Jumat, 23 April 2010

Ilustrasi Kotbah

17 03 2007

Kemuliaan Allah, Apa Artinya?
Posted by: Joas Adiprasetya in Kotbah
Mazmur 8
Mazmur 8 ini diawali dan diakhiri dengan puji-pujian yang sama: Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi.” Kita terlalu biasa mendengar orang berkata, “demi kemuliaan Allah.” Doa-doa kita juga kerap latah memakai kalimat, “…demi kemuliaan Allah.” Apa artinya saudara-saudara? Apa artinya “demi kemuliaan Allah?”
Izinkan saya mengajukan dua kritik terhadap kelatahan kita itu.
1. Kita terlalu biasa memakai kalimat “demi kemuliaan Tuhan” dalam doa, nyanyian dan ibadah kita. Kita membatasi arti “kemuliaan Tuhan” hanya dalam ibadah-ibadah kita. Seolah-olah hanya dengan doa, nyanyian dan ibadah kita bisa memuliakan Tuhan. Soalnya justru pada kehidupan setiap hari. Apakah masih ada artinya “kemuliaan Tuhan” ketika ibu memasak, anak bersekolah dan bapak bekerja?
2. Kita sering punya salah konsep bahwa kemuliaan Tuhan berarti bahwa Tuhan suka dengan puji-pujian kita. Hati-hati, saudara, jangan-jangan, tanpa sadar, kita memandang Tuhan sebagai Allah yang haus pujian, butuh pujian, ingin dipuji. Seorang berkata, konsep kemuliaan Allah dalam kekristenan sudah menjadikan Allah sebagai Tuhan yang egosentris. Seolah-olah Tuhan memakai manusia untuk memuliakan diriNya. Allah tak butuh itu.
Saya akan pakai ilustrasi ini.
Pak Anton seorang yang kaya dan baik hati. Ia melihat Lusi tidak memiliki biaya untuk meneruskan kuliah. Lalu Pak Anton membiayainya. Setelah selesai, Lusi bekerja dan sukses. Apakah Lusi “wajib” dan “harus” memuji Pak Anton? Ya! Tapi apakah itu berarti Pak Anton membantu Lusi karena ingin dipuji? Tentu saja tidak. Itu kesimpulan yang tidak logis, salah dari segi hukum logika.
Allah itu baik dan kita memuliakan Tuhan karena kebaikanNya. Tapi tidak berarti Allah baik agar kita memuliakan Dia. Itu salah besar. Allah sungguh sempurna, hingga tak perlu segala pujian kita. Tanpa puji-pujian kita, Allah pada hakikatNya memang mulia.
Kalau begitu apa arti paling hakiki dari kalimat “demi kemuliaan Allah?” Mari kita lihat Mazmur 8 ini. Kalimat “betapa mulianya namaMu di seluruh bumi” ada pada ayat 2 dan 10. Di antaranya ada 7 ayat yang berbicara tentang siapa manusia sebenarnya. Pada intinya ada dua bagian penting.
Bagian 1, ayat 3-5, menceritakan keberadaan manusia yang demikian kecil dan hina. Dibanding semesta yang begitu luas, manusia sungguh tak ada artinya. Saya sering memikirkan bahwa semesta ini dibanding galaksi bimasakti kita seperti ruangan gereja ini dibanding sebuah titik kecil. Padahal, galaksi bima sakti kita dibanding dengan bumi kita ini sama seperti ruangan ini dibanding sebuah titik kecil. Padahal bumi kita ini dibanding Joas sama seperti ruangan ini dibanding sebuah titik kecil jadi, semesta ini, dibandingkan manusia, maka manusia ini titiknya titiknya titiknya semesta. Sungguh-sungguh kecil dan hina.
Jadi, ayat 3-5 ini ingin mengajar manusia untuk tahu diri.
Tahu dong kalau kita ini lemah, dibanding semua semesta ini, apalagi dinading pencipta semesta ini.
Bagian 2, yaitu ayat 6-9, berbicara lain. Meskipun manusia kecil dan hina, Tuhan mengingatnya dan mengasihinya. Jadi, kita diajak untuk punya harga diri. Tahu dong, kita ini, meskipun hina, sungguh dihargai Allah.
Perpaduan antara sikap tahu diri dan harga diri inilah yang membuat manusia bisa melihat diri sebagai gambar dan rupa Allah, citra Allah. Kalau cuma tahu diri (tahu kita ini lemah), tanpa diimbangi dengan sikap harga diri (tahu kita ini dihargai Allah, maka manusia akan selalu minder, tak bisa menghargai hidup ini.
Sebaliknya sikap harga diri tanpa diimbangi sikap tahu diri, hanya membuat manusia sombong dan congkak. Dan karena itu bisa meremehkan sesama.
Karena itu hati-hati dengan sikap kita terhadap sesama. Ketika Anda menghina sesama Anda, melecehkan mereka, merugikan mereka. Anda sedang berurusan dengan Allah, Pencipta sesama kita. Kita sedang merendahkan kemuliaan Allah.
Ketika Anda hidup serampangan, merusak kehidupan Anda, merendahkan martabat Anda. Anda sedang berurusan dengan Allah. Kita sedang merendahkan kemuliaan Allah.
Dengan kata lain, perpaduan sikap tahu diri dan bangga diri ini mengajar manusia untuk melihat diri sebagai manusia yang utuh dan benar-benar manusiawi. Apa artinya kalau dalam Kejadian 2 dikatakan manusia itu gambar Allah? Artinya, manusia sungguh berarti kalau Ia hidup secara manusiawi. Dan itulah kemuliaan Allah.
Jadi, Kita punya dua kalimat sekarang. Satu: kemuliaan Tuhan. Dua: manusia yang manusiawi. Apa hubungannya? Saya ingin mengutip ucapa Ireneus pada abad pertama. Ia berkata: Gloria Dei, Homo vivens. Artinya: Allah dimuliakan ketika manusia hidup sebagai manusia. Maka kebalikannya, jika manusia tidak hidup sebagai manusia yang manusiawi, hidup sebagai gambar Allah, maka ia tidak memuliakan Allah.
Nah, sekarang kita melihat arti paling mendasar dari “kemuliaan Allah.” Jika kita tidak berusaha untuk hidup sebagai manusia sejati, maka kita tidak memuliakan Allah. Atau, jika kita membuat sesama kita hidup tidak sebagai manusia, atau, kita membuat kehidupan sesama tidak manusiawi, kita tidak memuliakan Allah.
Allah tak butuh dimuliakan. Tapi, Allah setuju untuk dimuliakan, hanya jika mereka yang memuliakan Tuhan berani hidup manusiawi dan membuat sesamanya bisa manusiawi hidupnya.
Hati-hati dengan lagu-lagu pujian kita, yang penuh dengan kalimat “kemuliaan Allah.” NKB 6, 7, 16. KJ 2, 4, 5, 6, 7, 13 dsb. Kita akan lelah mendaftar lagu-lagu yang mengajak kita memuliakan Allah. Lagu-lagu itu bagus dan kita diminta menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Namun lagu itu bisa juga menjadi sarana kita untuk meremehkan kemuliaan Allah, ketika, pada saat yang sama, kita memperlakukan PRT kita semena-mena, kita merendahkan isteri dan anak kita. Atau kita sendiri hidup tidak sebagai manusia yang sebenarnya.
Gloria Dei, homo vivens. Kemuliaan Allah hanya bisa diakui ketika kita memperjuangkan kehidupan manusia agar manusiawi.
2 Comments »
17 03 2007

Kesuburan: Antara Produktivitas dan Kemandulan
Posted by: Joas Adiprasetya in Kotbah
Yohanes 15:1-8
SATU
1.   Kita hidup dalam dunia yang bergelut antara produktivitas di satu sisi dan kemandulan di sisi lain.
Produktivisme
2.   Produktivitas membuat manusia dinilai dari apa yang dihasilkannya. Karyawan yang tak produktif dianggap merugikan perusahaan. Anak yang sudah dewasa namun tak produktif dianggap menjadi beban bagi keluarga. Produktivitas kemudian menjadi ukuran keberhasilan hidup. Dan untuk itu kita berusaha sekeras tenaga untuk menghasilkan sesuatu, semakin banyak dan semakin banyak lagi. Produktivitas adalah bukti hasil kerja kita; bukti kemampuan manusia.
“Ini Bapak Anu, direktur perusahaan A.”
“Ini Ibu Anu, penulis terkenal.”
“Ini anak keluarga Anu. Dia juara kelas!”
Intinya, produktivisme - paham yang menempatkan produk sebagai mahkota kehidupan - sesungguhnya menghasilkan devaluasi kemanusiaan. Manusia hanya dinilai dari apa yang dihasilkannya. Manusia kemudian sekedar menjadi mesin produksi. Ini pernah dan masih terus terjadi sampai sekarang. Para buruh dikenal bukan lagi dengan nama mereka, namun dari nomor yang mereka kenakan. Kemakmuran sebuah negara diukur dari seberapa jauh penduduk usia produktif bisa sungguh-sungguh memberi hasil.
Jadi ada dua hal yang menjadi inti dari produktivisme.
• Orang dinilai dari apa yang dihasilkannya, bukan dari apa adanya dia.
• Orang berusaha produktif dengan kekuatannya sendiri.
Kemandulan
3.   Di sisi lain, akibat budaya produktivisme ini, kemandulan dianggap sebagai momok yang menjijikkan. Anak-anak dipandang belum bernilai karena belum produktif. Mereka, anak-anak itu, dirawat hanya dengan harapan, esok jika sudah dewasa bisa memberi hasil buat orangtua. Maka, semakin banyak anak, semakin terjamin hidup masa depan. Anak menjadi investasi.
Sedang yang paling dicampakkan adalah orangtua dan orang cacat. Mereka semakin tidak dipedulikan karena tidak menghasilkan, dan malah dianggap beban yang hanya menyusahkan saja. Perempuan dianggap membawa sial jika tidak bisa memproduksi anak bagi sang suami. Maka, di banyak masyarakat, suami berhak menceraikan isteri yang tak bisa memberi anak.
DUA
4.   Saudara-saudara yang terkasih, firman Tuhan kita pagi ini berbicara tentang kesuburan. Kesuburan yang sejati mengatasi kemandulan sekaligus mengatasi produktivisme.
Kesuburan Menolak Kemandulan
5.   Pada ayat 2 dikatakan, “Setiap ranting yang tidak berbuah, dipotong-Nya.” Kristus ingin agar hidup kita tidak mandul, namun subur, berbuah. Hal ini ditegaskan pada ayat 6, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”
Hidup subur berarti hidup berarti bagi orang lain. Mengapa? karena kita diciptakan untuk suatu maksud, yaitu memuliakan Allah. Karena itu, setelah Yesus memakai gambaran pohon anggur ini, Ia berkata pada ayat 8, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak.”
Seseorang bisa menjadi “orang Kristen yang mandul” ketika ia tidak berbuah, tidak mau memberi dan hanya mau menerima firman Tuhan. Itu sebabnya Yesus mengkritik para murid pada ayat 3, “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” Dalam acara Malam Perenungan AIDS di gereja kita minggu lalu, muncul satu adegan tentang seorang pendeta, yang dengan toganya yang tak pernah kotor, memakan Alkitab, untuk menggambarkan orang kristen yang hanya doyan melahap firman Tuhan, untuk membuat dirinya bersih dan suci, gemuk dengan firman Tuhan. Sampai di sini tidak masalah. Setiap orang Kristen memang perlu memiliki kerinduan dan haus untuk menerima firman Tuhan. Tapi Yesus mengritik orang-orang semacam ini, karena tidak mau keluar dari “ruang makan firman Tuhan” dan hidup memberi buah bagi sesama.
Kesuburan Menolak Produktivisme
6.   Tetapi pada saat yang sama kesuburan sejati menolak produktivisme. Ayat 4 menyatakan, “…Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Ranting tidak bisa berbuah dari dirinya sendiri. Dan ini yang secara tepat ingin dilakukan banyak orang dalam budaya produktivitas. Dengan kekuatan sendiri menghasilkan produk. Karena itu menjadi produktif tidak sama dan bahkan berlawanan dengan hidup subur-berbuah.
Kesuburan: Lemah, namun Berbuah dari Tuhan
7.   Tetapi kalau kita perhatikan, bagaimana sebenarnya konsep firman Tuhan mengenai kesuburan? Ada satu konsep kunci yang diulang-ulang dalam bacaan kita ini. Yaitu: “Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalammu.” Ayat 4,5,7. Dengan tinggal di dalam Kristus dan kristus di dalam kita, kita berbuah. Di satu sisi, kita tidak mandul, karena kita berbuah. Di sisi lain, kita atidak terjebak dalam budaya produktivisme, karena buah yang kita hasilkan, bukan karena usaha kita, tapi karena Kristus yang memberi buah.
Galatia 5 memberi gambaran lain tentang hal ini … buah Roh: buah yang dihasilkan dari Roh Kudus. Kita memang perlu berusaha, namun jika kita berbuah, itu bukan karena hasil langsung usaha kita, namun karena Allah bekerja melalui kita.
Baptis-Sidi dan Pekan PI
8.   Hari ini ada dua momen penting bagi jemaat ini. Yang pertama adalah Baptis-Sidi bagi sebagian anak-anak dan saudara kita. Biarlah firman Tuhan ini memberi bekal dan keteguhan hati bagi saudara-saudara yang akan menerima pelayanan baptis dan sidi, bahwa Allah telah dipilih untuk menjadi anak Tuhan. Tetaplah tinggal di dalam Kristus dan biarlah Kristus tinggal di dalam hidupmu, bersahabatlah terus dengan Kristus, maka hidupmu akan berbuah.
9.   Yang kedua, kita minggu ini memasuki Pekan PI. Mengapa kita harus melakukan PI? Karena kita tak mau mandul. Kita mau berbuah. Tapi kita sungguh-sungguh harus mawas. PI bukan mesin yang memproduksi orang Kristen baru. Hidup berbuah tidak sama dengan mengkristenkan. Ada sebuah STT yang saya tahu di Jawa Tengah. Para mahasiswanya jika mau naik tingkat atau lulus harus memenuhi target menjadi sekian orang menjadi Kristen. Jika target tidak dipenuhi maka, mereka tidak bisa lulus. Alhasil, saya pernah bertemu dengan salah satu mahasiswa yang bahkan “merendahkan” makna Injil dengan menawarkan iming-iming tertentu pada orang-orang tertentu agar mereka mau jadi Kristen. PI, adalah menawarkan Injil bagi sesama. Dan biarlah Roh Kudus sendiri yang bekerja dalam hati orang itu.
No Comments »
17 03 2007

Perjumpaan dengan Yesus: Sebuah Proses Menoleh
Posted by: Joas Adiprasetya in Kotbah
Kotbah Paskah Subuh 2002
Yohanes 20:11-18
SATU
Tema Masa Paskah kita adalah “Perjumpaan dengan Yesus.” Selama enam minggu kita melihat bagaimana Yesus berjumpa -atau tepatnya menjumpai- banyak orang di sekeliling-Nya. Perjumpaan dengan Nikodemus, Perempuan Samaria, Maria-Marta, Kayafas, Orang yang terlahir buta serta Yakobus-Yohanes.
Apa yang sama dari semua perjumpaan itu, yang pertama, adalah bahwa Yesus menjumpai mereka secara pribadi. Inisiatif mulai dari Allah dan mengundang jawaban manusia. Inilah intipati iman kristen. Manusia tidak mungkin menjumpai Allah kecuali jika Allah yang pertama-tama menjumpai manusia. Perjumpaan itu bukan seperti perjumpaan di tempat-tempat publik, di “meeting point” di mana dua orang berjanji bertemu. Tidak. Perjumpaan dengan Yesus adalah perjumpaan yang asimetris, tidak seimbang, karena inisiatif selalu datang dari satu pihak: Yesus. Baru kemudian muncul respon dari manusia.
Yesus yang sama menjumpai Anda. Jika Anda selama ini bergumul mencari Allah, percayalah, kita tidak akan bertemu dengan-Nya. Kecuali, jika Allah dalam Yesus yang pertama-tama menjumpai kita. Kesalahpahaman kita selama ini adalah menyangka bahwa Allah atau Yesus belum menjumpai kita. Ini keliru. Di atas salib itulah Allah menjumpai semua manusia, bersama-sama sekaligus secara personal. Hanya saja, kita mugkin terlalu sibuk dengan diri kita, terlalu sibuk dengan tangisan kita, seperti yang terjadi dalam diri Maria. Atau juga, kita tidak menyangka bahwa Yesus menjumpai kita dengan cara yang lain. Kita membuat patokan bahwa jika Allah menjumpai kita, tentu harus melalui cara-cara yang ajaib, supranatural dan menghebohkan. Ia menjumpai kita secara unik dan kadang tak terduga. Bahkan, di sebuah kisah Injil, dikatakan bagaimana Ia menjumpai kita melalui sesama kita, yang lapar, haus, telanjang dan terpenjara. Dan kita tidak mengenali-Nya.
Yang kedua, Yesus selalu menjumpai manusia dalam keunikannya masing-masing. Yesus menjumpai setiap orang dalam kelebihannya dan dalam kelemahannya. Ia berbicara secara teologis dengan Nikodemus, karena Nikodemus seorang teolog. Ia menghargai Maria dan Marta yang berbeda karakternya. Yang satu pendengar Firman, yang lain pelaku firman. Ia menjumpai seorang buta dalam persoalan yang dipikul selama belasan tahun. Ia menjumpai Anda dan saya dalam keunikan kita masing-masing. Menjumpai Anda dan saya dengan menyebut nama kita.
Yang ketiga, Yesus yang menjumpai kita mengundang respon kita. Apapun respon itu. Nikodemus, orang yang buta sejak lahirnya, Maria Magdalena meresponnya dengan positif. Kayafas sebaliknya, mereposnnya dengan negatif. Perjumpaan dengan Yesus adalah moment of truth, karena kita tidak bisa bersikap abstain. Hanya bisa kita memilih entah ya entah tidak.
Dan yang terakhir, keempat, perjumpaan dengan Yesus melibatkan sebuah proses tolehan, berpaling, berbalik. Dari fokus pada hal-hal lain menuju fokus pada Dia. Dan inilah yang secara tersurat muncul dalam kisah penampakan Yesus ada Maria Magdalena. Dan untuk itu mari kita memasuki pada kisah ini.
DUA
Pagi ini, teks Paskah kita berbicara tentang Maria Magdalena yang menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus. Kita bisa mendekati teks ini dengan meihat isi hati Maria melalui bahasa tubuhnya … melalui ekspresi fisiknya.
Tahukah anda betapa pentingnya mengenal isi hati seseorang dari bahasa tubuhnya. Ini bentuk komunikasi paling universal dan paling kuno. Saya dan bekas pacar saya juga punya kisah tentang bahasa tubuh ini. Ketika dulu kami pacaran, setahun kemudia saya harus pindah ke Jakarta untuk studi. Kali pertama saya berkunjung ke Yogyakarta, setelah beberapa bulan tidak bertemu, merupakan saat-saat yang mendebarkan hati. Saya sudah membayangkan bagaimana sambutannya. Saya bayangkan seperti di film-film roman. Dia akan tampak antusias, berbunga-bunga, mungkin dengan cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri). Pokoknya heboh. Hari itu ketika saya berkunjung … eh ternyata biasa saja tuh. Senyum tapi tidak seheboh yang saya bayangkan. Padahal itu hari ulang tahunnya. Saya sengaja mencoba romantis, membawa sekuntum bunga anggrek. Yah, ternyata sambutannya biasa-biasa saja. Kecewa. Oh, ya, bekas pacar saya ini sekarang sudah jadi isteri saya. Dan setelah menikah ternyata lain. Luar biasa … lebih dahsyat dari yang saya bayangkan.
Ternyata memang ada orang yang ekspresif, menunjukkan isi hatinya secara blak-blakan dan ada yang sebaliknya, seperti tanpa ekspresi walaupun hatinya meledak-ledak.
TIGA
Kisah ini dimulai dengan kata “tetapi …” Mengapa tetapi? Ayat sebelumnya (ay. 8-10) dikatakan bahwa dua murid melihat kubur Yesus yang sudah kosong dan mereka percaya. Bukan percaya bahwa Yesus telah bangkit, tapi percaya bahwa memang jasad Yesus sudah diambil orang. Mereka sedih? Tentu. Tapi mereka juga rasional. Tak ada yang bisa dilakukan lagi. Yang terjadi terjadilah. Entah kubur Yesus masih utuh atau jasad Yesus sudah diambil orang, tidak berarti banyak. Yesus masih mati. Maka mereka pulang ke rumah. Mau apa lagi?
Tetapi … Maria berbeda. Dia tidak pulang ke rumah. Lihat bahasa tubuhnya. Ia “berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu.” Saya tidak mampu melukiskan isi hati Maria. Campuran antara kesedihan dan karena itu menangis, ketidakrelaan karena raibnya tubuh Yesus, rasa tidak percaya, sampai ia mencoba menjenguk dan melihat sekali lagi. Namun, apapun perasaan Maria, saya yakin pada lapis terdalam … hatinya penuh dengan cinta. Cinta yang menyakitkan, cinta yang melukai. Hati dan pikirannya dipenuhi oleh sosok Yesus. Yesus yang mati!
Itu sebabnya ketika Yesus menampakkan diri … Maria tidak mengenalinya. Amat menarik di sini ada bahasa tubuh yang kedua: menoleh atau berpaling. Dua kali dikatakan Maria menoleh atau berpaling. Yang pertama, dalam keadaan menangis sedih (ay. 14) Maria menoleh. Tangisannya membuat dia tidak sadar bahwa yang dilihatnya adalah Yesus. Disangkanya orang itu adalah penunggu taman. Ini tolehan yang pertama. Tolehan ke arah kubur, ke arah kematian. Tolehan kasih yang terluka. Kalaupun dalam tolehan pertama ini harapan, namun harapan yang sempit, hanya harapan bahwa ia bisa menemukan Yesus yang mati.
Ini tolehan yang paling banyak muncul di dunia, di dalam kehidupan begitu banyak orang. Menoleh, mencari Allah yang benar, namun tidak mengenali-Nya. Tolehan yang tidak mengubah kehidupan secara radikal, karena fokus hidup masih pada tangisan, keputusasaan dan kesedihan dan nasib diri sendiri. Saya menyebutnya “Tolehan Salib.”
Tolehan jenis ini ada manfaatnya juga, ketika kita juga melihat kesedihan dan keputusasaan orang lain. “Ikut menangis bersama dengan orang yang menangis.” Solidaritas semacam ini mutlak dibutuhkan oleh orang-orang yang terlibat dalam penderitaan orang lain, membela hak orang lain, berjuang demi martabat sesama. Namun solidaritas ini saja tidak banyak berguna, karena tidak memberi pengharapan.
Akan tetapi kemudian dicatat tolehan yang kedua, ayat 16. Dan tolehan kedua ini muncul karena Yesus yang bangkit itu menyapa Maria dengan nama-Nya. Maria, Miriam, Maryam atau Mara berarti kepahitan dan penderitaan. Hidupnya memang dipenuhi kepahitan. Sebelum berjumpa dengan Yesus, ia terikat oleh tujuh roh jahat. Setelah lebih-kurang dua tahun masa kebahagiaan bersama Yesus, Rabi yang membebaskannya kini mati. Dia kembali ke dalam kepahitan hidup.
Tetapi kini namanya disebut. Dan ia tahu tak seorang menyebut dia sehalus dan selembut itu selain Yesus, Tuhan dan Pembebasnya. Tuhan selalu menyebut kita dengan nama kita. Yesaya 43:1 mengatakan, “Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” Menyebut nama adalah tindakan kasih, penghargaan dan penerimaan. Maria disebut namanya. Ia dikasihi, dihargai dan diterima sebagai sahabat Yesus.
Karena itu di ayat 16 disebutkan tolehan Maria yang kedua. Tolehan pengharapan. Tolehan luka yang disembuhkan. Bukan lagi tolehan ke arah kubur, namun tolehan ke arah Sang Kehidupan. Karena itu Maria merespon sapaan Yesus dengan sapaan yang juga personal, dengan memakai bahasa Ibunya, bahasa Ibrani, “Rabuni, Guru.” Terjadi perjumpaan yang amat-amat pribadi. Saya menamakannya “Tolehan Paskah” atau “Tolehan Kubur Kosong.”
Sebenarnya muncul tolehan yang ketiga, yang terakhir, yang saya namakan “Tolehan Misi.” Yesus mengutus Maria, menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya. Pada ayat 18 kemudian dikatakan, Maria pergi, meninggalkan Yesus dan menyaksikan kebangkitan, “Aku telah melihat Tuhan.” Tanpa tolehan terakhir ini iman pada Kristus yang bangkit hanya menjadi iman yang egois, iman yang individualistik, iman yang tidak berbuah.
EMPAT
Kata menoleh atau berpaling ini (dalam bahasa Yunani: “strepho“) adalah kata yang penting dalam Alkitab. Pertama menunjukkan gerakan fisik. Tapi yang kedua juga menunjukkan gerakan hidup. Ada perubahan radikal berbalik dalam semua dimensi hidup. Tolehan fisik Maria ini sebenarnya menunjukkan pembalikan hidup Maria. 1 Tes 1:9 menunjukkan makna radikal dari “strepho” ini, “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik (strepho) dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar,”
Berpaling atau menoleh bukan hanya bergeser atau berbelok. Tapi berbalik 180 derajat. Sebuah gerakan “U Turn”. Sebuah transformasi hidup. Dan itulah Paskah.
Saudaraku, Paskah berarti bahwa Allah menoleh dan berpaling pada Anda secara pribadi maupun bagi seluruh dunia ini. Ia merindukan tolehan kita, karena Ia sudah menyapa kita dengan nama kita. Tolehan apa yang kita lakukan untuk menjawab berita Paskah ini? Tolehan kesedihan dan keputusasaan atau tolehan kebangkitan dan sukacita? Kenali Yesus yang bangkit itu. Tak perlu lagi Yesus disalibkan, agar kita mengulang peristiwa tolehan Maria ini. Ia mati dan bangkita sekali untuk selama-lamanya. Sekarang saatnya bagi kita untuk brsedia dijumpai oleh Yesus. Berpalinglah lewat tolehan yang penuh harapan dan sukacita.
Dan lebih dari itu, jangan jadikan kekristenan kita menjadi agama egois. Saatnya bagi kita juga untuk menoleh pada sesama kita. Tidak lagi asyik-masyuk dengan urusan kita sendiri. Entah urusan iman atau urusan perut kita sendiri. Keduanya sama-sama egois. Jika tidak dibarengi dengan tolehan kepada sesama. Karena di sanalah sekali lagi kita jumpai Kristus yang bangkit. Amin.

Browse » Home » Artikel , Bahan Komsel , Khotbah , Renungan » IA TELAH BANGKIT SAMA SEPERTI YANG TELAH DIKATAKANNYA
Sunday, April 12, 2009
IA TELAH BANGKIT SAMA SEPERTI YANG TELAH DIKATAKANNYA
MATIUS 28:1-7

Perkataan ini adalah perkataan malaikat kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain (Ibu Yakobus) ketika menjelang fajar menyingsing mereka pergi untuk melihat kubur Yesus. Tetapi mereka kemudian disambut oleh malaikat dan berkata bahwa Yesus telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakanNya.

Ada beberapa hal luar biasa yang kita bisa merenungkan dari perkataan malaikat tersebut: “Ia telah bangkit, sama seperti yang dikatakan-Nya.”

I. Ia telah bangkit, sama seperti yg telah dikatakan-Nya, membuktikan bahwa Yesus tidak berdusta.

Seandainya Yesus tidak bangkit dari antara orang mati, maka semua yang dikatakan-Nya adalah kebohongan belaka. Tetapi syukurlah bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati, jadi semua yang dikatakan-Nya adalah benar.

Untuk itu orang percaya dapat berpegang kepada semua perkataan Yesus / firman Allah, karena Ia tidak bohong. Apa yang dikatakan-Nya: Ia dan Amen, Bil. 23:19.

Jangan berpegang kepada kebohongan Iblis, misalnya: Allah membenci engkau, engkau tidak berharga, engkau tidak akan pernah berhasil dalam melakukan apapun dll

II. Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya, menjelaskan betapa luar biasanya kuasa perkataan dengan iman.

Benarlah Amsal 18:20-21 – mati hidup dikuasai lidah (perkataan) siapa suka menggemakannya/memperkatakannya akan memakan buahnya.

Contoh: Abraham, ketika Allah menguji kepercayaannya untuk mempersembahkan Ishak, anaknya yg tunggal, yg dikasihi Abraham sbg korban bakaran di gunung Moria, ia mengatakan kepada bujangnya: tinggallah kamu disini…kami akan kembali kepadamu. Selanjutnya ia mengatakan kpd Ishak ketika Ishak bertanya dimana anak domba utk korban bakaran, Abraham menjawab: Allah yg akan menyediakan anak domba utk korban bakaran, Kej. 22:1-8

Yesus, sebelum Ia mati di salib, dan dikuburkan dan bangkita dari antara orang mati, Ia telah mengatakan bahwa Ia akan bangkit. Artinya sebelum pengalaman kebangkitan-Nya secara nyata dialami-Nya dari kematian-Nya, Ia telah terlebih dahulu mengatakannya.

Prinsip yang sama berlaku di dalam kehidupan kristiani kita. Kita harus mengenal sifat-sifat Allah melalui Firman-Nya dan selanjutnya memperkatakannya dan itu akan dinyatakan di dalam kehidupan kita, Kol. 3:16.

III. Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya, menjelaskan Yesus adalah Allah yang Maha tahu.

Yesus mengatakan bahwa Ia akan mati, kemudian bangkit pada hari ketiga pada saat Ia belum mengalami peristiwa tersebut. Menjelaskan bahwa Ia adalah Allah yang maha tahu

Contoh lain: ketika menjelang perjamuan paskah, Luk. 22:7-13; Yesus tahu hati manusia dan hati kita, Yoh. 2:24-25

Karena Yesus adalah Allah yang Maha tahu, marilah kita sungguh2 mengasihi dan beribadah kepada Dia

Karena Yesus Maha tahu, maka Ia tahu dan mengerti segala kebutuhan, permasalahan, keadaan kita, jadi berharaplah kepada Dia.

IV. Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya, menjelaskan bahwa kematian tidak berkuasa atas Yesus, 1 Kor. 15:54

Seperti yang dialami oleh Yesus, juga dialami oleh orang percaya, artinya: orang peraya yang mati di dalam Tuhan Yesus akan mengalami kebangkitan tubuh seperti Kristus.
Ini adalah salah satu pengharapan orang percaya, mereka relah menderita bahkan mati demi pengharapan yang luar biasa ini.

Jika sekarang kita menderita karena iaman kepada Tuhan Yesus, sabarlah pasti Tuhan akan memberikan kekuatan dan kelepasan, dan pada suatu saat ketika kita tetap setia dan meninggal didalam kesetiaan kepada Tuhan Yesus, maka kita akan mengalami kebangkitan tubuh seperti Yesus Kristus.

Sumber: Khotbah Pdt. Dias Pora Padang, M.Th (Senior Pastor GSJA "Kemuliaan") dalam kebaktian perayaan Paskah 12 April 2009.


Topik : Misi/Penginjilan
9 November 2002
Kesaksian yang Kuat
Nats : Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen! (Kisah Para Rasul 26:28)
Bacaan : Kisah Para Rasul 26:12-29
Seorang ilmuwan Inggris bernama Thomas Huxley (1825-1895) sangat giat mendukung teori evolusi, sehingga ia mendapat sebutan "anjing buldognya Darwin". Sebagai seorang agnostik, ia percaya bahwa agama adalah takhayul yang berbahaya.
Pada suatu hari Huxley bertanya kepada seorang kristiani yang sangat taat, "Apa arti imanmu bagimu?" Orang itu tahu kalau Huxley adalah orang yang skeptis. Ia diam sejenak, kemudian menjawab, "Anda sangat berpendidikan, dan Anda bisa menentang apa pun yang saya katakan."
Huxley terus mendesaknya untuk menjelaskan mengapa ia menjadi seorang kristiani. Maka dengan tulus hati, orang itu menceritakan arti Yesus bagi dirinya. Huxley begitu tersentuh sehingga ia tidak mampu mendebatnya. Ia berkata dengan sungguh dan tulus, "Saya kagum akan iman Anda kepada Yesus."
Ada dua pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman di atas. Pertama, kita boleh saja menghargai pengetahuan, tetapi kita tahu bahwa pendidikan formal tidak seharusnya digunakan untuk menguji iman yang menyelamatkan dan mengubah hidup (Efesus 2:8,9). Kedua, sering kali kesaksian sederhana yang keluar dari lubuk hati lebih efektif daripada penjelasan ilmiah.
Ketika Rasul Paulus berdiri di hadapan Raja Agripa, ia bercerita bagaimana Yesus telah mengubah hidupnya. Agripa sangat tersentuh mendengarnya (Kisah Para Rasul 26:28).
Jangan ragu-ragu menceritakan kepada sesama akan arti Yesus bagi diri kita secara pribadi —Vernon Grounds
UNTUK BERSAKSI PADA SESAMA APA YANG DAPAT KRISTUS LAKUKAN,
CERITAKANLAH KARYA KRISTUS DALAM HIDUP ANDA
30 November 2002
Misi yang Terutama
Nats : Barangsiapa yang berseru kepada nama tuhan, akan diselamatkan (Roma 10:13)
Bacaan : Roma 10:1-15
Medtronic adalah salah satu perusahaan teknologi obat-obatan yang berkembang dengan pesat di amerika serikat sepanjang tahun 1990-an. dilihat dari segala ukuran kesuksesan: harga saham, penghasilan yang meningkat, dan pendapatan per saham, perusahan tersebut memang berkembang pesat.
dalam sebuah artikel majalah world traveler (penjelajah dunia), pemimpin perusahaan, art collins, mengatakan, "dengan sebuah kalimat misi yang berbunyi: perusahaan berusaha untuk ‘mengurangi rasa sakit, memulihkan kesehatan, dan memperpanjang hidup’, medtronic lebih dari sekadar bertujuan mencari uang .... saat kita meneliti kembali sejumlah kriteria kesuksesan, satu-satunya kesuksesan paling penting bagi kami adalah bahwa setiap 12 detik, hidup seseorang menjadi lebih baik karena memakai salah satu produk atau terapi kami."
para pengikut kristus juga memiliki misi yang serupa. kita memiliki pesan yang mampu mengubah hidup untuk dinyatakan kepada orang-orang yang mau mendengarnya (roma 10:9-15).
setiap hari, orang-orang di seluruh dunia diselamatkan dari dosa dan konsekuensi-konsekuensinya melalui iman kepada tuhan yesus. misi kita sebagai pengikut-nya adalah untuk menjadi utusan yang "membawa kabar baik" (ayat 15), mewartakan tentang yesus kristus, sang juruselamat kepada orang lain. tidak ada misi lain yang lebih berharga, karena "barangsiapa yang berseru kepada nama tuhan, akan diselamatkan" (ayat 13).
apakah anda melakukan peran anda untuk mewujudkan misi ini? –dave egner
TIDAK ADA KABAR YANG LEBIH BAIK SELAIN INJIL,
WARTAKANLAH KE SELURUH DUNIA!
8 Januari 2003
Orang yang Tak Layak
Nats : ... mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Markus 1:16,17)
Bacaan : Markus 1:16-20
Anak Allah tidak hanya dilahirkan di tempat yang tidak layak dan dengan orangtua yang kita anggap tidak layak, tetapi Dia juga memilih para pengikut-Nya di tempat yang tidak layak. Dia tidak mencari murid di sekolah-sekolah agama untuk mendapatkan murid yang terpelajar. Dia tidak mendekati para negarawan yang cakap dan para orator yang terkenal. Sebaliknya, Yesus pergi ke Danau Galilea dan memanggil empat nelayan biasa, yakni Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. "Pilihan yang buruk," kata sebagian orang. "Orang-orang yang tidak terpelajar. Orang-orang yang keras. Apa mereka tahu bagaimana memulai suatu gerakan yang mendunia? Mereka bahkan takkan mampu mengendalikan orang banyak jika mereka harus melakukannya."
Kini, atas nama para nelayan di mana pun berada, saya katakan bahwa mereka sebenarnya memiliki banyak sifat positif. Mereka adalah orang- orang yang panjang akal, berani, dan sabar. Mereka adalah orang-orang yang membuat rencana dengan hati-hati dan selalu memelihara peralatan kerja mereka. Sifat seperti itu sangat membantu dalam melaksanakan Amanat Agung (Matius 28:19,20), tetapi saya rasa bukan karena itu Yesus memilih orang-orang tersebut. Saya yakin Dia ingin memperlihatkan bagaimana Allah dapat mengubah orang biasa menjadi "penjala manusia" (Markus 1:16,17).
Pekerjaan Allah sering kali dilakukan oleh orang-orang yang kita anggap tak layak dari tempat yang tak layak pula, yakni seperti Anda dan saya. Untuk mencapai keberhasilan, kita harus mengikuti Dia yang dapat menjadikan kita penjala manusia --David Egner
ALLAH MEMAKAI ORANG BIASA
UNTUK MENGERJAKAN PEKERJAAN YANG LUAR BIASA
24 Januari 2003
Bahagia Tanpa
Nats : Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan (1Timotius 6:9)
Bacaan : 1Timotius 6:6-11
Seorang filsuf Yunani kuno, yakni Socrates (469-399 S.M.), percaya bahwa jika Anda sungguh-sungguh bijak, Anda tidak akan terobsesi oleh kekayaan. Untuk mempraktikkan apa yang ia khotbahkan secara ekstrem itu, ia bahkan menolak untuk mengenakan sepatu.
Socrates suka mengunjungi pasar, tetapi ia hanya memandang beraneka ragam pakaian yang dipamerkan dengan penuh kekaguman. Saat seorang teman bertanya mengapa ia demikan terpesona, ia menjawab: "Saya suka pergi ke sana dan menyadari betapa saya bahagia meski tak memiliki banyak hal yang ada di sana."
Sikap di atas bertentangan dengan iklan yang terus-menerus menyerang mata dan telinga kita. Para pemasang iklan menghabiskan jutaan rupiah untuk mengatakan bahwa kita takkan bahagia bila tidak memiliki produk terbaru mereka.
Rasul Paulus menasihati anak rohaninya, Timotius, demikian, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah" (1 Timotius 6:6-8). Jika kita terpikat pada harta benda, Paulus memperingatkan, kita bisa melenceng dari iman dan frustrasi karena keinginan daging (ayat 9,10).
Marilah kita bertanya pada diri sendiri, "Hal-hal apakah yang meski tidak kumiliki tapi tidak mengurangi kebahagiaanku?" Jawaban atas pertanyaan ini akan mengungkapkan banyak tentang hubungan kita dengan Tuhan dan kepuasan kita terhadap Dia --Vernon Grounds
KEPUASAN BUKAN BERASAL DARI HARTA YANG BERLIMPAH
TETAPI DARI KEINGINAN YANG SEDIKIT
27 Januari 2003
Alasan dan Risiko
Nats : Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal (2Timotius 2:10)
Bacaan : 2Timotius 2:1-13
Saat itu seperti mimpi buruk saja rasanya. Sebuah truk tangki dengan muatan 2.500 galon gas propana terbakar saat diparkir di gudang penyimpanan bahan bakar. Jilatan Api menyambar-nyambar kira-kira 9 sampai 12 meter dari bagian belakang truk dan segera menjalar ke dok pengisian. Segera beberapa tangki di dekatnya juga terancam meledak.
Pada saat itu, setelah menolong sopir truk yang mengalami luka bakar cukup parah, si manajer gudang penyimpanan tersebut segera melompat masuk ke dalam truk dan mengendarai truk yang terbakar itu menjauh dari gudang. Tindakannya yang cepat dan berani ini berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang.
Rasul Paulus juga mempertaruhkan nyawanya demi orang lain (2 Timotius 2:10). Ia dilempari batu dan dibiarkan mati (Kisah Para Rasul 14:19). Pada kesempatan lain ia dikeroyok, disesah, dan dipenjara (16:22,23). Tiga kali kapalnya kandas, dan beberapa kali ia dicambuk dan dipukul dengan tongkat (2 Korintus 11:23-28). Mengapa Paulus rela menanggung penderitaan semacam ini? Karena mengingat tentang api kekal dan kehidupan kekal, maka dengan senang hati ia menanggung risiko itu.
Apakah kita dapat memandang bahaya seperti cara pandang Paulus? Adakah kita memanfaatkan berbagai kesempatan untuk menyelamatkan banyak orang yang membutuhkan kabar baik tentang Kristus? Adakah kita memiliki tujuan yang sama seperti Paulus, yang rela menanggung segala perkara demi mereka yang terhilang? --Mart De Haan II
MEMANG BERISIKO UNTUK BERADA DI UJUNG DAHAN
TETAPI JUSTRU DI SITULAH LETAK BUAHNYA
17 Maret 2003
Mary dan Allah
Nats : Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23)
Bacaan : Kolose 3:22-4:6
Senyum cerah dan suara riangnya di pagi hari tampak tidak biasa bagi seorang pekerja toko diskon pada bagian pengecekan. Saya menatap tanda pengenalnya. Untuk memastikan bahwa saya tidak salah baca, saya kemudian mencoba untuk melihat lebih dekat. Di label namanya tertulis: MARY-N-GOD [Mary dan Allah]. Lalu saya bertanya apakah ia dan Tuhan bekerja bersama. “Oh, ya!” ujarnya tegas. “Dia bekerja bersama saya, berjalan bersama saya, dan berbicara dengan saya. Dan kami pun berbagi hidup yang luar biasa. Tanpa Dia, saya tidak dapat berbuat apa-apa.”
Mary adalah teladan Kristus yang menarik dan gambaran nyata dari Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.” Meskipun tidak menjadi pusat perhatian, Mary, melalui sikap dan tindakannya, memberi kesaksian kepada ratusan orang setiap hari. Mimbar yang dipakai Mary adalah gerai pengecekan, dan senyumannya ibarat kalimat pembuka khotbah yang penuh kekuatan tentang perbedaan yang telah diperbuat Kristus dalam hidupnya. Jika ada yang bertanya, dengan senang hati ia akan mengatakan banyak hal kepada mereka.
Ketika saya menceritakan tentang Mary kepada istri saya, ia berkata, “Saya pikir ia mungkin orang yang kedudukannya terbelakang di dunia ini, tetapi ia akan menjadi orang terdepan di surga.” Saya sependapat dengannya.
Kita pun dapat menjadi saksi yang efektif apabila kita mengenal, mengasihi, dan berjalan bersama Kristus, seperti yang dilakukan Mary - -David McCasland
SUKACITA DI BALIK PERKATAAN KITALAH
YANG ACAP KALI MEMBUAT KESAKSIAN KITA TAMPAK NYATA
22 Maret 2003
Hanya Pewarta
Nats : Mereka yang tersebar itu menjelajah ke seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 8:4)
Bacaan : Kisah Para Rasul 7:5-8:8
Tokoh utama di film Up Close And Personal adalah seorang reporter berita TV yang mati saat berjuang mencari berita di medan perang. Setelah kematiannya, ia dikenang karena ucapannya, “Saya dulu berpikir bahwa melaporkan berita adalah suatu kebanggaan. Ternyata, saya di sini hanya untuk mengabarkan berita.”
Dalam Kisah Para Rasul 8, dikisahkan orang kristiani di Yerusalem tersebar hingga ke berbagai negeri untuk menghindari hukuman mati. Mereka mewartakan Injil ke mana pun mereka pergi (ayat 4). Saulus, salah satu penganiaya mereka, justru bertobat dan menjadi rasul. Menjelang akhir hidupnya, Saulus yang kemudian disebut Paulus, memutuskan untuk pergi ke Yerusalem, meski ia tahu di sana ia akan dihukum mati. Namun Paulus tak merasa gentar dan mengatakan bahwa tujuannya adalah “untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kisah Para Rasul 20:24).
Allah masih memanggil kita untuk mengabarkan Kabar Baik tentang Yesus kepada mereka yang belum mengenal Dia. Dalam bukunya yang berjudul The Conversion of the Church (Perubahan Gereja), Samuel Shoemaker menulis, “Jiwa manusia yang lapar adalah suatu permintaan. Dan pemenuhannya adalah kasih karunia Allah. Kita hanyalah penyalur.” Namun kita tidak bekerja sendiri atau hanya mengandalkan kekuatan manusia. Allah bekerja di dalam kita (Filipi 2:13).
Kesaksian kita bagi Kristus hendaklah dilakukan dengan kasih dan kerendahan hati, serta didorong oleh hasrat bagi kemuliaan Dia, bukan bagi kita. Kita hanyalah pewarta --Joanie Yoder
ALLAH TELAH MENEMPATKAN KITA DI DUNIA INI
UNTUK BERSAKSI PADA DUNIA
9 Mei 2003
Terangilah Dunia
Nats : Kamu adalah terang dunia (Matius 5:14)
Bacaan : Efesus 5:8-14
Pada suatu malam, putri saya Julie bersama temannya mengendarai mobil dari kampus mereka menuju kota terdekat. Dalam perjalanan, mereka melewati daerah yang sangat gelap karena arus listrik sedang terputus. Rasanya begitu asing dan menakutkan mengendarai mobil melewati daerah yang gelap seperti itu.
Ketika mereka meninggalkan daerah itu, mereka melihat cahaya di depan mereka. Sinarnya bagaikan mercusuar. Dan saat sampai ke sumber cahaya itu, mereka terkejut bercampur senang saat mendapati bahwa satu-satunya cahaya dalam kegelapan itu berasal dari sebuah gereja. Sebuah rumah ibadah sedang menerangi dunia di sekitarnya.
Seperti itu pulalah seharusnya orang melihat kita sebagai orang kristiani. Dalam dunia yang gelap karena dosa, kita diharapkan dapat menjadi terang yang bercahaya dan mengundang orang-orang untuk datang mendekat. Yesus telah membawa kita keluar dari kegelapan, dan Dia mengatakan bahwa kita, para pengikut-Nya, adalah "terang dunia" (Matius 5:14). Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita hidup "sebagai anak-anak terang" (Efesus 5:8).
Ini adalah tantangan besar yang harus membuat kita memikirkan secara serius bagaimana kita hidup. Tanyakanlah pada diri Anda sendiri, "Sudahkah saya menjadi terang bagi hidup orang lain? Apakah hidup dan perkataan saya menuntun orang-orang keluar dari kegelapan dan datang kepada terang Yesus?"
Dunia ini gelap, tetapi kita memiliki terang. Sudahkah kita menerangi sekeliling kita? --Dave Branon
HIDUP ANDA DAPAT MEMANCARKAN TERANG
ATAU MENGUSIR KEGELAPAN
19 Mei 2003
Menggembalakan Domba Yesus
Nats : Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? ... "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yohanes 21:17)
Bacaan : Yohanes 21:15-19
Apa yang membuat kita tetap bertahan melayani Tuhan di gereja dan komunitas kita saat terjadi situasi yang sukar? Kita mungkin peka terhadap kebutuhan orang lain, tetapi itu tidak cukup. Kita juga tidak boleh membiarkan diri dikendalikan oleh kebutuhan kita, yakni keinginan untuk dihargai dan dicintai orang lain. Hanya Allah yang dapat me-menuhi kebutuhan kita yang amat besar itu. Semakin kita mencoba memuaskan kebutuhan kita dengan cara apa pun, bahkan dengan pelayanan sekalipun, kita malah semakin tidak puas.
Bahkan kasih kepada umat Allah, yang adalah domba-domba-Nya, takkan membuat kita bertahan. Masalahnya, terkadang manusia kehilangan kasih dan tidak tahan uji. Kita bahkan bisa membuat mereka kecil hati.
Satu-satunya pendorong yang cukup bagi pelayanan kita adalah kasih kepada Tuhan dan kasih Kristus yang menguasai kita (2Korintus 5:14). Tak ada motivasi lain. Dalam buku My Utmost for His Highest, Oswald Chambers menulis, "Jika kita melayani demi manusia, kita akan mudah jatuh dan patah hati, ... tetapi jika motivasi kita untuk melayani Allah, kita akan selalu melayani sesama dengan penuh rasa syukur."
Dalam salah satu percakapan terakhirnya dengan Petrus, Yesus bertanya kepadanya, "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Petrus menjawab, "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Lalu Yesus berkata, "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yohanes 21:17) .
Apakah Anda termotivasi oleh kasih kepada Kristus? --David Roper
MENGASIHI KRISTUS BERARTI MELAYANI DIA
22 Mei 2003
Bersinarlah!
Nats : Akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yohanes 8:12)
Bacaan : Matius 5:14-16
Pengarang Anne Lamott pernah menulis bahwa orang-orang yang ia kagumi memiliki "tujuan, hati, keseimbangan pikiran, rasa syukur, sukacita .... Mereka mengikuti cahaya yang lebih terang, bukannya cahaya redup lilin dari diri mereka sendiri; mereka adalah bagian dari sesuatu yang indah."
Menurut pengalaman saya, orang-orang seperti itu tidak hanya religius. Mereka adalah para murid Kristus yang taat. Yesus menjelaskan mengapa para peng-ikut-Nya memancarkan sifat seperti itu. "Akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mem-punyai terang hidup" (Yohanes 8:12). De-ngan mempercayai Yesus sebagai Juruselamat, kita dapat menyinari dunia. Yesus mengajarkan, "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga" (Matius 5:16).
Bukan berarti kita harus selalu menunjukkan keceriaan semu. Banyak di antara kita tidak memiliki watak ceria. Namun, dengan kekuatan Roh Kudus kita dapat menjadi seperti jemaat kristiani yang disurati Paulus, "Kamu bercahaya di antara mereka" (Filipi 2:15). Dan seperti yang diucapkan Fransiskus Asisi, "Tuhan, jadikanlah daku pembawa damai, bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih, ... bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang."
Sama seperti bulan yang memantulkan sinar matahari, hendaklah kita yang percaya dan mengikut Sang Juruselamat dapat mencerminkan Dia, yang adalah terang dunia --Vernon Grounds
DUNIA YANG GELAP MEMBUTUHKAN TERANG INJIL
19 Juni 2003
Cukup Setiakah?
Nats : Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata, "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" (Yesaya 6:8)
Bacaan : Yesaya 6:8-13
Seorang misionaris muda di Amerika Tengah tergoda untuk menyerah. Ia menulis kepada teman-teman dan sanak saudaranya, "Pada siang hari saya berlayar dengan sebuah kapal ikan. Malamnya saya tidur di atas tumpukan kulit binatang di geladak kapal. Namun, orang-orang sepertinya tidak tertarik pada Injil yang saya sampaikan. Kadang- kadang iblis menggoda dan mematahkan semangat saat saya merasa seolah-olah gagal." Namun ia menambahkan, "Lalu saya bangkit dan bertekun kembali, karena saya ingat bahwa Allah tidak meminta pertanggungjawaban atas keberhasilan, tetapi kesetiaan kita."
Nabi Yesaya pun barangkali tergoda untuk menyerah karena mendapat tugas yang sulit. Tuhan mengatakan bahwa setelah ia menjalankan tugas, orang-orang akan mendengar, tetapi mereka tidak akan mengerti, melihat tetapi tidak akan tanggap (Yesaya 6:9). Hati mereka menjadi keras, telinga mereka tidak mendengar, dan mata mereka tertutup (ayat 10).
Bayangkan bila Anda menjadi Nabi Yesaya atau misionaris itu. Apakah Anda akan terus berusaha atau menyerah? Apakah Anda cukup setia, atau Anda pikir pekerjaan Anda harus terlihat berhasil agar Anda merasa puas dalam melayani Tuhan? Lihatlah, sang nabi dan misionaris di atas hanya melakukan dengan setia apa yang Tuhan perintahkan.
Mereka menyampaikan firman Allah dan yakin pada tujuan-Nya. Anda juga dapat menjadi pelayan yang setia seperti mereka. Lakukan saja yang terbaik dan biarkan Tuhan menentukan hasilnya --Albert Lee
DUNIA MEMAHKOTAI KEBERHASILAN
ALLAH MEMAHKOTAI KESETIAAN
24 Agustus 2003
Uang Receh?
Nats : Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus (1Korintus 12:24)
Bacaan : 1Korintus 12:12-27
Sepasang suami-istri di Washington, DC, mengundang teman-teman mereka ke sebuah pesta. Karena acara itu diadakan untuk pengumpulan dana bagi aksi sosial, para tamu diminta membawa uang receh yang mereka miliki. Jadi, mereka membawa koin-koin yang ditemukan dalam kardus, stoples kue, kantong plastik, dan beberapa kaus kaki tua di rumah mereka. Semuanya berjumlah lebih dari 1.500 dolar.
Beberapa orang menemukan uang receh yang berserakan di rumah mereka senilai lebih dari 30 dolar. Namun sesungguhnya semua orang Amerika memiliki uang receh yang terabaikan senilai kurang lebih 7,7 miliar dolar. Dan para peneliti berkata bahwa hal yang sama terjadi di berbagai negara lain di dunia.
Bagi saya, hal itu menjadi ilustrasi yang indah bahwa sesungguhnya secara kolektif, sebagai satu keluarga besar, seluruh orang percaya dalam Kristus sangatlah kaya dan berharga. Alkitab acap kali menyebut gereja sebagai "tubuh Kristus" dan berkata bahwa "segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh" (1 Korintus 12:12).
Oleh karena itu, setiap orang adalah bagian yang penting dan berharga dari satu kesatuan. Kadang kala kita mungkin merasa tidak berarti, tidak diperlukan, dan bernilai rendah seperti uang receh. Namun sebagai bagian yang membentuk satu kesatuan, setiap diri kita diperlukan (ayat 15-22).
Setiap orang adalah pribadi yang unik. Sebagai orang kristiani kita juga merupakan bagian yang sangat penting dari tubuh Kristus, dan bernilai lebih tinggi dari yang kita ketahui --David McCasland
TIDAK ADA ANGGOTA YANG TIDAK PENTING
DI DALAM TUBUH KRISTUS
15 September 2003
Apakah Anda Letih?
Nats : Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati (2Korintus 4:1)
Bacaan : 2Korintus 4:1-10
Saya pernah membaca sebuah kisah tentang seorang pendeta dari gereja kecil di pedesaan Skotlandia. Ia telah dipaksa keluar oleh para penatua di gerejanya karena dianggap tidak menghasilkan buah dari pelayanannya. Desa tempat pendeta itu melayani merupakan tempat yang sulit. Penduduk desa itu bersikap dingin dan memusuhi kebenaran. Selama pelayanan sang pendeta di desa tersebut, tidak terjadi pertobatan maupun baptisan. Namun, pendeta itu mengingat kembali satu respons positif terhadap khotbahnya.
Suatu ketika piring persembahan diedarkan dalam kebaktian, dan seorang anak laki-laki meletakkan piring itu di lantai, lalu berdiri di atasnya. Saat diminta menjelaskan mengapa ia melakukan hal itu, anak itu menjawab bahwa ia berbuat demikian karena sangat tersentuh oleh kehidupan sang pendeta. Dan karena ia tak punya uang untuk dipersembahkan, ia ingin memberi diri sepenuhnya bagi Allah.
Anak kecil yang berdiri di atas piring persembahan itu adalah Bobby Moffat, orang yang pada tahun 1817 menjadi pelopor utusan Injil di Afrika Selatan. Ia dipakai Allah secara luar biasa untuk menjamah kehidupan banyak orang. Padahal semua ini dimulai dari gereja kecil tersebut dan kesetiaan pelayanan pendeta yang tidak dihargai itu.
Mungkin Anda tidak melihat buah pekerjaan Anda bagi Tuhan. Namun, tetaplah setia! Jangan menjadi tawar hati. Sebaliknya, mintalah supaya Allah menguatkan Anda dengan kuasa-Nya (2 Korintus 4:1,7). Dia akan memberikan tuaian sesuai dengan waktu dan jalan-Nya jika Anda tidak berputus asa (Galatia 6:9) --David Roper
TUAIAN YANG MELIMPAH MEMBUTUHKAN PELAYANAN YANG SETIA
10 Oktober 2003
Epitaf
Nats : Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar (Yohanes 10:41)
Bacaan : Yohanes 10:40-42
Perikop ini menyiratkan Yohanes Pembaptis setidaknya telah meninggal 2 tahun dan kenangan pelayanannya mulai pudar. Demikianlah bila seorang tokoh telah meninggal dan kemasyhurannya pudar oleh kehadiran penerusnya yang lebih terkenal.
Ketika orang banyak mengelilingi Yesus di dekat tempat Yohanes pernah mengajar, mereka ingat kehidupan dan perkataan sang pembaptis, lalu berkata, "Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar" (Yohanes 10:41).
Seperti Yohanes, kita tak harus membuat berbagai mukjizat untuk memberitakan Yesus kepada orang banyak. Kita dapat menceritakan apa yang telah kita pelajari tentang Dia dari Alkitab, apa yang telah dilakukan-Nya untuk mengubah hati dan hidup kita, serta untuk orang lain. Jika kita menyampaikan kabar baik tentang Yesus dengan setia, kita telah menjalankan tujuan hidup dengan baik.
Bahkan lama setelah kita mati, perkataan kita dapat terekam dalam benak orang-orang yang pernah mendengar kesaksian kita, dan dapat menjadi sarana untuk membawa mereka beriman kepada Tuhan Yesus. Seperti benih yang terpendam di tanah, firman Allah yang telah kita tabur mungkin tidak bertumbuh selama bertahun-tahun, tetapi akhirnya bersemi dan membawa pada kehidupan kekal.
Perkataan orang menjadi epitaf [pernyataan singkat di batu nisan] terkenal tentang hidup seseorang: "Ia tidak membuat satu mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakannya tentang Yesus adalah benar" --David Roper
BERJALAN BERSAMA YESUS MENINGGALKAN JEJAK KAKI
UNTUK DIIKUTI ORANG LAIN
11 Oktober 2003
Menjala
Nats : Yesus berkata kepada mereka, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Matius 4:19)
Bacaan : Matius 4:18-22
Seorang pemancing yang mahir mengayun-ayunkan tali pancing di atas kepalanya. Lalu ia melepaskan tali itu dan menurunkan umpan seperti lalat itu ke permukaan air, tepat di tempat yang ia inginkan. Apabila ia berhasil, seekor ikan rainbow trout [ikan air tawar] besar akan muncul ke permukaan, menyambar umpan, dan si pemancing akan menarik kail itu. Ya, sebuah pertempuran sedang berlangsung!
Itu tadi adalah salah satu cara menangkap ikan. Pemancing ikan halibut [ikan di bagian utara Laut Atlantik dan Pasifik] menggunakan metode yang berbeda. Mereka pergi ke samudra dan menurunkan kail yang telah diberi umpan besar, kadang-kadang sedalam 38 atau 45 meter. Bila salah satu ikan besar pipih itu menyambar umpan dan tersangkut kail, ia akan diseret ke permukaan.
Yesus berkata kepada Petrus dan Andreas untuk mengikuti Dia dan menjadi "penjala manusia" (Matius 4:18,19). Sebagai pengikut Kristus masa kini, kita pun sedang "menjala" orang-orang di dunia, menggunakan berbagai cara yang berbeda untuk menyebarkan kabar baik. Kita memberitakan kepada pria dan wanita, keluarga dan teman, tua dan muda, tentang dosa-dosa mereka, kasih Allah, serta tawaran keselamatan-Nya melalui iman dalam Yesus.
Apakah Anda sedang menjala manusia? Sudahkah Anda mencoba cara yang berbeda untuk memberitakan Kristus dan Injil kepada orang lain? Sudahkah Anda memberitakan kabar baik kepada tetangga dan masyarakat? Tetaplah mengikuti Yesus, dan Dia akan mengajarkan kepada Anda bagaimana caranya menjala manusia --Dave Egner
JIKA ANDA MENGIKUTI SANG JURUSELAMAT
DIA AKAN MENGAJAR ANDA BAGAIMANA MENJALA MANUSIA
14 Oktober 2003
Cahaya Kecil Saya
Nats : Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga (Matius 5:16)
Bacaan : Matius 5:11-16
Garis pantai Danau Michigan (tak jauh dari tempat tinggal saya) ditandai dengan mercusuar-mercusuar yang dibangun untuk membantu para kapten kapal mengemudikan kapalnya menuju pelabuhan yang aman. Bangunan-bangunan itu memiliki ukuran, bentuk, dan warna yang bervariasi, tetapi masing-masing mempunyai daya tarik dan keindahan yang unik. Foto-foto mercusuar terpampang di dalam berbagai buku serta kalender, dan sebagian orang mengoleksi replika serta benda- benda lain yang berhubungan dengan mercusuar.
Namun tujuan dibangunnya mercusuar tidak hanya untuk dikagumi, melainkan untuk menyorotkan sinar yang akan menuntun para pelaut menuju tempat yang aman. Mercusuar sangat bermanfaat dan dihargai manakala orang dapat melihat terangnya, dan bukan bangunannya, di tengah kegelapan malam.
Ketika mengutus para murid-Nya, Yesus menyebut mereka "terang dunia" (Matius 5:14). Dia juga menunjukkan bahwa tugas mereka bukanlah menarik perhatian orang-orang untuk diri mereka sendiri, melainkan melakukan perbuatan yang baik sehingga orang-orang akan mengenal kebaikan Allah dan memuliakan-Nya. Yesus berkata bahwa seperti lampu yang berfungsi sebagai penerang, demikianlah hendaknya terang kita bercahaya (ayat 15,16). Kita menjadi sangat efektif ketika bersinar terang di tengah kegelapan, membimbing orang yang membutuhkan pelabuhan aman di dalam Kristus.
Agar terang menjadi efektif, terang itu harus bercahaya di tempat yang gelap --Julie Link
CAHAYA KECIL MEMBUAT PERBEDAAN
DI TENGAH MALAM YANG SANGAT KELAM
1 November 2003
Membiarkan Lampu Menyala
Nats : [Yohanes] datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh Dia semua orang menjadi percaya (Yohanes 1:7)
Bacaan : Yohanes 1:1-14
Suatu kali sebuah grup motel memasang iklan serial di radio yang diakhiri dengan kata-kata yang menenteramkan, "Kami akan membiarkan lampu tetap menyala bagi Anda." Ibu pun biasa mengatakan hal yang sama kepada saya.
Terkadang saya pulang larut malam dari kerja pabrik atau dari kampus. Apa pun alasannya atau pada jam berapa pun, saya selalu mendapati lampu beranda tetap menyala. Cahaya hangatnya seakan berkata, "Inilah tempatmu. Di sini ada seseorang yang mengasihimu. Kau sudah di rumah."
Yesus mengatakan bahwa kita, yang mengenal Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan, adalah terang dalam dunia yang digelapkan dosa (Matius 5:14-16). Kita adalah cerminan Kristus Sang "Terang yang sesungguhnya" (Yohanes 1:9).
Seperti Yohanes Pembaptis yang bersaksi tentang Terang itu dan memimpin orang-orang kepada Yesus (ayat 7), kita pun dapat seperti dia. Jalan ketaatan kita yang setia kepada-Nya adalah mercusuar kasih dan kebenaran Allah. Hidup dan ucapan kita menjadi cahaya hangat yang menembus dunia yang dingin dan gelap ini. Kita bagaikan lampu beranda di malam hari yang menarik orang-orang yang belum percaya kepada Yesus, meneguhkan mereka bahwa ada Pribadi yang mengasihi mereka dan menanti untuk menyambut kedatangan mereka di rumah.
Mungkin salah satu anggota keluarga Anda masih ada dalam kegelapan. Mungkin Anda prihatin terhadap kawan atau rekan kerja Anda. Jangan berhenti mendoakan mereka. Teruslah berusaha menarik perhatian mereka kepada Tuhan. Pastikan lampu tetap menyala bagi mereka --Dave Egner
ANDA DAPAT MENARIK ORANG KEPADA KRISTUS
APABILA HIDUP ANDA MEMANCARKAN TERANG-NYA
16 November 2003
Menangani Kritik
Nats : Tetapi Tuhan mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan Tuhan berfirman kepadaku, "Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel" (Amos 7:15)
Bacaan : Amos 7:7-15
Saat kita bertumbuh dewasa, kadang-kadang kita menjadi terbiasa dengan cara kita sendiri sehingga tidak mau mengaku saat berbuat salah. lebih buruk lagi, jika tidak berhadapan langsung dengan orang lain, kita selalu mencela dan berusaha meremehkan pandangan-pandangan mereka.
Sebagai contoh, ada sebagian orang yang bila tidak sependapat dengan seorang pendeta, mereka tampaknya cepat sekali mengkritik motivasi pendeta itu dalam melakukan sesuatu. mereka bahkan menganggap pendeta itu hanya mencari bayaran.
Kecaman semacam ini pernah dialami Amos kira-kira tahun 750 SM. Saat itu Nabi Amos menyampaikan peringatan yang keras mengenai penghakiman Allah atas Israel. Oleh karena itu, wajar bila pesannya tidak disukai. Seorang imam di Betel bernama Amazia merasa terganggu dan menyuruh Amos kembali ke Yehuda. Amazia menuduh Amos sebagai nabi bayaran, yang berkhotbah hanya untuk mencari nafkah (ayat 7:12). Amos menanggapi pernyataan itu dengan berkata bahwa ia bernubuat semata-mata karena Allah memintanya untuk berbicara (ayat 15).
Jika kita adalah pengkhotbah atau pemimpin, kita harus melayani Tuhan dengan setia seperti yang Amos lakukan, bahkan sekalipun tugas itu tidak menyenangkan, tidak disukai, atau ditolak oleh jemaat kita. Dan jika kita adalah bagian dari jemaat, kita harus memastikan bahwa saat mendengar sesuatu yang tidak kita setujui, sebenarnya kita tidak menentang apa yang Tuhan inginkan untuk kita dengar dan lakukan.
Demikianlah cara menangani kritik --Albert Lee
JANGAN TAKUT MENGHADAPI KRITIK JIKA ANDA BENAR
JANGAN MENGABAIKANNYA JIKA ANDA SALAH
21 November 2003
Berikan Hati Anda
Nats : Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani (Roma 9:3)
Bacaan : Roma 9:1-5
Felipe Garza berusia 15 tahun ketika mendonorkan jantungnya. Kekasihnya Donna Ashlock sakit keras dan perlu transplantasi jantung. Suatu hari Felipe mengatakan hal yang aneh kepada ibunya, "Aku akan mati, dan akan memberikan jantungku kepada kekasihku." Tiga minggu kemudian, ia meninggal secara tiba-tiba karena pembuluh darah di otaknya pecah. Dokter mengambil jantung Felipe dan mencangkokkannya pada tubuh Donna, untuk menyelamatkan nyawanya.
Cinta pemuda itu kepada kekasihnya menggambarkan harapan Paulus terhadap saudara-saudara sebangsanya kaum Yahudi. Ia pun mengatakan akan memberikan hidupnya agar orang lain memperoleh hidup. Yang dimaksudkan Paulus adalah kehidupan kekal. Ia mengatakan bahwa jika mungkin (walau ia tahu itu tidak mungkin), ia rela kehilangan keselamatan kekalnya jika itu dapat menyelamatkan orang-orang yang sangat ia kasihi (Roma 9:3).
Sekalipun Paulus ingin menyelamatkan orang-orang yang dikasihinya dari keterpisahan kekal dengan Kristus, ia tak dapat menanggung maut bagi orang-orang sebangsanya. Namun, ungkapan kasihnya mengingatkan kita akan tindakan Yesus Kristus. Dia benar-benar menanggung maut bagi kita. Dia bahkan mengurbankan hidup-Nya agar kita beroleh hidup.
Tuhan, kami tahu, kami tidak bisa mengurbankan nyawa untuk menyelamatkan orang lain. Namun dengan Roh-Mu, beri kami kasih untuk lebih mempedulikan kesejahteraan kekal orang lain daripada hanya mempedulikan kesenangan sementara bagi hidup kami sendiri. bagi-Mu dan mereka, kami memberikan hati kami --Mart De Haan
MEREKA YANG MENGASIHI KRISTUS
MEMBERIKAN HATI UNTUK ORANG-ORANG YANG TERHILANG
22 November 2003
Hidup yang Diteladani
Nats : Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: ... baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita (Roma 12:6)
Bacaan : Roma 12:3-8
Kematian C.S. Lewis pada tanggal 22 November 1963 tenggelam oleh berita pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada hari yang sama. Meskipun peringatan kematian Lewis hampir tidak menjadi berita utama surat kabar, tetapi pengaruh yang kuat dari ahli teologi, guru, dan penulis Inggris ini masih terus berlangsung di seluruh dunia setelah 40 tahun kematiannya.
Bukunya terjual lebih dari 3 juta eksemplar setiap tahunnya. Dan karyanya yang paling terkenal, Mere Christianity, The Screwtape Letters, dan The Chronicles Of Narnia, telah dicetak ulang berkali-kali.
Saat dewasa, Lewis menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Ia mencurahkan pikiran serta imajinasinya yang tajam untuk bekerja melayani Allah. Sekalipun telah menjadi penulis dan pembicara terkenal, ia tetap hidup sederhana. Berikut ini komentar Michael Nelson tentangnya yang dimuat di International Herald Tribune, "Dua pertiga dari royalti bukunya disisihkan untuk amal. Ia tidak pernah bepergian ke luar negeri, bahkan ketika ketenaran membuatnya sering diundang berceramah di seluruh dunia."
Lewis memberi kita suatu pemberian yang tak ada bandingannya, yaitu pandangan yang segar dan kreatif tentang kondisi kemanusiaan kita yang berdosa dan kekuatan Injil Kristus yang tak berkesudahan. Ia melaksanakan perintah untuk melayani orang-orang percaya melalui apa pun yang telah diberikan Allah karena anugerah-Nya (Roma 12:4-6). Teladan hidupnya dapat memacu kita untuk menggunakan karunia yang diberikan Allah kepada kita bagi kemuliaan-Nya --David McCasland
ALLAH MEMAKAI ORANG-ORANG BIASA
UNTUK MELAKSANAKAN RENCANA-NYA YANG LUAR BIASA
7 Desember 2003
Berikan kepada Sesama
Nats : Bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi (1Tesalonika 2:8)
Bacaan : 1 Tesalonika 2:1-12
Para orangtua, guru, dan anggota dewan sekolah di Texas tengah, terkejut ketika sepasang orang tua pensiunan menawarkan beasiswa empat tahun kuliah kepada 45 siswa kelas satu di sebuah sekolah setempat. Persyaratannya hanyalah anak-anak tersebut harus menjauhkan diri dari narkoba, lulus dari SMU di wilayah itu, dan masuk universitas negeri terakreditasi di Texas, akademi, atau sekolah dagang. Beberapa tahun sebelumnya, sebuah perusahaan telah membayar setengah biaya kuliah salah satu penyumbang beasiswa tersebut, dan ia tak pernah melupakan hal itu. "Mereka telah menolong saya," katanya, "dan kini adalah giliran saya."
Kita semua telah menerima karunia yang dapat dibagikan kepada orang lain. Meskipun mungkin bukan berupa uang, yang pasti itu adalah sesuatu yang telah meningkatkan taraf hidup kita. Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika bahwa "kami ... bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi" (1Tesalonika 2:8).
Apakah yang telah diberikan kepada Anda yang perlu Anda teruskan kepada sesama dalam nama Kristus? Karunia mendengarkan ketika seseorang ingin mengutarakan persoalannya? Membagikan kesaksian dalam kelompok pendalaman Alkitab tempat orang ingin menyuburkan hidup dengan firman Tuhan? Mengirim kartu sebagai tanda perhatian kepada seseorang yang berbeban berat?
Injil selalu menjadi lebih efektif bila dibagikan oleh orang-orang yang dengan senang hati memberikan hidup mereka kepada sesama --David McCasland
ALLAH MEMBERI KEPADA ANDA
SEHINGGA ANDA DAPAT MEMBERI BAGI SESAMA
5 Januari 2004
Masuk ke "rebusan"
Nats : Kamu adalah garam dunia (Matius 5:13)
Bacaan : Matius 5:11-16
Benda ini sering dijumpai, murah, dan digunakan di seluruh dunia. Benda ini telah menimbulkan banyak peperangan, mendorong pembangunan rute-rute perdagangan, dan berguna untuk membayar gaji para tentara. Kini benda itu lebih banyak digunakan sebagai bahan pengawet dan penyedap rasa. Benda apakah itu? Benda itu adalah zat berbentuk kristal yang kita sebut garam.
Yesus, Seorang yang ahli menggunakan hal-hal biasa untuk menjelaskan realitas rohani, berbicara soal garam ketika Dia sedang mengajar murid-murid-Nya tentang bagaimana melayani sebagai wakil kerajaan-Nya. Dia berkata, "Kamu adalah garam dunia" (Matius 5:13).
Jika kita menganggap garam sebagai bahan pengawet, dapat diperkirakan bahwa Yesus menginginkan agar kita mencegah kemerosotan moral yang terjadi dalam masyarakat kita. Dan apabila kita memikirkan fungsi garam untuk menyedapkan rasa, maka kita dapat meyakini bahwa Dia ingin agar kita menolong sesama untuk menemukan sukacita ketika mereka mengenal dan hidup bagi-Nya.
Garam yang hanya tersimpan di rak penyimpanan tidak dapat memenuhi fungsinya. Sama halnya jika kita tidak berusaha secara aktif untuk membagikan kebenaran Allah yang mengubah kehidupan, maka sebenarnya kita tidak melayani sebagai garam rohani. Bagaimanapun, tempat bagi garam adalah dalam "rebusan" aktivitas manusia. Daripada hanya mengkritik kemerosotan kebudayaan kita dan datarnya kehidupan yang dijalani banyak orang, marilah kita masuk ke dalam "rebusan", karena kita adalah garam dunia --Vernon Grounds
SEORANG KRISTIANI YANG MENJADI GARAM
MEMBUAT ORANG LAIN HAUS AKAN YESUS SANG AIR KEHIDUPAN
13 Maret 2004
Kabar Segala Musim
Nats : Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai (Yohanes 4:35)
Bacaan : Kisah Para Rasul 5:31-42
Saya bukanlah seorang ahli dalam hal menanam bunga. Tetapi saya telah belajar memahami perbedaan antara bunga semusim dan bunga segala musim. Setiap musim semi, saya biasanya membeli bernampan-nampan tanaman semusim. Tanaman itu langsung berakar saat ditanam di tanah. Hidup mereka yang singkat selalu berakhir oleh embun beku di musim gugur, dan tanahnya menjadi gundul sampai masa tanam di musim semi tahun berikutnya. Saya lebih suka menanam bunga-bunga segala musim. Mereka terus hidup dari tahun ke tahun, dan secara teratur bersemi, berbunga, dan bereproduksi lagi.
Penulis Eugene Harrison menggambarkan bahwa usaha penginjilan orang-orang percaya dalam Perjanjian Baru mempunyai sifat “segala musim”. Mereka tidak mencurahkan seluruh tenaga hanya untuk usaha penginjilan sekali setahun. Sebaliknya, menurut Harrison, membagikan kabar baik tentang Kristus merupakan “perhatian terbesar setiap orang percaya, setiap hari sepanjang tahun, di segala tempat”. Dalam Kisah Para Rasul 5:42 dan 8:4, jangkauan kesaksian mereka jelas: Mereka bersaksi tentang Kristus dan Injil di Bait Allah, rumah mereka, dan pasar dengan menggunakan metode yang dikaruniakan Roh Kudus untuk berkhotbah, mengajar, dan menyampaikan kesaksian pribadi.
Yesus mengajarkan bahwa musim untuk tuaian rohani selalu hari ini (Yohanes 4:35). Dan Rasul Paulus mengatakan bahwa “hari ini adalah hari penyelamatan” (2 Korintus 6:2).
Yakinlah, kita tidak pernah menuai pada musim yang salah, karena ladang-ladang menguning hari ini —Joanie Yoder
BERSAKSI UNTUK KRISTUS TIDAK PERNAH SALAH MUSIM
4 April 2004
Batu yang Berteriak
Nats : Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak (Lukas 19:40)
Bacaan : Lukas 19:29-40
Saya menerima sepucuk surat dari seorang wanita yang menceritakan bahwa ia tumbuh dalam keluarga yang bermasalah. Ia kabur dari rumah dalam usia yang sangat muda, mulai melakukan tindak kriminal, dan pernah dipenjara. Lalu ketika terjerat obat-obat terlarang, ia merasa satu-satunya jalan keluar dari hidup yang penuh kegelapan dosa adalah bunuh diri.
Saat itulah, berkat kesaksian dua wanita mengenai Yesus, ia percaya kepada Juruselamat dan menemukan alasan untuk hidup. Ia pun segera ingin bersaksi mengenai Yesus kepada orang lain. Dengan bakat seninya, ia mulai melukis ayat-ayat Alkitab dan kata-kata rohani pada batu-batu halus yang ia kumpulkan dari pantai. Ia menjual hasil karyanya itu dan menggunakan uangnya untuk membantu karya misi. Batu-batu itu dipakainya untuk bersaksi tentang Yesus kepada orang lain.
Kisah wanita ini mengingatkan saya akan ucapan Yesus ketika Dia memasuki Yerusalem beberapa hari sebelum disalibkan. Orang banyak berseru, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan” (Lukas 19:38). Ketika kaum Farisi meminta Yesus untuk menyuruh orang banyak tersebut diam, Dia berkata bahwa jika mereka diam, batu-batulah yang akan berteriak (ayat 40).
Tentu saja Yesus tidak berbicara mengenai batu-batu yang dilukis. Tetapi benar bahwa meski kesaksian melalui kata-kata dibungkam, masih ada banyak cara untuk bersaksi tentang Yesus kepada orang lain. “Batu” apakah yang dapat Anda gunakan untuk memberitakan kesaksian mengenai Juruselamat dan Raja Anda kepada orang lain? —Henry Bosch
SAYA HANYALAH ORANG BIASA YANG MEMBERI TAHU SETIAP ORANG
TENTANG SESEORANG YANG DAPAT MENYELAMATKAN SEMUA ORANG!
17 Mei 2004
Mempraktikkan Kasih
Nats : Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga (Matius 5:16)
Bacaan : Matius 5:11-16
Dalam bukunya Christian in the Marketplace, Bill Hybels mengatakan bahwa orang yang tidak beriman sering berkata, “Tunjukkan kepada saya” sebelum berkata, “Ceritakan kepada saya”.
Saya kenal seorang pemuda bernama Wolfgang di Jerman yang menerapkan prinsip Hybel di lokasi bangunan tempat ia bekerja. Sebagai seorang percaya yang penuh semangat, Wolfgang selalu membaca Alkitab selama jam makan siangnya. Meskipun rekan-rekan sekerjanya mengolok-olok, ia tetap membaca Alkitab setiap hari. Ia berdoa semata-mata agar menemukan cara untuk menunjukkan kasih Kristus kepada mereka.
Sepulang kerja pada malam hari, para pekerja selalu meninggalkan sepatu bot mereka yang berlumpur. Wolfgang pulang lebih lambat untuk membersihkan semua sepatu bot mereka. Mulanya mereka bingung, namun mereka segera sadar bahwa Wolfgang adalah satu-satunya orang di antara mereka yang bersedia melayani dengan rendah hati. Akhirnya mereka tidak hanya menghormatinya, tetapi bahkan terkadang memintanya untuk membacakan Alkitab bagi mereka. Hanya kekekalan yang akan memperlihatkan pengaruh seutuhnya dari kehidupan Wolfgang yang bercahaya. Ketika menyaksikan perbuatan baik Wolfgang, mereka mulai mendengarkan Allah.
Yesus berkata, “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Matius 5:16). Jika Anda rindu untuk membawa orang-orang di sekitar Anda kepada Yesus, pancarkan kasih-Nya dengan melakukan perbuatan demi memuliakan Allah semata —Joanie Yoder
KEHIDUPAN KRISTIANI ADALAH JENDELA
TEMPAT ORANG DAPAT MELIHAT YESUS
29 Mei 2004
Kebesaran Sejati
Nats : Pada keesokan harinya ketika mereka turun dari gunung itu, datanglah orang banyak berbondong-bondong menemui Yesus (Lukas 9:37)
Bacaan : Lukas 9:28,29,34-42
Pada peringatan 50 tahun pendakian bersejarah Gunung Everest yang dilakukan oleh Sir Edmund Hillary, seorang penyiar televisi mengatakan bahwa status Hillary sebagai pahlawan di Nepal terutama “tidak berkaitan dengan apa yang dilakukannya saat berdiri di puncak dunia itu, melainkan saat ia turun kembali dari puncak gunung tersebut”. Setelah menaklukkan gunung tertinggi di dunia bersama rekannya Tenzing Norgay pada tahun 1953, Edmund menghabiskan waktu selama lima dekade berikutnya untuk membantu mendirikan berbagai sekolah, rumah sakit, dan jembatan bagi masyarakat Sherpa.
Perbedaan ketika Edmund Hillary berada di gunung itu dan pelayanannya di Lembah Sherpa mengingatkan kita pada apa yang dialami Yesus ketika menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung (Lukas 9:28-36). Hal ini merupakan puncak berkat tatkala wajah Tuhan memancarkan sinar dan Bapa berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (ayat 35).
Namun, Yesus tidak tetap tinggal di atas gunung. Dia turun ke tengah-tengah banyak orang. Di situ Dia melepaskan seorang anak dari roh jahat. Dia memutuskan untuk pergi ke Yerusalem dan menggenapi misi-Nya, yaitu untuk mati di atas kayu salib bagi tebusan atas dosa-dosa kita.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Lukas 9: 48). Kehidupan Tuhan kita menunjukkan bahwa kebesaran sejati terletak di dalam tindakan melayani dengan kerendahan hati kepada Allah, dan juga kepada sesama yang membutuhkan —David McCasland
DALAM PANDANGAN ALLAH
KEBESARAN SEJATI ADALAH MELAYANI ORANG LAIN
30 Mei 2004
Penghibur Terbaik
Nats : Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yohanes 14:16)
Bacaan : Yohanes 14:16-21,24-27
Suatu siang di hari Pahlawan, dua orang berseragam mendatangi rumah saya. Saya mengira mereka sedang mengumpulkan sumbangan. Ternyata mereka mengabarkan bahwa saudara perempuan saya dan suaminya tewas dalam kecelakaan pada pagi hari itu.
Setahun lebih setelah peristiwa yang menghancurkan hati itu, paduan suara di gereja kami menyanyikan “Veni Sancte Spiritus” (“Roh Kudus, Datanglah”) pada hari Minggu Pentakosta. Lagu itu membawa kedamaian bagi jiwa saya yang sedih. Salah satu baitnya berbunyi, “Engkaulah Penghibur terbaik, pemberi kesegaran dan kesejukan jiwa. Dalam tugas berat, Engkaulah Pemberi kelegaan; dalam kemarahan, Engkaulah Peneduh; dalam kedukaan, Engkaulah Penghibur.”
Pada hari Minggu Pentakosta, banyak gereja merayakan turunnya Roh Kudus dengan penuh kuasa atas para murid (Kisah Para Rasul 2:1-21). Namun, Roh Kudus juga datang sebagai Penghibur yang dijanjikan oleh Yesus: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:16). Roh Kudus tinggal dalam diri setiap orang kristiani, membawa damai Kristus beserta penguatan dan penghiburan atas kedukaan.
[Hari Pentakosta dan hari Pahlawan mungkin tidak jatuh pada hari yang berdekatan.] Namun, Sang Penyejuk jiwa senantiasa menyertai setiap kali kita mengingat orang-orang terkasih yang telah meninggal. Dalam kedukaan, yang kita alami Roh Kudus adalah penghibur kita, terang bagi hati kita, dan pemberi sukacita abadi —David McCasland
DI SETIAP GURUN UJIAN KEHIDUPAN
ROH KUDUS ADALAH OASIS PENGHIBURAN KITA
7 Agustus 2004
Rantai yang Tak Putus
Nats : Apa yang telah engkau dengar dari padaku ... percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai (2Timotius 2:2)
Bacaan : 2Timotius 1:1-7; 2:1,2
Setiap pertama kali berjumpa dengan seorang kristiani, saya tertarik untuk mengetahui bagaimana ia mulai memercayai Yesus sebagai Juruselamatnya. Setiap orang memiliki kisah yang berbeda, tetapi mereka semua bersaksi bahwa mereka memahami kebenaran karena upaya orang lain -- orangtua, pendeta, guru Sekolah Minggu, para pembina kelompok Pendalaman Alkitab, teman, atau penulis. Seseorang secara tepat menyatakan bahwa tubuh Kristus bertumbuh melalui "kumpulan pengajar dalam rangkaian rantai yang tak putus".
Dalam bacaan Kitab Suci hari ini, kita belajar bahwa Timotius menjadi orang percaya karena pengaruh neneknya Lois, ibunya Eunike, dan pengajaran Paulus (2 Timotius 1:5; 2:2). Rasul Paulus meminta Timotius agar menjadi bagian dari rantai itu dan memercayakan kebenaran "kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain" (2:2).
"Orang-orang yang dapat dipercayai" yang dimaksudkan Paulus mungkin adalah para penatua gereja. Tetapi ia mengungkapkan sebuah prinsip yang berlaku bagi setiap orang percaya. Kita harus menerima kebenaran dari seseorang; dan sekarang kita memiliki hak istimewa yang mulia serta tugas serius untuk menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain.
Anggaplah diri Anda adalah salah satu bagian dari "rantai hidup" yang membentang sejak zaman Yesus hingga saat ini. Kita harus menjaga ikatan rantai tersebut tetap kuat dengan cara memberitakan Yesus kepada orang lain, agar Injil dapat menjangkau generasi-generasi berikutnya --Herb Vander Lugt
KABAR BAIK HARUS DIBERITAKAN
20 November 2004
Biar Dunia Mendengar
Nats : Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk (Markus 16:15)
Bacaan : Kisah Para Rasul 1:1-8
Fritz Kreisler (1875-1962), seorang pemain biola dunia yang ternama, mendapat banyak uang melalui berbagai konser dan komposisi yang dibuatnya. Akan tetapi, ia banyak menyumbangkan uangnya. Akibatnya, ketika dalam suatu perjalanan ia menemukan sebuah biola yang sangat indah, uangnya tidak cukup untuk membeli.
Setelah mengumpulkan cukup uang, ia kembali kepada si penjual untuk membeli alat musik yang indah itu. Namun, ia sangat terkejut ketika mendapati bahwa biola tersebut telah dibeli seorang kolektor. Kemudian, Kreisler berangkat ke rumah pemilik baru biola itu dan mengatakan bahwa ia ingin membeli biola tersebut. Sang kolektor mengatakan bahwa biola tersebut adalah harta berharga baginya, dan ia tidak bermaksud menjualnya.
Merasa kecewa, Kreisler hendak meninggalkan rumah itu. Tetapi mendadak ia mendapat sebuah ide. “Bolehkah saya memainkan biola itu sebelum disimpan dalam kesunyian?” tanyanya. Ia diperbolehkan untuk memainkannya. Pemusik andal tersebut memainkan musik yang sangat indah sehingga menyentuh perasaan sang kolektor. “Saya tidak berhak menyimpan biola itu bagi diri saya sendiri,” katanya. “Biola ini milik Anda, Pak Kreisler. Bawalah, dan biarlah semua orang mendengarkan alunan musik darinya.”
Bagi para pendosa yang telah diselamatkan oleh kasih karunia, Injil bagaikan harmoni surga yang memesona. Kita tidak berhak menyimpannya bagi diri kita sendiri. Yesus memerintahkan agar kita memberitakannya kepada dunia sehingga semua orang dapat mendengarnya —Vernon Grounds
SESEORANG PERNAH MENCERITAKAN TENTANG YESUS
KEPADA ANDA
APAKAH ANDA PERNAH BERCERITA TENTANG YESUS?
3 April 2005
Sarang Laba-laba
Nats : Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? (Roma 10:14)
Bacaan : Roma 10:11-17
Alkisah, seorang pelukis diberi tugas untuk menggambarkan sebuah gereja yang tidak terawat. Akan tetapi, bukannya melukis puing-puing tua yang hampir roboh, ia justru melukis sebuah bangunan megah yang berdesain modern. Dari jendela-jendelanya dapat terlihat sebuah kotak yang penuh hiasan untuk mengumpulkan persembahan dari para jemaatnya. Di atasnya tergantung sebuah papan bertuliskan "Untuk Misi". Akan tetapi, yang menyedihkan adalah kotak tersebut diselimuti oleh sarang laba-laba.
Gereja atau pribadi yang hati dan hidupnya tidak terlibat dalam pengabaran Injil sedunia, saat ini sedang berjalan menuju kehancuran. Kita barangkali terlibat di dalam "kegiatan kristiani" yang meluap-luap, namun energi kita akan salah arah apabila program Allah yang utama bagi zaman ini telantar.
Allah telah merancang penginjilan dunia sedemikian rupa sehingga setiap orang percaya terlibat secara aktif. Kita semua perlu meminta "kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" (Matius 9:38).
Sebagian orang juga akan dipanggil secara khusus oleh-Nya untuk menjadi pengabar Injil, karena jika tidak, "bagaimana mereka mendengar?" (Roma 10:14).
Sementara itu, orang lain akan menjadi pemberi dan pengutus, karena "bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?" (ayat 15).
Jangan sampai misi dunia diselimuti oleh sarang laba-laba karena sikap kita yang kurang peduli —PRVG
JUTAAN ORANG MENUJU KEBINASAAN—TANPA PERNAH MENDENGAR
8 April 2005
Ambisi yang Setia
Nats : Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus (Galatia 6:14)
Bacaan : Galatia 6:12-18
Pada akhir abad ke-19, seorang mantan mahasiswa Universitas Oxford menjadi Kanselir Inggris. Salah seorang teman sekelasnya menjadi Sekretaris Luar Negeri Inggris. Orang ketiga memperoleh reputasi internasional sebagai pengarang. Sedangkan orang keempat, Temple Gairdner, barangkali merupakan siswa yang paling berbakat di antara teman-teman sekelasnya, akan tetapi ia justru tidak menjadi orang yang tenar dan berpengaruh. Mengapa demikian? Karena ia telah menerima Yesus sebagai Juruselamatnya dan hidup sebagai misionaris di daerah yang terpencil dan berbahaya.
Sebenarnya Gairdner bisa saja menjadi orang yang terkenal seperti teman-temannya. Akan tetapi, pada saat memutuskan untuk menjadi seorang misionaris, ia menulis surat kepada saudara perempuannya, "Saya merasakan suatu ambisi yang sangat sulit untuk dipadamkan. Apabila menilik latar belakang keluarga dan pendidikan seseorang yang tinggi, ambisi untuk menjadi terkenal dan ternama memang tampak wajar. Sangat sulit untuk melepaskan diri dari semua itu dan mau meninggal tanpa dikenal."
Kita mungkin tidak diminta untuk berkorban seperti itu. Namun apakah kita bersedia melayani Sang Juruselamat dengan ketaatan penuh? Untuk melayani Dia dengan setia kita harus mengesampingkan kepentingan kita sendiri, seperti yang dilakukan Paulus: "Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus" (Galatia 6:14).
Kita tidak perlu menjadi terkenal. Namun, kita perlu setia ke mana pun Allah memanggil kita —VCG
DUNIA MENGHARGAI KESUKSESAN JANGKA PENDEK
TETAPI ALLAH MENGHARGAI KESETIAAN JANGKA PANJANG
19 April 2005
Pelajaran dari Lebah Madu
Nats : Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus Tuhan (Mazmur 107:2)
Bacaan : 2Raja-raja 7:1-11
Beberapa tahun lalu saya memasang sarang madu untuk memberi makan sekelompok lebah yang bersarang tak jauh dari situ. Mula-mula saya menangkap seekor lebah di sebuah cangkir, lalu menaruhnya di atas sarang madu, dan menanti si lebah menemukan harta karun itu. Setelah kenyang dan puas, si lebah langsung terbang lagi ke sarangnya. Sesaat kemudian ia kembali bersama selusin lebah lainnya. Kelompok ini kemudian membawa lebih banyak lebah lagi. Akhirnya sarang madu itu tertutup segerombolan lebah dan tak lama kemudian telah membawa semua madu ke sarang mereka.
Itu adalah sebuah pelajaran penting bagi kita! Apakah kita akan menceritakan Pribadi yang telah kita temukan kepada orang lain? Kristus telah memercayakan kepada kita pemberitaan "kabar baik" itu. Apakah kita, yang telah menemukan madu di dalam Sang Batu Karang—Kristus Yesus—justru kurang perhatian terhadap orang lain daripada lebah itu?
Keempat orang kusta yang duduk di muka gerbang Samaria, setelah menemukan makanan di perkemahan tentara Aram yang telah melarikan diri pada waktu malam, meneruskan kabar baik tersebut. Mereka berkata satu sama lain, "Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja ... marilah kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja" (2 Raja-raja 7:9).
Keliru jika seorang anak Allah yang mengetahui kabar baik Injil tidak meneruskannya kepada orang lain. Marilah bercerita tentang Kristus kepada seorang jiwa yang lapar hari ini —MRD
SETELAH ANDA MENGECAP SANG ROTI HIDUP
ANDA TENTU INGIN MEMBAGIKAN-NYA KEPADA ORANG LAIN
8 Juni 2005
Generasi Bengkok Hati
Nats : Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda ... di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini (Filipi 2:14,15)
Bacaan : Filipi 2:12-16
Anda dapat menyebut generasi masa kini sebagai "angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat", seperti gambaran Paulus tentang generasi pada zamannya dalam Filipi 2:15. Bahkan Musa pun memahami apa yang dikatakan Paulus ketika ia berkata tentang bangsa Israel yang, "berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit" (Ulangan 32:5).
Kebengkokan di sini mengacu pada sarana yang dipakai orang untuk meraih tujuan. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jalan singkat menuju kesuksesan dipuji-puji. Sebagian orang bahkan membanggakan bagaimana mereka berkelit dari jeratan hukum.
Kesesatan mengacu pada cara seseorang memutarbalikkan kebenaran. Misalnya, saya pernah mendengar cerita tentang tiga anak remaja yang ingin mengakhiri sewa tempat mereka di sebuah asrama remaja, jauh sebelum waktu keberangkatan mereka yang seharusnya. Mereka bersikeras agar sang pengelola asrama mengembalikan uang titipan yang sebenarnya tidak dapat dikembalikan. Ketika si pengelola asrama akhirnya menyerah dan ketiga remaja itu bersiap-siap untuk keluar, mereka berkata kepada tamu asrama lain bahwa mereka telah diusir.
Kita mungkin terkadang sakit hati oleh tingkah laku yang bengkok dan pemikiran sesat orang lain. Namun, kita dipanggil untuk "tiada beraib dan tiada bernoda", dan untuk "bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Filipi 2:15).
Mari kita tunjukkan cara hidup yang berbeda kepada dunia —AL
JALAN YANG LURUS DAN SEMPIT ADALAH JALAN ALLAH
BAGI GENERASI YANG BENGKOK HATINYA
14 Oktober 2005
Menceritakan Kebenaran
Nats : Bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan (2 Korintus 4:5)
Bacaan : 2Korintus 4:3-7
Ketika Anda memikirkan istilah penginjilan, gambaran apa yang terlintas dalam pikiran Anda? Stadion besar yang penuh manusia? Buku kecil dengan serangkaian diagram? Seorang kristiani yang mengenakan pin bergambar ikan? Orang beriman yang taat, yang sedang berdebat dengan penyembah berhala? Seorang wiraniaga yang sedang meyakinkan orang yang enggan untuk “mencoba Yesus”?
Bagi sebagian dari kita, penginjilan adalah kata dengan 11 huruf yang dihindari. Walaupun kita berpikir ini merupakan gagasan yang bagus untuk orang lain, kita yakin ini bukan untuk kita. Kita tidak cocok untuk menjadi “penjual”, ataupun cukup mahir untuk berdebat dengan orang nonkristiani.
Tetapi penginjilan sebenarnya tidak sama seperti menjadi “pedagang keliling” yang menipu orang untuk membeli apa yang tidak mereka butuhkan. Penginjilan bukanlah aktivitas seperti mencengkeram kerah baju seseorang, kemudian memaksakan iman yang tidak bisa masuk lebih dalam dari saku bajunya. Alangkah seramnya dakwaan ungkapan ini, “Anda bisa mengenali orang-orang yang telah diinjili olehnya dengan melihat penampilan mereka yang tampak murung.”
Penginjilan adalah menceritakan kepada orang lain apa yang kita ketahui mengenai Yesus. “Bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan” (2 Korintus 4:5). Tidak ada tipu muslihat. Tidak ada penipuan. Katakan kebenaran, kebenaran yang sesungguhnya, bukan yang lain, hanya kebenaran-dengan kasih. Lalu serahkan hasilnya kepada Allah -HWR
KITA YANG MENGENAL SUKACITA KESELAMATAN
TIDAK BOLEH MENYIMPANNYA UNTUK DIRI SENDIRI
19 November 2005
Menjangkau Anak Muda
Nats : Lalu Ia [Yesus] memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka (Markus 10:16)
Bacaan : Markus 10:13-16
Darmeisha tidak menyukai Suzanne, seorang anak perempuan yang menjadi tetangganya. Tetapi ia masih berulang kali mengetuk pintu rumahnya. Ia adalah seorang anak berumur 8 tahun yang kurang bahagia, yang tampaknya suka mengejek orang. Sebagian besar percakapan mereka diakhiri dengan ucapan Suzanne untuk menyuruhnya pulang.
Suzanne tidak menyukai Darmeisha, tetapi ia tahu gadis kecil itu mempunyai alasan mengapa ia bersikap seperti itu. Ia hidup dalam kemiskinan, tidak mempunyai ayah selama hidupnya, dan diabaikan oleh ibunya. Karena itu Suzanne meminta agar Tuhan menolong Darmeisha yang dikasihinya. Ia mulai menyapanya dengan senyuman dan menunjukkan ketertarikan terhadap hidup Darmeisha. Perlahan-lahan Darmeisha menyambut ramah dan mereka pun berteman.
Kini, keduanya itu berumur 13 tahun, dan mereka melakukan pendalaman Alkitab bersama. Mereka berbicara mengenai apa artinya mengikut Yesus, karena Darmeisha telah memberikan hidupnya kepada Dia.
Yesus meluangkan waktu untuk anak-anak. Dia “marah” ketika para murid menghalangi mereka datang kepada-Nya. Dia berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka” (Markus 10:13,14). Dia bahkan mengatakan bahwa kita harus menyambut kerajaan-Nya seperti anak kecil (ayat 15).
Survei Barna pada tahun 2004 menunjukkan bahwa 85 persen orang kristiani memulai hubungan mereka dengan Yesus sebelum berusia 14 tahun. Karena itu, luangkan waktu untuk anak-anak. Jangkaulah anak-anak -AMC
IMAN YANG KUAT KERAP DITEMUKAN
DALAM HATI SEORANG ANAK
16 Agustus 2006
Pelajaran dari Ibu
Nats : Aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu (Roma 1:15)
Bacaan : Roma 1:8-16
Penyakit pikun lambat laun merenggut Ibu Cetas dari tengah-tengah kami. Tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan oleh saya dan suami untuk menahannya agar ia tidak terlepas dari kami.
Pada masa-masa yang sulit itu, Ibu mengajarkan banyak pelajaran kepada kami. Ia memang lupa cara untuk mela-kukan banyak hal, tetapi ada satu hal yang tidak dilupakannya, yaitu bagaimana ia berdoa. Kadang-kadang seseorang datang dan menceritakan sebuah masalah yang dihadapinya. Kemudian Ibu akan segera diam sejenak untuk berdoa bagi orang tersebut.
Ibu juga terus berbicara kepada orang lain tentang Yesus. Orang-orang yang merawatnya di rumah jompo berkata bahwa ia sering bertanya kepada para penghuni dan pekerja lainnya apakah mereka telah mengenal Yesus sebagai Juru Selamat mereka. Ia ingin agar mereka yakin bahwa dosa-dosa mereka sudah diampuni dan bahwa mereka akan masuk surga.
Apabila saya mengenang sifat-sifat yang ada di dalam diri Ibu, saya teringat akan Roma 1. Rasul Paulus selalu mengingat jemaat di gereja Roma dalam doanya (ayat 9). Dan ia "ingin untuk memberitakan Injil" sebab ia berkata, "Aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya" (ayat 15,16).
Selama Ibu Cetas mampu melakukannya, ia tetap mencari Yesus di dalam doa dan bercerita tentang Dia kepada orang lain. Kita semua dapat belajar dari teladan keberanian dan imannya kepada Tuhan -AMC
BERBICARA KEPADA KRISTUS TENTANG ORANG LAIN AKAN MENGGAIRAHKAN KITA UNTUK BERBICARA KEPADA ORANG LAIN TENTANG KRISTUS
17 Agustus 2006
Tawanan Siapa?
Nats : Kepadaku ... telah diberikan anugerah ini, untuk mem-beritakan kepada orang-orang bukan Yahudi keka-yaan Kristus, yang tidak terduga itu (Efesus 3:8)
Bacaan : Efesus 3:1-9
Ada sebuah kisah tentang seorang pendeta Skotlandia, Alexander Whyte, yang mampu menghadapi situasi yang paling suram dan tetap menemukan sesuatu untuk disyukuri. Suatu Minggu pagi yang gelap ketika cuaca dingin, basah, dan berangin keras, salah seorang anggota majelisnya berbisik, "Saya yakin bahwa Pak Pendeta tidak dapat mengucap syukur kepada Allah untuk apa pun juga pada hari seperti ini. Di luar benar-benar mengerikan!" Pendeta itu memulai kebaktian dengan berdoa, "Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, bahwa cuaca tidak selamanya seperti ini."
Rasul Paulus juga melihat hal yang terbaik di dalam segala situasi. Bayangkanlah keadaannya ketika ia menulis surat kepada jemaat di Efesus, saat ia menunggu pemeriksaan pengadilan di depan kaisar Roma, Nero. Sebagian besar orang mungkin menyimpulkan bahwa ia merupakan tawanan Roma. Akan tetapi, Paulus memandang dirinya sendiri sebagai tawanan Kristus. Ia berpikir bahwa penderitaan yang dialaminya merupakan kesempatan baginya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang bukan Yahudi.
Kata-kata Paulus ini harus menantang kita: "Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah diberikan anugerah ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu" (Efesus 3:8). Paulus, sebagai tawanan Kristus, memandang dirinya sendiri sebagai orang yang memperoleh hak istimewa untuk melayani Allah dan memberitakan "kekayaan Kristus" kepada banyak orang.
Tawanan siapakah kita? -AL
PENDERITAAN-PENDERITAAN YANG MEMENJARAKAN ANDA

TIDAK PERLU MEMBATASI KARYA ALLAH DI DALAM DIRI ANDA
17 September 2006
Tersebar!
Nats : Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 8:4)
Bacaan : Kisah Para Rasul 8:1-8
Pada bulan Agustus 2005, badai Katrina melanda Pantai Teluk Amerika Serikat dan meluluhlantakkan sekitar 1,3 juta rumah. Orang-orang diungsikan ke setiap negara bagian termasuk Alaska dan Hawai karena badai menerjang rumah-rumah mereka, dan menghancurkan segala jenis pekerjaan yang mereka miliki. Karena orang-orang kristiani tidak kebal terhadap badai kehidupan, maka ribuan orang yang mengasihi Tuhan pun turut terdampar di tempat yang tidak pernah diharapkan untuk mereka tinggali.
Namun banyak di antara orang-orang itu, yang harapan dan rencananya diporakporandakan oleh badai Katrina, membawa kasih Allah kepada sesama di seluruh AS. Seperti jemaat kristiani mula-mula yang dipaksa keluar dari Yerusalem karena penganiayaan, Injil menulis tentang mereka bahwa, "Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil" (Kisah Para Rasul 8:4).
Meski tidak satu pun di antara kita yang mau memilih untuk mengalami kerugian keuangan dan hidup dalam kekacauan, tetapi dapatkah kita memandang hal tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk membagikan harapan yang telah diberikan Yesus Kristus kepada kita?
Dalam suratnya, Rasul Petrus mengingatkan orang-orang kristiani yang tersebar di seluruh bangsa demikian, "Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu" (1Petrus 3:15).
Manakala hidup Anda tercerabut, pastikan Anda menebar benih-benih Injil ke mana pun Anda pergi -DCM
TIDAK ADA TEMPAT YANG SALAH UNTUK MEMBAGIKAN INJIL
17 Agustus 2007
Antaran Istimewa
Nats : Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari seiman kita yang ... memberikan bantuan kepada banyak orang (Roma 16:1,2)
Bacaan : Roma 16:1-16
Pada saat sebuah surat istimewa diantarkan kepada kita, biasanya hal itu berarti bahwa kita menerima sesuatu yang sangat penting. Menurut para ahli Alkitab, Febe adalah salah satu petugas pengantar surat yang isinya tak terhingga nilainya untuk gereja di Roma. Surat Paulus kepada jemaat di Roma itu merupakan karya agung doktrinal Paulus yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Surat tersebut memaparkan bagaimana orang-orang yang terhilang serta berdosa dapat menemukan kembali penebusan melalui iman kepada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Nama Febe memiliki arti "terang dan bersinar". Ia bertempat tinggal di Kengkrea, yaitu sebuah desa pelabuhan di sebelah timur Korintus, tempat Paulus mengadakan perhentian pada saat ia melakukan perjalanan misinya yang ketiga. Karena kebaikan Febe kepadanya itulah, Paulus kemudian menulis surat kepada jemaat di Roma demikian, "Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari seiman kita yang melayani jemaat di Kengkrea, ... berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri" (16:1,2). Febe telah membantu orang lain untuk bisa mendapatkan firman Allah.
Kita semua adalah "pembawa surat rohani". Kita memiliki kabar baik yang telah ditulis oleh Paulus beberapa abad yang telah lalu. Dan, seperti yang telah dilakukan Febe, kita juga harus membantu menyebarkan surat itu melalui kata-kata serta perbuatan kita kepada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pesan yang menghidupkan itu --HDF
KITA MELAYANI ALLAH DENGAN MEMBAGIKAN FIRMAN-NYA
KEPADA ORANG LAIN
23 April 2008
Katedral Sang Janda
Nats : Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Matius 6:4)
Bacaan : Matius 6:1-4
Seorang raja membangun katedral, namun tidak menghendaki siapa pun memberikan sumbangan. Ia ingin dikenang sebagai pembangun tunggal katedral itu. Begitulah. Katedral itu berdiri dengan sebuah plakat yang menyatakan bahwa sang raja adalah pembangunnya.
Namun, suatu malam sang raja bermimpi. Seorang malaikat menghapus plakat itu dan menuliskan nama seorang janda miskin untuk mengganti namanya. Mimpi itu terulang dua kali. Saat terbangun, raja segera memerintahkan agar janda itu dipanggil untuk memberikan penjelasan. Dengan gemetar janda itu berkata, "Paduka, hamba sangat mengasihi Tuhan dan sangat ingin terlibat dalam pembangunan katedral ini. Namun, karena rakyat dilarang memberi bantuan apa pun, saya hanya menyediakan jerami untuk kuda yang mengangkut batu-batuan."
Kisah di atas menggambarkan motivasi orang dalam memberikan persembahan. Ada yang memberi demi unjuk kedermawanan, agar tidak disebut orang kaya yang kikir. Ada pula yang memberi supaya dapat mengontrol gereja dan hamba Tuhan. Orang-orang seperti itu, menurut Yesus, sudah menerima upahnya (ayat 2).
Si ibu janda mewakili orang yang memberi berdasarkan kasih, bahkan dengan pengorbanan. Kalau ia didakwa melanggar perintah raja, bukankah ia mesti menanggung hukuman? Meski tampak remeh dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, pemberiannya juga sangat menentukan keberhasilan pembangunan katedral tersebut. Mari kita melihat kembali motivasi kita dalam memberi persembahan. Apakah kita bersikap seperti sang raja? Atau, seperti si janda miskin? -ARS
PERSEMBAHAN KITA DITAKAR BUKAN BERDASAR JUMLAHNYA
TETAPI BERDASAR KASIH DAN PENGORBANAN YANG MENYERTAINYA" (Yohanes 1:41)
3 Mei 2008
Mengikuti Sekam
Nats : Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri (Yakobus 1:22)
Bacaan : Yakobus 1:19-27
Menurut legenda yang dikisahkan para rabi, ketika Yusuf menjadi perdana menteri saat Mesir dilanda kelaparan, ia membuang sekam dari lumbung-lumbungnya ke Sungai Nil. Sekam itu mengambang sampai jauh mengikuti aliran air, sehingga orang-orang yang tinggal di tepian sungai jauh di daerah hilir dapat melihatnya. Hanya sekam yang mereka lihat, namun itu berarti ada banyak gandum di suatu tempat. Ketika melihat sekam yang mengambang itu, mereka yakin bahwa jika mereka cukup kuat untuk pergi dan menemukan tempat sekam itu dibuang, mereka pasti mendapati persediaan gandum yang berlimpah.
Seperti sekam yang menunjukkan adanya persediaan gandum, Alkitab -- sebagai catatan tertulis dari firman Allah -- juga berguna sebagai petunjuk di mana kita dapat memenuhi kebutuhan rohani kita. Namun, tak jarang kita memperlakukannya sebagai tujuan akhir. Kita sudah merasa puas jika telah membaca Alkitab dan melengkapinya dengan renungan dan buku-buku rohani. Kita sudah puas dengan giat mengikuti kelompok pendalaman Alkitab dan mendengarkan khotbah setiap Minggu.
Itu semua tindakan yang perlu dan penting, tetapi belum cukup untuk mendapatkan manfaat firman yang sesungguhnya. Membaca, mendengar, dan mempelajari Kitab Suci adalah langkah awal. Jika berhenti di situ, kita hanya menambah pengetahuan tentang Alkitab. Kita harus melengkapinya dengan mengikuti petunjuk firman itu. Artinya, kita perlu menaati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (ayat 22-25). Dengan demikian kita akan menemukan gandumnya, yakni kehidupan yang diubahkan oleh firman Allah -ARS
FIRMAN TUHAN TIDAK SEKADAR MEMBERI KITA PENGETAHUAN
TETAPI JUGA MEMBERI PERUBAHAN
2 Juli 2008
Tidak Mirip
Nats : Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak s (Roma 8:29)
Bacaan : Roma 8:18-30
Saya pernah mendengar seorang tokoh mengatakan, 'Saya menyukai Kristus, namun saya tidak suka pada orang-orang kristiani. Orang-orang kristiani itu sangat tidak mirip dengan Kristus.' Memang begitu ya?" tanya saya kepada seorang teman.
"Yah, begitulah. Menjadi seperti Kristus memang berat. Beberapa kawan non-kristiani berkomentar serupa. Kristus yes, orang kristiani no," jawab teman saya.
Kegagalan seperti itu bisa mematahkan semangat. Bisa juga malah memberi dalih, membenarkan kegagalan kita dalam upaya meneladani Kristus, membuat kita tidak bersungguh-sungguh mengikuti Dia. Kalau toh itu mustahil, kenapa mesti dicoba juga? Demikian kita berpikir.
Nyatanya, firman Tuhan menunjukkan bahwa tujuan pembaruan hidup kita tak lain agar kita semakin serupa dengan Kristus (ayat 29). Hanya, kebanyakan dari kita salah berpikir dengan mengira hal itu harus diusahakan dengan kekuatan sendiri. Tidak. Alkitab menegaskan, kita hanya mungkin mengalami pembaruan jika mengandalkan kekuatan anugerah Allah.
Dalam proses menjadi semakin serupa dengan Kristus, kita akan menemukan jati diri dan tujuan hidup kita dalam rencana Tuhan. Dan kita menempuh proses itu dengan menyimak dan menekuni firman, memerhatikan kehidupan Yesus di bumi yang tercatat dalam Injil, menjalin relasi yang akrab dengan-Nya, meminta kepenuhan Roh-Nya, dan menjalankan pelayanan-Nya di dunia.
Memang, seperti kata teman saya, itu proses yang berat. Namun, tidak berarti kita menyerah saja sebelum bertanding, bukan? Apalagi kita tidak berjuang seorang diri! (ayat 28) -ARS
MENJADI SERUPA DENGAN KRISTUS BUKAN PERISTIWA SEKALI
JADI MELAINKAN PERJALANAN IMAN HARI DEMI HARI
8 Agustus 2008
Menerima Nasihat
Nats : Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya (Keluaran 18:24)
Bacaan : Keluaran 18:13-27
Musa memang hebat. Bukan saja karena hal-hal besar yang ia lakukan, tetapi juga karena sebagai tokoh besar dan pemimpin, ia tetap mau terbuka menerima masukan. Memerhatikan, mengasah, dan mengolah usulan yang datang kepadanya, menjadikan Musa pemimpin yang patut ditiru.
Ketika Yitro, mertuanya, melihat bagaimana Musa menangani sendiri semua hal tentang pengelolaan masalah bangsa Israel, ia mengingatkan bahwa itu "tidak baik" (ayat 17). Yitro lalu mengusulkan agar dalam menjalankan tugasnya ini, Musa memakai strategi yang lebih tepat, termasuk bahwa ia dapat melibatkan orang-orang yang cakap sebagai mitra pelayanan. Musa mendengarkan usulan ini dan sungguh-sungguh melakukannya. Setelah beres, barulah Musa melepas mertuanya pergi (ayat 27). Artinya sang mertua masih bisa melihat bagaimana Musa memperbaiki sistem pelayanannya. Betapa indahnya bila seseorang mendengarkan dan menerima nasihat baik dari orang lain, demi pelayanan yang lebih baik dalam pekerjaan Tuhan!
Mari renungkan bagaimana hal ini dapat diterapkan juga dalam kita berkeluarga, melayani Tuhan, bekerja, dan bersaksi. Sudahkah kita menjadi orang yang terbuka memerhatikan usulan orang lain dan mau mengkajinya dengan rendah hati? Atau, kita sering merasa terganggu dengan nasihat orang, sehingga nasihat yang tepat pun kita abaikan demi gengsi? Jangan buru-buru menolak saran yang datang. Nasihat yang baik bisa muncul dari siapa saja. Bila hati kita terbuka, kita dapat melihat pertolongan bisa datang dari mana saja. -DKL
NASIHAT TAK MEMBUAT ORANG JADI KECIL
ITU SEBABNYA ORANG BESAR PUN TAK TAKUT MENERIMA NASIHAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar