Kamis, 22 April 2010

BERTOBAT LEBIH BAIK DARI MEMPERSEMBAHKAN KORBAN (YESAYA: 1:10-20)

Oleh: Sarmen Sababalat

Pendahuluan
Kita ketahui bahwa kitab Yesaya adalah kita yang menekankan “kekudusan Allah” dengan tujuan mengingatkan umat Israel bahwa mereka harus menyembah Tuhan Allah saja, serta berbuat sesuai dengan sifat kekudusan-Nya itu. Salah satu yang disoroti oleh Yesaya adalah upacara-upacara ibadah yang dilakukan umat pada saat itu dan bagaimana sikap mereka kepada sesama manusia. Dalam pembahasan ini kita akan melihat bagaimana Yesaya melihat ibadah Israel dan sikap hidup mereka, khususnya dalam Yesaya 1:10-20.

Pembahasan
1. Konteks Luas: Tempat Kitab Yesaya Dalam Kanon
Kitab-kitab kenabian secara tradisional diklasifikasikan sebagai nabi-nabi “besar” dan “kecil”. Untuk nabi-nabi besar termasuk buku-buku yang besar seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel. Istilah “nabi-nabi kecil” dipergunakan untuk bagian-bagian mengenai kitab-kitab yang pendek mulai dari Hosea sampai Maleakhi, untuk buku Zakharia sekali lagi terdiri lebih dari satu penulis. Kanon Ibrani menyusun tulisan-tulisan ini menurut keadaan mereka yng sebenarnya atau pesan kronologis yang diduga benar. LXX, menyusun lima dari enam kitab pertama menurut panjang mereka (Hosea, Amos, Mikha, Yoel, Obaja) dan dari tempat-tempat cerita itu nabi Yunus dalam posisi keenam.
Ada juga ahli lain yang berpendapat bahwa kitab-kitab para nabi biasanya dibagi menjadi dua golongan besar: kelima kitab Pertama (Yesaya s/d Daniel) disebut “Nabi-nabi besar”, sedangkan keduabelas kitab terakhir (Hosea s/d Maleakhi) disebut “Nabi-nabi kecil”. Penggolongan ini berdasarkan banyaknya karangan para nabi.
Kitab nabi Yesaya demikian juga dengan kitab Perjanjian Lama seluruhnya, mula-mula ditulis dalam bahasa Ibrani. Teks Ibrani dari kitab Yesaya, kita dapat dalam Biblia Hebraica yang berisi “standard teks” yang didasarkan atas teks Masoret, yaitu para ahli Yahudi yang khususnya memelihara baik-baik teks Ibrani dari PL sepanjang abad. Sampai kira-kira tahun 1950 yang lalu, Teks Masoret ini mulai diterima sebagai naskah yang tertua yang menyaksikan naskah asli kitab Yesaya.
Kitab Yesaya dengan cara yang khas menyajikan dua masalah yang dihadapi oleh para penafsir PL. Pertama, menyangkut pertentangan antara kesan permukaan mengenai teks dan rekonstruksi kritis modern mengenai sejarah dan maknanya. Tradisi Kristen, seperti tradisi Yahudi, memandang seluruh kitab sebagai karya seorang nabi, Yesaya dari Yerusalem. Sementara itu, penyelidikan kritis membagi kitab ini dalam tiga bagian: Yesaya pertama atau proto Yesaya (1-39), Yesaya kedua Deutero Yesaya (40-55), dan Yesaya ketiga atau Trito Yesaya (56-66). Yesaya kedua dan ketiga sekarang ditanggalkan akhir abad ke-6 sM, 200 tahun sesudah Yesaya dari Yerusalem. Terlebih-lebih sekarang tampak bahwa kurang dari separoh Yesaya pertama berisikan kata-kata nabi sendiri. Yang lain ditambahkan oleh penulis tak dikenal selama 100 tahun. Kedua, mengenai interpretasi kristologis atas PL. Kitab Yesaya sangat dihargai oleh orang-orang Kristen karena tampaknya kitab ini menubuatkan kesengsaraan Kristus. Contoh yang sangat mencolok ialah kelahiran perawan dalam Yesaya 7 dan sengsara serta kematian dalam Yesaya 53. Kitab ini dikutip lebih dari 300 kali dalam PB. Yesus sendiri mengatakan diri-Nya memenuhi nubuat Yesaya (61:1-2). Dalam khotbah-Nya di Nazaret (Luk 4:18).

2. Konteks Terbatas
a. Penulis Kitab Yesaya
Bagian yang pertama itu berisi suatu koleksi pencatatan-pencatatan historis dan sastra yang berasal dari nabi Yesaya, sebagai seorang tokoh yang utama di antara para nabi-nabi, sehingga kitab ini seluruhnya dinamakan kepadanya. Bagian pertama ini (pasal 1-39) biasanya disebut “Yesaya yang pertama”. Nabi Yesaya menerima panggilannya untuk menjadi nabi terjadi ketika ia beribadah di Bait Allah di Yerusalem. Jadi dengan nama ini dimaksudkan suatu kesatuan bahan-bahan sastra yang mempunyai suatu latar belakang historis dan pandangan-pandangan yang tertentu. Inipun tidak berarti bahwa seluruh pasal 1-39 ini adalah karangan langsung dari nabi Yesaya atau berasal dari zamannya saja. Memang bahan-bahan inti berasal dari Yesaya sendiri, akan tetapi dari bahan-bahan inti itu sampai tersusunnya kitab ini ada suatu proses yang lama dan kompleks. Kitab ini diberi judul “Kitab Nabi Yesaya”. Judul ini belumlah berarti bahwa buku ini adalah karangan asli dari nabi sendiri. Akan tetapi dengan judul ini setidak-tidaknya dinyatakan betapa pentingnya tokoh Yesaya sebagai nabi yang bernubuat di tengah-tengah zaman yang menentukan dalam sejarah bangsa Israel pada umumnya. Bagian-bagian Yesaya yang pertama ini yang berasal dari Yesaya sendiri, misalnya: nubuat-nubuat bagi Yehuda dan Yerusalem (2:1-5:7), panggilan Yesaya sebagai nabi, catatan kenangan (6:1-9:7), dan menjelang akhir hidupnya (5:8-30; 9:8-10:32). Inilah yang dijadikan inti, yang kemudian ditambah dengan unsur yang bukan dari Yesaya sendiri, yaitu nubuat-nubuat tentang bangsa-bangsa asing; mazmur hikmat (32:1-8), beberapa fragmen pendek, beberapa bagian yang bersifat eskatologis dan apokalyptis dan sebagainya. Pengamatan kita terhadap isi pemberitaan Yesaya tentu saja haruslah berdasarkan bagian-bagian kitab Yesaya yang dapat dianggap sebagai ‘asli’ yakni berkenaan dengan pemberitaan nabi itu sendiri. Sebagian yang terbesar dari Yes 1-66 merupakan sumbangan oleh nabi-nabi dari “angkatan kedua”, terutama ialah Yes 40-66. di dalam kumpulan Yesaya 1-39, itupun terdapat banyak sekali bahan-bahan nubuat yang baru masuk pada abad-abad sesudah masa hidup nabi itu; hanya Yesaya 1-12 dan 28-32, di samping beberapa naskah di dalam Yesaya 13-23, memuat bahan-bahan yang asli. Dalam Yesaya 1-12 berisi ucapan-ucapan terhadap Yehuda dan Yerusalem. Dalam bagian ini terdiri atas empat kumpulan yang telah disusun orang sedemikian rupa sehingga seberkas bahan-bahan yang bernada celaan dan ancaman selalu diimbangi oleh suatu penutup yang bernada janji keselamatan. Yes 1:2-2:5 menyajikan semacam “inti sari pemberitaan Yesaya”. Dalam Yesaya 1:10-20, banyak penafsir membaginya dua bagian: Yes 1:10-17 yang berisi tentang firman celaan terhadap kesibukan ibadah yang munafik dan Yes 1:18-20 yang berisi kecaman dan ancaman terhadap Yerusalem, kubu ketidakadilan.

b. Masa Penulisan Kitab
Bagian yang pertama (pasal 1-39) berasal dari seorang nabi yang bekerja pada masa raja Yotam, Ahas dan Hizkia, jadi kira-kira tahun 740-690 sebelum Kristus. Allah mengutu nabi-nabi-Nya ke Israel Utara. Demikian pula ke negeri Yehuda. Yesaya adalah nabi-kitab pertama yang bertugas di Yehuda, kerajaan di bawah pemerintahan keluarga Daud itu. Ia mulai tampil di sekitar tahun 740 sM di Yerusalem, tidak seberapa lama sesudah Hosea, rekannya di negara tetangga di utara. Yesaya sendiri beriwayat tentang pengalamannya di Bait Suci, “pada tahun matinya raja Uzia” (Yes. 6:1). Yesaya bertugas sebagai nabi selama empat dasawarsa, walaupun tentunya bukan dengan tidak putus-putusnya. Dalam kurun waktu ini tiga raja berturut-turut memerintah di Yehuda. Yotam (740-733 sM), tidak berbekas di dalam pemberitaan nabi ini. Lain halnya dengan Ahas (733-714 sM), apalagi dengan Hizkia (714-696 sM). Perang saudara antara Israel dan Yehuda (733 sM), runtuhnya kerajaan Israel (722 sM), semakin terjepitnya Yehuda dan tetangga-tetangganya oleh kekuasaan Asyur-semuanya itu turut dihayati oleh Yesaya, dan bergema di dalam pemberitaannya. Nampaknya nabi itu bergaul dengan bebas dengan kalangan pemerintah, sehingga mungkin sekali ia telah berasal dari suatu keluarga yang beradab dan terpandang di Yerusalem. Relasinya dengan Ahas dapat dikatakan rada tegang (Yes 7), sedangkan dengan Hizkia mungkin ia bertemu sebagai penasihat kepercayaan.

3. Catatan Kritis
a. Hubungan Yesaya 1:10-20 Dalam Keseluruhan Kitab
Dalam pemberitaannya, nabi Yesaya sangat menekankan pemahaman tentang Allah sebagai “Raja Israel” dan “Allah adalah Yang Maha Kudus”. Namun setelah Allah memilih Yesaya sebagai nabi, Yehuda mengalami krisis politik yang sangat hebat sehingga umat Allah hidup dalam ketidakadilan, kekerasan dan ketidakjujuran (Yes 1:14, 21-23). Yerusalem yang dahulu sangat dibanggakan sebagai kota hukum yang baik, yaitu di mana umat Allah hidup dalam kebenaran, kejujuran, adil dan kesetiaan kepada Allah, tapi sekarang mereka meninggalkan itu semua, umat Israel sudah melupakan Allah. Mereka tidak peduli lagi kepada Allah, nilai-nilai kemanusiaan mereka abaikan. Keadaan inilah yang mendorong Yesaya untuk menyampaikan pesan Allah bahwa umat Israel akan ditimpa malapetaka yang dahsyat. Pasal 1 merupakan pendahuluan untuk seluruh kitab Yesaya. Pasal 1 secara singkat berisi mengenai ratapan mengenai kekerasan hati Yehuda dan panggilan untuk bertobat (1:1-20). Dari sinilah nabi Yesaya mulai memainkan peranan yang penting di Israel ketika telah ada raja-raja yang dipilih dan diurapi. Raja-raja dipilih dengan maksud antara lain supaya mereka memimpin bangsa Israel beribadah kepada Allah. Akan tetapi ternyata mereka sering kali mengabaikan tanggung jawab tersebut dan menyalahgunakan kekuasaan yang ada pada mereka untuk kesenangan dan kepentingan-kepentingan pribadi. Dalam keadaan seperti ini nabi Yesaya berfungsi sebagai juru bicara Allah, atas nama Allah, mengecam raja-raja yang melupakan tanggung jawabnya itu dan menunjukkan kepada mereka apa yang harus dilaksanakan menurut kehendak Allah. Nabi Yesaya bertindak sebagai pembimbing dan penasihat raja, jikalau raja tersebut ingin mengetahui apa kehendak Allah yang harus dilakukannya. Dalam hal ini Yesaya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa betapa salahnya mereka beranggapan TUHAN akan berkenan dengan ibadah-ibadah mereka yang resmi sementara mereka melupakan sesamanya manusia (Yes. 1:10-17). Yesaya menghardik bangsa ini karena mereka mengikuti peribadatan-peribadatan kafir, termasuk kebiasaan-kebiasaan kafir yang berasal dari agama Asyur ketika bangsa Asyur berkuasa di Israel (17:7-11). Akan tetapi Yesaya terus menerus mengingatkan raja-raja Yehuda agar terus membimbing rakyatnya dalam iman kepada TUHAN dan hanya di dalam TUHAN saja. Adanya sikap yang buruk dari orang-orang Yehuda mendorong nabi Yesaya menekankan tentang perlunya penyucian (1:21-26). Oleh sebab itu, dalam pemberitaannya Yesaya menekankan dua aspek dalam tradisi perjanjian Tuhan dalam dinasti Daud, yaitu penyataan penghukuman atas dosa Yerusalem dan menyatakan kuasa dan kemenangan Tuhan atas bangsa-bangsa. Keyakinan akan kehadiran Yahwe di gunung Sion melahirkan suatu pengharapan yang besar yang memberikan jaminan keamanan dan penghukuman bagi umat Israel akibat pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan dan musuh-musuh yang ditaklukan (Yes. 8:9-22; 14:32; 17:12; 28:14-18).

4. Tafsiran Yesaya 1:10-20
Dipandang dari segi komposisi, maka pasal ini sebenarnya merupakan suatu koleksi nubuat-nubuat dan ucapan-ucapan yang profetis yang berasal dari waktu yang berbeda-beda. Walaupun demikian, koleksi ini menunjukkan suatu jalan pikiran yang tertua dan suatu kesatuan di dalam temanya. Ada juga penafsir membagi 1:10-20 ini ke dalam 2 bagian: 10-17, kenabian taurat pada kekhasan pelayanan pada YHWH dan 18-20, seruan/permohonan untuk memulai cara kerja yang sah dan dalam commentary dibagi 2 juga: 10-17, jalan pembebasan dari dosa dan 18-20, sebuah seruan untuk bertobat dan kembali untuk taat. Tafsiran dari Yesaya 1:10-20 adalah:

Ayat 10
Di dalam menghadapi krisis bahaya yang dilukiskan dalam ayat-ayat 5-9, mereka yang berada di Yerusalem memperbanyak korban-korban dan perayaan-perayaan religius untuk mendapatkan keselamatan. Mungkin TUHAN masih dapat dipengaruhi dengan segala kesibukan religius itu, lalu menolong mereka. Inilah pandangan secara agama kafir yang hanya memperhatikan soal-soal lahiriah saja, formal saja. Maka mereka kini dipanggil oleh nabi untuk mendengar “firman TUHAN” yang akan menyadarkan mereka dan membuka segala kedok kemunafikan mereka dan untuk mendengar “pengajaran Allah kita”, agar mereka menginsyafi kebodohan mereka dan bertobat dari segala praktik-praktik dan pemikiran-pemikiran yang berasal dari “Allah kita”. Mereka itu disebut di sini “para pemimpin (penghulu) manusia Sodom” dan “manusia Gomora”. Sodom adalah lambang untuk menggambarkan dunia dalam pemberontakannya terhadap Allah melalui kehidupan yang penuh kejahatan dan perbuatan asusila, serta untuk melambangkan murka Allah terhadap kejahatan tersebut. Perlambangan ini berakar pada sejarah Sodom yang ditandai oleh pemberontakan, korupsi, perbuatan asusila sehingga dimusnahkan secara total oleh murka Allah. Dengan ini dinyatakan bahwa dosa dan pendurhakaan mereka pada hakikatnya telah menyerupai dosa Sodom dan Gomora, baik para pemimpin mereka yang tidak memberi contoh yang baik bahkan sebaliknya termasuk juga para imam dan nabi-nabi (Yes 28:7-22), maupun rakyat jelata, yang hidup di bawah penindasan dan tekanan pihak atasan, sehingga menjadi sama jahatnya. Walaupun demikian, mereka masih belum terkena hukuman seperti yang dialami oleh Sodom dan Gomora, melainkan anugerah TUHAN masih memanggi-manggil mereka untuk bertobat.

Ayat 11-15
Bagian ini merupakan suatu pendahuluan yang tepat sekali bagi apa yang hendak dikatakan dalam ayat 16. Pada ayat 11, teguran yang disampaikan amat mengejutkan mereka. Mereka mengira bahwa korban-korban yang diperbanyak dan dipergiat tentu akan memuaskan hati TUHAN dan mereka hanya menantikan kata-kata puji-pujian dari nabi. Mereka mengira bahwa korban-korban yang berlimpah-limpah itu mereka dapat “menutupi” dosa-dosa mereka dari ingatan mereka. Kurban-kurban yang sia-sia itu hanya untuk menghibur diri sendiri. Sungguh hebat sekali kurban bakaran itu yang terdiri dari domba-domba jantan dan anak-anak domba, kambing jantan. Korban-korban itu sendiri memang berkenan kepada Allah, yaitu sebagai tanda pengucapan syukur, penyesalan dosa atau penyerahan diri dalam ibadat yang benar kepada TUHAN. Akan tetapi di sini makna korban itu sudah kabur sama sekali, bahkan diselewengkan untuk maksud-maksud lain seperti yang disebut di atas, sehingga TUHAN berfirman, “Aku sudah jemu”. TUHAN tidak mau lagi memandang atau menerima korban-korban yang semacam itu (band Maz 51:18-19). Ibadat yang demikian memang nampak mewah dan berkelimpahan, tetapi secara rohani kosong belaka, bahkan merupakan suatu kemunafikan dan pendurhakaan. Inilah gejala dari apa yang disebut “eigenwillige godsdienst” yaitu suatu cara ibadat yang hanya disesuaikan dengan selera sendiri dan tidak didasarkan atas “firman dan pengajaran TUHAN Allah kita”. Pada ayat 12, mereka tidak lagi dipandang layak untuk menginjak Bait Allah yang suci (band Yer 7:11; Mark 11:15-17). Mereka tidak lagi sadar bahwa “menginjak halaman-Ku” berarti “menghadap ke hadirat-Ku”, bahwa menginjak Bait Allah itu bukanlah soal kebiasaan belaka, akan tetapi haruslah disertai dengan rasa “takut akan TUHAN”, dengan rendah hati, penyesalan, hormat, pengucapan syukur dan kesukaan yang besar. Bait Allah itu adalah wilayah suci dan milik TUHAN sendiri, selama Tuhan masih mau berkenan tinggal di dalamnya, Tuhanlah yang memanggil dan memperkenankan orang yang beriman datang beribadat di dalamnya.

Ayat 13-14, ayat-ayat ini melanjutkan kecaman Tuhan terhadap tindakan-tindakan kultus yang menjemukan (ay 11). Semua korban disebut “persembahan yang tidak sungguh-sungguh”, bahkan asap korban yang harum baunya “adalah kekejian bagi-Ku”. Tiga hal lagi yang disebut TUHAN, yaitu:
a. Bulan baru: pada tiap-tiap bulan yang baru diharuskan memberi korban bakaran (Bil 28:11, 14).
b. Sabbat – sebagai perayaan yang penting (Im 23:3).
c. Memanggil pertemuan-pertemuan kultus lain (Im 23:4)
Tuhan tidak bisa tahan lagi melihat itu semua, yaitu kedurjanaan dihubungkan dengan perhimpunan-perhimpunan ritual mereka. Kesabaran TUHAN masih membiarkan mereka itu, akan tetapi lama kelamaan merupakan suatu beban yang berat yang memenatkan Tuhan. Ayat 15, bahkan doa-doa mereka ditolak. Seperti juga dengan korban-korban mereka maka doa-doa mereka pun bersifat munafik (Maz 66:18). Tangan mereka berlumuran darah yaitu darah penindasan (ay 17) dan pembunuhan (ay 21). Walaupun demikian mereka menambah-nambah doa: suatu contoh kemunafikan yang sudah tebal.

Ayat 16-20
Pengajaran TUHAN (ay 10) tidak lain ialah: seruan untuk tobat, berbuat yang baik dan berita anugerah penghapusan dosa. Secara positif sekarang TUHAN yang mahakudus menyampaikan tuntutan-Nya agar umat-Nya membasuh dan membersihkan dirinya. Menurut hukum ritual pembasuhan diri merupakan suatu syarat untuk penyucian diri: agar para imam dipandang layak untuk menjalankan tugas-tugas ritual (Kel 20:4; 30:19), agar orang Israel disembuhkan dari sakit kusta agar diterima kembali dalam masyarakat (Im 14:8). Israel supaya membasuh tangannya (ay 15) yang berlumuran darah korban yang sia-sia, membasuh kakinya yang telah menginjak-injak halaman yang kudus secara sembrono (ay 12). Tetapi pembasuhan itu janganlah hanya merupakan suatu tanda lahiriah saja, namun penyucian itu harus menjadi umat yang suci dan yang menyucikan diri senantiasa. Isarel menyucikan diri dengan: meniadakan perbuatan-perbuatan yang jahat, antara lain dalam hubungan penindasan terhadap janda, anak piatu, orang miskin dan orang asing yaitu yang merupakan golongan-golongan yang lemah dan mudah menjadi korban penindasan; dan mencari, memperjuangkan, memberi dan belajar berbuat keadilan dan segala hal yang baik (ay 17). Dalam ayat 17 ada 3 hal yang dituntut:
- Menertibkan para penindas (atau dapat berarti menolong mereka yang ditindas).
- Membela kepentingan anak-anak piatu.
- Membela di muka pengadilan hak-hak para janda.

Ayat 18
Bagaimana hubungan ayat 18 dengan ayat 16-17? Tidakkah berarti bahwa terlebih dulu harus digenapi segala tuntutan radikal dalam ayat 16-17, kemudian mereka baru bisa dipanggil untuk menerima pengampunan. Ada pandangan lain yang menempatkan undangan TUHAN (ay 18a) sebagai penutup ay 17, yaitu untuk menguatkan tuntutan-tuntutan kesucian. Jika demikian pernyataan mengenai pengampunan dosa dalam sisa ayat 18 agak janggal. Setelah tuntutan-tuntutan mutlak dinyatakan dalam ayat 16-17 maka segera TUHAN mengundang mereka: “Datanglah kamu dengan keadaan yang ada padamu sekarang ini, yaitu berlumuran dengan darah kedurjanaan”. Mereka diundang supaya segera bertobat, karena TUHAN sedia mengampuni dosa-dosa mereka, betapa banyaknya pun dosa mereka itu. Berdasarkan pengenalan kasih ini, Israel diharapkan bisa menentukan sikapnya yang tepat dan bijaksana. Baiklah mereka kini mengakui saja dengan berterus terang dan sungguh hati akan segala dosa mereka. Lebih baik bertobat dari pada kemunafikan dan pengerasan hati.

Ayat 19-20
Sifat kondisional (ay 18) menjadi jelas dengan adanya syarat yang TUHAN ajukan. Israel supaya memberi jawaban yang baik. Israel dihadapkan dengan 2 alternatif:
1. Suka dan mau mendengar (menurut); akibatnya suatu kehidupan yang baru, yang dilukiskan dengan “makan hasil tanah yang baik”. Ini mengandung janji mengenai kelepasan dan pembaharuan tanah yang rusak (band ay 7), tanah yang aman dan sejahtera.
2. Enggan dan memberontak; akibatnya ialah kebinasaan, berhubungan dengan serbuan dan kemurkaan tentara Asyur.

Struktur Yesaya 1:10-20
Menurut Marvin A. Sweeney Yesaya 1:10-20 dibagi menjadi dua bagian besar yaitu;
Bagian I: Kenabian Taurat Pada Kekhasan Pelayanan Pada YHWH, 1:10-17
I. Panggilan untuk pengajaran ay 10
A. Pada “pemimpin-pemimpin Sodom” ay 10a
B. Pada “orang-orang Gomora” ay 10b
II. Ketetapan dari pidato taurat YHWH ay 11-17
A. Membuat/menyusun pertanyaan-pertanyaan retorikal yang diperlukan untuk pengajaran ay 11-12
1. Mengenai kebutuhan untuk korban ay 11
2. Mengenai permintaan untuk korban ay 12
B. Pengajaran/perintah ay 13-17
1. Pernyataan negatif ay 13-15
a. Larangan ay 13aa
b. Alasan-alasan untuk larangan ay 13ab-15
2. Pernyataan positif ay 16-17
a. Membersihkan diri ay 16aa1
b. Pemurnian diri ay 16aa2
c. Menghilangkan perbuatan-perbuatan yang jahat ay 16ab
d. Berhenti berbuat jahat ay 16b
e. Belajar melakukan yang baik ay 17aa
f. Mencari keadilan ay 17ab
g. Perlawanan yang benar ay 17aa
h. Memberi keadilan kepada anak yatim ay 17ba
i. Membela kasus janda ay 17bb

Bagian II: Seruan/Permohonan Untuk Memulai Cara Kerja Yang Sah, 1:18-20
I. Undangan untuk berubah ay 18a
A. Undangan yang sebenarnya ay 18aa
B. Pidato ucapan salam YHWH ay 18ab
II. Perluasan mengenai dorongan-dorongan untuk berubah ay 18b-20
A. Pernyataan-pernyataan mengenai dorongan ay 18b-20ba
1. Tawaran mengenai pemulihan/pertahanan umat YHWH ay 18b
a. Pernyataan pertama ay 18ba
b. Pernyataan kedua ay 18bb
2. Kondisi-kondisi umat YHWH ay 19-20ba
a. Positif ay 19
1). Kasus: orang yang taat ay 19a
2). Hasil positif ay 19b
b. Negatif ay 20a-ba
1). Kasus: orang yang tidak taat ay 20a
2). Hasil negatif ay 20ba
B. Rumus otoritas YHWH ay 20bb

5. Kesimpulan teologis
Kitab Yesaya menekankan hal kekudusan Allah (6:3). Nama yang paling sering dipakai untuk menyabut Allah adalah “Yang Maha kudus, Allah Israel”. Oleh karena itu, dasar nabi Yesaya adalah Allah adalah Yang Maha Kudus, oleh sebab itu Yesaya juga disebut sebagai nabi kekudusan (1:4; 5:16, dst). Allah adalah yang Maha Kudus itu berarti bahwa Dia begitu tinggi diagungkan di atas ciptaan-Nya sehingga Dia sangat berbeda dari ciptaan itu, bukan hanya kuasa-Nya, murka-Nya, kasih-Nya, kesetiaan-Nya, kesempurnaan moral-Nya dan segenap kebajikan-Nya. Kekudusan Yahweh adalah hakikat asasi dari keilahian-Nya, yang menyebabkan orang gemetar di hadapan-Nya apabila mereka menyembah Dia. Kenyataan bahwa Yahweh adalah ‘Maha Kudus Allah Israel’ mendapatkan hubungan yang tak kunjung hilang dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya. Di satu pihak Dia mengecam keras dosa Israel; di pihak lain Dia tidak memutuskan perjanjian-Nya dengan Israel. Yang Maha Kudus Allah Israel mengharuskan umat-Nya menguduskan Dia (8:13) dengan mempercayai hanya Dia satu-satunya, dengan menuruti perintah-perintah-Nya, dan dengan mengindahkan pesan nabi-nabi-Nya. Karena Yahwe telah mengikat perjanjian dengan Israel, maka dosa Israel adalah murni kemurtadan (1:2-4; 30:1-9). Dari pada merendahkan diri seperti sepatutnya di hadapan Yang Maha kudus Allah Israel, mereka angkuh dan sembrono (2:6; 3:8; 5:15, dsb). Dan Yesaya berulang-ulang menekankan bahwa dosa, dalam bentuk apapun dilakukan, pertama-tama dan yang paling mendasar ialah dosa terhadap Allah.
Yesaya mencela ibadah berlumur dosa; dia mengecam ibadah yang hanya memperlihatkan hal-hal lahiriah (1:10), persembahan-persembahan pada tempat-tempat tinggi (1:29), dan ibadah kafir (2:6-8; 17:7, dsb). Teristimewa pada masa paling awal pelayanannya, ia dengan tajam juga mengecam dosa-dosa dalam bidang sosial-penindasan atas orang-orang yang tidak berdaya, kemewahan yang berlebihan, kemabukan, dst (1:15-17, 20:1-23, dsb). Dalam arti tertentu pemberitaan mengenai hukuman dan pelepasan dibarengi syarat; bila orang Israel mengeraskan hatinya, hukuman akan menyusul; bila mereka bertobat, pengampunan dan keselamatan akan menjadi milik mereka (1:16). Keselamatan yang diberitakan oleh Yesaya mencakup pelepasan Yerusalem dari kehancuran besar, tapi pelepasan ini tidaklah penyelamatan yang sepenuhnya. Keselamatan yang dijanjikan dalam arti yang sepenuhnya adalah berdasarkan keampunan dosa (1:18), dan selanjutnya adalah hati yang diperbaharui (32:15), hidup yang sesuai dengan perintah-perintah Allah, dimahkotai dengan kebahagiaan dan kemuliaan. Dalam keselamatan ini Sion akan menempati kedudukan yang sentral, tapi bangsa-bangsa lain juga akan berpartisipasi dalamnya (1:19, 26).
Apa yang disampaikan oleh nabi Yesaya sewaktu dia menyampaikan peringatan ini, bukan karena Tuhan tidak mengasihi bangsa itu, tetapi karena dosa bangsa itu sudah hampir disamakan dengan dosa Sodom dan Gomora. Jadi tidak bisa lagi bangsa itu datang kepada Tuhan dengan penuh penyesalan, malah mereka datang ke hadirat Tuhan bahkan menginjak pelataran-Nya dengan berlumuran darah atau dosa yang mereka lakukan. Oleh karena itu, yang diharapkan di sini ialah bertobat dari segala kejahatan yang dilakukan bukan dengan mempersembahkan apa yang dimiliki yang menjadi jalan keselamatan.
Walaupun orang Israel harus dihukum oleh Tuhan, namun Yesaya juga menjelaskan bahwa hukuman itu dapat dihindari melalui pertobatan serta kepercayaan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan (1:18-20).

6. Hermeneutik penulis dalam konteks teks (relevan) pada waktu itu
Israel adalah bangsa pilihan Allah/umat pilihan Allah, yang melaluinya Allah ingin menyatakan keselamatan kepada semua bangsa di dunia. Namun, Israel sebaliknya melupakan segala kebaikan TUHAN itu, bahkan memberontak terhadap-Nya (1:23). Mereka melakukan ritual-ritual ibadah secara rutin, namun mereka melakukan hal-hal yang jahat di mata TUHAN terhadap sesama mereka. Hal inilah yang diperingatkan atau yang ingin diluruskan oleh Yesaya. Yesaya menyamakan umat Israel sebagai rakyat Sodom dan Gomora, yang penuh dengan kemerosotan moral, kemunafikan dan kemurtadan, sehingga TUHAN sudah merasa jemu terhadap sikap mereka itu. Dia memanggil mereka untuk bertobat dan berbuat keadilan dan kebenaran. Karena apa? TUHAN masih bersedia mengampuni segala dosa mereka.
Apa arti pencelaan yang tajam terhadap korban persembahan yang disampaikan Yesaya? Apakah Yesaya bermaksud memusnahkan ibadah korban itu dan menggantikannya dengan agama yang lebih rohani dan bersifat pribadi? Yang dicela Yesaya bukanlah lembaga-Bait Suci, hukum Taurat atau keimaman – tetapi apa yang telah dibuat orang terhadap lembaga-lembaga tersebut. Yesaya mengira bahwa tradisi-tradisi ini menjamin kebaikan hati Tuhan terhadap Israel, tanpa mempertimbangkan sikap dan perilaku mereka. Mereka menyangka bahwa Allah terikat kepada mereka dan bahwa tradisi-tradisi yang lahiriah ini merupakan jaminan kemurahan-Nya. Karena itu mereka terus menerus melakukan dosa; dengan kata-kata Yesaya mereka adalah “kaum yang sarat dengan kesalahan” (1:4). Yesaya tidak semata-mata mencela ibadah korban (1:16), di mana ia sebenarnya memakai ungkapan untuk pengudusan seremonial guna melambangkan pengudusan moral mereka, “Basuhlah, bersihkanlah dirimu”. Maksud nabi Yesaya lebih dalam dari sekedar mengritik agama yang formal: ia langsung menyebut inti persoalannya. Agama harus mengungkapkan persekutuan pribadi dengan Allah. Agama bekerja dalam suasana pengertian yang bersifat pribadi, menuntut keputusan pribadi dan penyerahan segenap diri. Yang terpenting, agama harus menghasilkan kehidupan moral yang benar. Oleh karena itu Yesaya mencela ibadah formal yang disertai ketidakadilan (1:11-15).

7. Hermeneutik penafsir sekarang dalam konteks sekarang
Yang menjadi sorotan atau teguran nabi Yesaya dalam Yesaya 1:10-20 adalah kesalahpahaman bangsa Israel akan makna ibadah yang sesungguhnya. Mereka mempersembahkan korban kepada Allah, tetapi hanya sebagai rutinitas semata. Selain itu tindakan atau perbuatan mereka tidak mencerminkan kehidupan umat Allah yang sesungguhnya, karena mereka melakukan ketidakadilan sosial. Itulah sebabnya Yesaya menyebut mereka “Sodom dan Gomora”. Namun dibalik semuanya itu, Yesaya masih memberikan pengharapan kepada Israel bahwa mereka akan diampuni oleh Allah apabila mereka bertobat.
Pada saat ini yang seharusnya menjadi sarana Allah untuk memberitakan suara kenabian adalah gereja . Gereja seharusnya bisa menadi wujud penyataan kasih Allah dan penyataan diri Allah bagi dunia ini. Agar dunia dapat mengetahui kebenaran ibadah yang sesungguhnya dan apa yang harus mereka lakukan terhadap sesama manusia dan terhadap Allah. Namun, kalau kita lihat konteks kehidupan jemaat pada saat ini, sebenarnya masih banyak cara beribadah atau cara kehidupan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya muncul istilah Kristen KTP, Kristen yang hanya identitas saja namun tidak mengerti makna Kristen itu sendiri. Banyak dari antara orang Kristen pada saat ini yang menyatakan percaya, rajin beribadah ke gereja, rajin memberikan persembahan/perpuluhan, rajin mengikuti persekutuan-persekutuan lainnya, tetapi cara hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Allah. orang Kristen masih banyak yang melakukan tindakan-tindakan kejahatan seperti; korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, perampokan, dll. Jadi dengan demikian, seolah-olah ibadah yang mereka lakukan kepada Allah hanyalah sebuah ibadah rutinitas saja dan ibadah menjadi sebuah alat untuk menutupi kejahatan mereka di luar gereja, dengan kata lain kehidupan Kristen yang dimiliki hanyalah sebuah kemunafikan. Memang betul, kita perlu memperkuat hubungan kita dengan Allah, namun Allah juga menuntut kita untuk melakukan hal-hal yang baik di dunia ini. Bahkan melalui Yesaya, Allah ingin agar setiap orang yang percaya melindungi dan memperhatikan orang-orang miskin seperti; anak-anak Yatim dan para janda.
Allah tidak menginginkan dan tidak menghendaki ibadah-ibadah kita yang penuh dengan kemunafikan. Allah tidak menginginkan persembahan yang kita berikan kepada gereja kalau hanya hasil dari perbuatan-perbuatan jahat seperti (hasil korupsi dan hasil mencuri). Begitu banyak orang Kristen pada saat ini yang melecehkan kekudusan Allah dengan cara memberikan persembahan dari hasil perbuatan jahat mereka. Banyak juga orang Kristen pada saat ini yang seolah-olah “menyuap” Allah dengan uang-uang yang mereka berikan ke gereja. Sekali lagi ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN ITU!! Allah hanya mau kita menyadari akan kekudusan-Nya dan bertindak sesuai dengan kekudusan Allah. Bahkan dikatakan bahwa “Allah muak melihat semuanya itu”.
Namun dibalik itu semua, Allah yang adalah Kasih masih memberikan kita kesempatan untuk bertobat. Allah masih mau mengampuni setiap orang percaya yang benar-benar mau bertobat. Tetapi pertobatan yang dituntut Allah di sini bukanlah pertobatan yang hanya bersifat sementara saja, atau hanya sebatas di ibadah saja. Allah mau kita menunjukkan sikap kita yang benar-benar mau bertobat dengan cara melakukan hal-hal yang baik kepada sesama kita. Tugas kewajiban orang Kristen terhadap masyarakat adalah melaksanakan dan mengerjakan kebenaran dan keadilan, memperjuangkan keadilan sosial dan menjunjung tinggi serta membangun mental yang baik. Dan pada saatnya, kita akan melihat hasil ketaatan dan kasih Allah itu dalam kehidupan kita dan kehidupan orang yang kita layani.
Tetapi, setiap orang yang tetap mengeraskan hatinya dan tidak mau bertobat kepada Allah, akan mendapatkan penghukuman dari Allah, yaitu kematian yang kekal.

1 komentar: