat mengambil keputusan sendiri untuk pilihannya yang terbaik, karena adanya tekanan dan ketakutan. Dengan janji atau ancaman tertentu mereka dipaksa oleh oknum atau kelompok tertentu untuk melakukan suatu tindakan memilih hal yang bertentangan dengan hati nurani mereka. Dalam hal ini, kata politik hanya akan dinikmati oleh para penguasa dan yang dekat dengan kekuasaan
Istilah negara dalam Perjanjian Baru mengandung arti masyarakat yang tertib dan teratur karena keadilan; sedangkan pemerintah adalah sebuah lembaga politik yang memiliki kekuasaan terbatas untuk membuat dan memelihara perundang-undangan, hukum, peraturan dan tata tertib untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Negara mencakup pengertian “para penguasa” dan yang “dikuasai” lebih bersifat abstrak, sedangkan pemerintah hanya berkaitan dengan kekuasaan, para penguasa, orang yang menjalankan kekuasaan dan yang dikuasai. Interaksi dalam pemerintahan kelihatan lebih kompleks. Dalam teorinya, pemerintah dalam menjalankan tugasnya, harus berperan menjadi abdi rakyat, menjadi pelayan masyarakat dan penyambung lidah rakyat, karena telah memperoleh kepercayaan dan kekuasan dari rakyat.

Iman Kristen Dalam Proses Pembangunan Politik.
Agar pemerintah dapat menjalankan tugasnya dengan bertanggung jawab, orang Kristen sebagai warga negara yang bertanggung jawab harus ikut berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan bangsa, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus, “Naikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan” (1Tim. 2:1-2). Dalam Roma 13:4, Rasul Paulus berkata bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan umat manusia. Bagi pemerintah yang berfungsi sebagai hamba Allah, orang Kristen harus takluk kepadanya. Dalam konteks ini, pemerintah berfungsi sebagai pelaku kebenaran dan keadilan. Pemerintah berjuang untuk keadilan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang golongan. Pemerintah sebagai alat Tuhan untuk kebaikan dan kebajikan umat manusia. Yesuspun meminta kepada para muridNya untuk mendoakan para penguasa agar tidak memerintah dengan tangan besi, tetapi dengan kebenaran, keadilan, kejujuran dan ketulusan (Mrk. 10:41-45). Dalam Injil Markus 12:17, Tuhan Yesus juga berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Yesus mengajar murid-murid untuk bertindak adil, artinya memberikan seseorang sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya. Ia berharap agar para muridNya tidak berkolusi dengan siapapun, dan tidak melibatkan diri dalam tindakan manipulasi dan korupsi.



Mereka dituntut untuk menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etis yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah dan sesama manusia. Tindakan kolusi, manipulasi dan korupsi dalam situasi apapun bertentangan dengan kehendak Allah. Berkaitan dengan hal ini, Yesus menghendaki para muridnya tetap menjadi garam dan terang.
Tunduk kepada pemerintah bukan berarti melakukan semua perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma kebenaran dan keadilan. Yesus meminta para pengikutnya untuk berdiri tegak di atas keadilan dan harus tetap berusaha menyuarakan suara kenabian dalam situasi yang bagaimanapun, seperti yang telah dilakukan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, dan Yohanes Pembaptis. Kehadiran murid Yesus di tengah masyarakat akan menjadi garam dan terang, dan berusaha menghadirkan misi Kerajaan Allah (Luk. 4:18-19) secara utuh, serta berpijak pada Matius 22:37-39, “mengasihi Allah dengan sebulat-bulat hati, mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri.” Mengasihi sesama manusia telah diterjemahkan oleh Petrus dengan “kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang” (2Ptr 1:7). Karena barangsiapa yang mengasihi Allah dan tidak mengasihi saudara-saudaranya digolongkan sebagai pendusta (1Yoh. 4:20). Para pengikut Yesus tidak hanya berjuang untuk golongannya sendiri, melainkan untuk semua golongan manusia. Hal ini telah dibuktikan oleh Yesus sendiri bahwa ia memberi makan kepada lima ribu dan empat ribu orang, menyembuhkan penyakit bagi mereka yang membutuhkan tanpa disertai dengan pamrih, dan ia melayani Marta serta wanita Samaria tanpa membedakan warna kulit. Tugas politik mesianis Kristus, adalah untuk kesejahteraan manusia di bumi ini, seperti: (a) menyampaikan kabar baik kepada orang miskin; (b) memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan; (c) memberikan penglihatan kepada orang-orang buta; (d) membebaskan orang-orang yang tertindas; dan (e) memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Inilah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan masyarakat adil dan makmur, dengan prinsip pemimpin yang melayani dan tidak memerintah dengan tangan besi serta menjalankan kuasa dengan sekehendak hatinya.
Orang Kristen sebagai umat Allah, dan juga sebagai warga gereja, mempunyai tugas khusus sebagai saksi Kristus dalam hal memprakarsai lahirnya masyarakat baru yang berazaskan kebenaran dan keadilan. Menjadi orang Kristen berarti siap mengemban misi Kristus, menjadi terang di tengah-tengah kegelapan dan juga menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia yang bengkok ini. Istilah dunia dapat direlasikan dengan kejahatan strukural, seperti: rekayasa politik, rekayasa kekuasaan, rekayasa peradilan dan semua bentuk rekayasa yang merugikan masyarakat baik secara individu maupun kelompok. Dalam konteks masyarakat yang seperti ini, orang-orang Kristen tetap dituntut sebagai terang dan garam. Teologi fungsional dikaji ulang secara cermat dan mendalam dan diterapkan secara kontekstual.
Isu-isu politik yang sedang menghangat di Indonesia sekarang ini, adalah sebagai berikut:
1. Isu tentang pertentangan dan pergeseran pemegang tampuk kekuasaan, lahirnya partai-partai politik yang berbau agama.
2. Trias Politika belum berjalan seperti yang di harapkan.
3. Melemahnya kekuasaan Lembaga Eksekutif (Lembaga Ke-Presidenan) dan menguatnya Lembaga Legislatif dan belum seimbangnya Lembaga Yudikatif.
4. Pengaruh birokratis di semua lembaga tinggi negara dan lembaga peradilan, menyebabkan tersumbatnya saluran politik.



Dengan demikian tugas panggilan orang Kristen menjadi sangat rumit, kompleks, berat, jelas dan transparan sekali, yaitu seperti:
(1) Melindungi dan menghargai manusia sebagai ciptaan Allah.
(2) Menghargai harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah.
(3) Mempromosikan kebenaran dan keadilan.
(4) Menjamin kebebasan seseorang untuk memilih dan dipilih.
(5) Memperjuangkan hak azasi manusia.

Peranan Orang Kristen Dalam Pembangunan Bangsa
Jumlah orang Kristen walaupun sangat minoritas, tetapi bukan berarti menjadi warganegara kelas dua. Orang Kristen lahir di bumi Indonesia berarti juga sebagai pemilik negara ini. Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, harus mencintai tanah airnya dan juga siap berjuang untuk pembangunan bangsanya. Untuk lahirnya Republik Indonesia, tidak sedikit andil perjuangan orang-orang Kristen. Banyak pejuang Kristen yang telah gugur sebagai kusuma bangsa, meskipun nama-nama mereka tidak ditemukan di makam-makam pahlawan, namun pengorbanan mereka telah mengharumkan ibu pertiwi. Sejak dari 1900-1945, banyak orang Kristen yang berjuang dengan gigih bersama bangsa Indonesia lainnya untuk menjadikan negeri ini merdeka. Perjuangan itu adalah bagian dari iman mereka kepada Yesus Kristus. Sejak tahun 1945 sampai sekarang, orang Kristen tidak pernah absen dalam perjuangan pembangunan bangsa. Perjuangan itu tidak terbatas di kursi-kursi MPR, DPR, DPA, BPK, MA, KABINET dan kantor-kantor birokrasi, tetapi dapat dilakukan di semua sektor dan lapangan hidup manusia.
Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, orang Kristen tetap berusaha untuk memelihara iman dan berjuang untuk menegakkan keadilan seperti yang dimandatkan oleh Yesus Kristus sendiri. Panggilannya sebagai warga Kerajaan Allah harus dibuktikan dalam kehadirannya sebagai pelaku firman dan tidak berkompromi dengan kejahatan. Sebagai murid Tuhan, bagaimanapun sulitnya tetap harus berusaha menjadi garam yang masih asin rasanya dan menjadi terang yang bersinar di tengah-tengah kegelapan. Sebagai warga negara juga harus bertanggung jawab terhadap maju dan mundurnya negara Indonesia. Sebagai garam, orang Kristen tidak hanya berjuang untuk mendapatkan “political power” atau “governmental power” yang hanya menyebabkan “post power syndrom,” tetapi perjuangan untuk melaksanakan “intellectual revolution” untuk mendapatkan “intellectual power” dalam semua disiplin ilmu agar mampu berperan serta dalam membangun masyarakat baru, sebagai wujud Kerajaan Allah di bumi yang berazaskan kebenaran, keadilan, kekudusan dan pengampunan. Dengan memiliki “intellectual power” umat Kristen akan dapat menjadi garam yang akan menggarami bangsa ini dan akan menjadi terang yang akan menerangi bangsa ini, menjadi bangsa yang solid berdiri diatas dasar Pancasila dan UUD 1945. Meskipun, Indonesia memiliki masyarakat yang sangat pluralistik, namun dengan falsafah “Bhineka Tunggal Ika”nya, masyarakat Indonesia akan mampu duduk berdampingan dan berjalan seiring serta bergandengan tangan dalam membangun Indonesia menjadi negara yang adil dan makmur. Kenyataan ini memang masih jauh, tetapi harus dimulai sekarang oleh orang-orang muda yang belum terlalu tahu tentang uang, yang mampu berpikir rasional dan tidak mudah sakit hati serta menyimpan luka-luka batin, dan berusaha dengan gigih menegakkan keadilan sehingga “kesenjangan sosial” antara si kaya dan si miskin semakin hari semakin dipersempit. Perjuangan ini membutuhkan waktu yang panjang dan pengorbanan spiritual dan material.

Cita-cita leluhur bangsa yang menjadikan Indonesia menjadi NEGARA KESATUAN YANG BERAZASKAN PANCASILA DAN UUD 1945 harus menjadi prioritas dan dijunjung tinggi oleh siapapun untuk menghindari terjadinya “perpecahan” yang hanya didorong oleh budaya primordialisme. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh orang Kristen dalam membangun dan memajukan bangsa Indonesia, seperti:

1. Dalam sektor politik
Meskipun tidak terlibat dalam politik praktis orang Kristen masih harus mempunyai komitmen untuk menyukseskan pembangunan politik bangsa, khususnya dalam pelaksanaan Pemilihan Umum pada tahun 2004. Bila diperlukan siap menjadi wakil rakyat, menyuarakan amanat penderitaan rakyat melalui MPR dan Lembaga-Lembaga Tinggi Negara. Tetap berusaha menegakkan keadilan meskipun sulit seperti menegakkan benang basah.

2. Dalam sektor ekonomi
Orang Kristen tetap harus berjuang untuk pemerataan pendapatan rakyat. Tetap berjuang untuk mempersempit kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat. Berjuang gigih untuk memberantas kolusi, manipulasi dan korupsi di semua bidang dan lapangan hidup. Berusaha meningkatkan ekonomi masyarakat kecil dan memberikan kesempatan kerja yang sebanyak-banyaknya bagi mereka yang belum memiliki lapangan kerja sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

3. Dalam sektor pendidikan
Orang Kristen terpanggil untuk mencerdaskan bangsa. Masa depan Indonesia tergantung sepenuhnya kepada kualitas bangsa Indonesia. Kualitas bangsa Indonesia akan ditentukan oleh kecerdasan masyarakatnya. Kecerdasan bangsa Indonesia juga akan ditentukan oleh mutu pendidikan yang diberikan kepada mereka. Abad 21 dibutuhkan orang-orang yang berkualitas tinggi. Dalam sektor ini, partisipasi Kristen akan sangat menentukan, bukan hanya untuk pendidikan di kota-kota besar, tetapi juga di desa-desa yang terpencil di seluruh Indonesia.

4. Dalam sektor pengembangan masyarakat
Salah satu tugas panggilan gereja adalah mengembangkan ketrampilan masyarakat agar mereka mampu mencukupi kebutuhannya sendiri, dan juga mampu menolong orang yang membutuhkannya. Orang Kristen sebagai warga gereja dan juga sebagai warga negara bertanggung jawab untuk merubah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat modern yang ber-Pancasila. Sebagai agen dari Kerajaan Allah, gereja harus memperkenalkan masyarakat baru, yang bercirikan kebenaran, keadilan, kesalehan dan ketulusan. Mengembangkan masyarakat menjadi masyarakat baru yang berlandaskan Pancasila, yang mampu bergandengan tangan dengan kelompok lain yang memiliki latar belakang berbeda, dengan semangat tinggi membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkualitas tinggi di Asia. Dengan pengembangan masyarakat seluruh bangsa memiliki kesempatan menikmati kekayaan bumi pertiwi, dengan demikian akan menghindarkan kekayaan bumi pertiwi ini hanya akan dinikmati oleh beberapa gelintir manusia saja.




5. Dalam sektor Hak Azasi Manusia
Dibawah terang prinsip harkat dan martabat manusia, gereja dan orang Kristen harus melindungi dan mengakui manusia sebagai ciptaan yang diberikan kebebasan untuk memilih, bersekutu dan beribadah. Setiap orang diberikan hak untuk dilindungi oleh hukum, hak memilih agamanya dan juga memilih pekerjaannya. Setiap orang juga mempunyai hak untuk berbicara dan bersuara. Hak yang lain adalah hak untuk menentukan pilihan politiknya. Anugerah Allah yang tertinggi dalam hidup manusia adalah hak untuk memilih agamanya dan beribadah menurut peraturan agamanya.

6. Dalam sektor agama
Indonesia adalah suatu negara yang mempunyai masyarakat yang sangat pluralistik. Pluralistik dalam agama, kebudayaan, kesukuan, tingkatan, golongan dan pendidikan. Dalam bidang agama, Indonesia mempunyai warisan iman yang bervariasi. Dalam konteks ini, meskipun berbeda agama tetapi dituntut untuk hidup harmonis dengan sesamanya. Hal ini bukan menghilangkan panggilan untuk bersaksi. Orang Kristen masih harus menggunakan hak dan kewajibannya untuk menyaksikan iman yang dimiliki kepada orang lain dalam bentuk dialog. Dalam dialog tidak ada unsur pemaksaan untuk menerima iman orang lain. Menjadi orang Kristen adalah keputusan pribadi tanpa tekanan dan pengaruh oleh seseorang, tetapi oleh proses perenungan yang membutuhkan waktu yang cukup lama, yang menyebabkan mengambil keputusan pribadi setelah memahami dengan apa yang dimaksudkan dengan iman.

7. Dalam sektor komunikasi
Abad ini disebut sebagai abad globalisasi, transformasi dan komunikasi. Perubahan sosial terjadi sangat cepat karena pengaruh komunikasi, baik melalui media cetak, telivisi, radio dan elektronik lainnya. Media-media ini dapat dipergunakan untuk penyebaran agama, ideologi, ilmu, teknologi dan informasi pasar. Ada yang berdampak positif tetapi juga banyak yang berdampak negatif. Dengan prinsip banyak yang ditawarkan dan sedikit yang dipilih. Masyarakat perlu dipersiapkan untuk dapat berpikir matang agar mampu memilih apa yang diperlukan dengan bertanggung jawab dari apa yang dilhat serta didengar oleh mereka dan bukan memilih yang menjadi kesenangannya. Dengan alat canggih yang serba modern ini, sebuah produk baru dapat ditawarkan secara serentak ke seluruh penjuru tanah air. Tanggung jawab orang Kristen adalah menolong masyarakat untuk membeli yang sangat diperlukan sesuai dengan kemampuan kantongnya. Menghindarkan Indonesia menjadi bangsa yang konsumeris juga menjadi tanggung jawab orang Kristen.











KESIMPULAN
Banyak tugas dan tanggung jawab orang Kristen untuk membangun bangsa Indonesia. Tinggal pilih yang mana sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Dari semua pilihan itu, yang perlu diberikan prioritas adalah mempromosikan kebenaran dan keadilan, karena bangsa kita sedang dilanda banjir kolusi, manipulasi dan korupsi. Untuk hal ini diperlukan alat bedah masalah yang tepat. Setelah mengadakan analisa kritis dan observasi tentang permasalahan dan masalah yang menyebabkan bangsa ini tenggelam dalam kebiasaan buruk yang sangat menyedihkan manipulasi, kolusi dan korupsi dalam semua aspek hidup, maka dapat disimpulkan bahwa pisau bedah masalah sosial yang paling cocok untuk membedah masalah yang sudah kronis dan akut ini adalah firman Tuhan Yesus sendiri, “berikan kepada Kaisar yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan berikanlah kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah” atau berikan kepada seseorang yang berhak menerima. Dengan kata lain, Yesus tidak mengizinkan para pengikutnya untuk melakukan tindakan manipulasi, berkolusi dengan kejahatan yang akan berakhir pada tindakan korupsi yang akan merugikan masyarakat, pemerintah dan juga Allah sendiri. Hal-hal inilah yang telah menjadi akar dari masalah dan kejahatan, yang harus dibedah dan diangkat dari kehidupan bangsa ini secara menyeluruh, dan diganti dengan filosofi Kerajaan Allah yang berlandaskan kebenaran, keadilan, kejujuran dan ketulusan. Meskipun akan dan harus memakan waktu yang cukup lama, melalui proses yang sangat panjang, tetapi pasti akan terjadi akibat nyata yaitu aparat pemerintah yang bersih dan berwibawa, lahirnya “masyarakat baru yang bertanggung jawab” yang berazaskan Pancasila dan UUD 1945 dan tegaknya kebenaran dan keadilan di bumi Indonesia.



Dr. Eddy Paimoen

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar