Jumat, 23 April 2010

Bahan Kotbah 1


Oleh: Sarmen Sababalat


Nas : 2 Timotius 3:15
Tema : Kuasa Firman Tuhan
Pendengar : Jemaat Umum Perkotaan

Pendahuluan
Bapak/ibu/saudara/i yang terkasih, akhir-akhir ini kita dihebohkan seorang dukun cilik yang bernama Ponari. Dia tinggal di Jombang. Ponari ini katanya mampu untuk mengobati yang sakit dengan batu kecil yang dia miliki. Ribuan orang datang kepadanya bahkan dari luar daerahnya juga datang kepadanya untuk mendapatkan kesembuhan. Bahkan sampai ada korban yang meninggal akibat banyaknya orang yang saling mendahului agar mendapatkan kesembuhan darinya. Mengapa masayarakat datang kepadanya? Karena dia memiliki kuasa untuk menyembuhkan orang. Dia memiliki kekuatan. Itulah kuasa yang dimiliki oleh dukun cilik tadi. Dalam perusahaan pun pasti ada yang berkuasa yaitu bos. Apapun yang dia katakan harus dilaksanakan. Kalau tidak maka akan terjadinya PHK. Itulah kuasa dari bos perusahaan. Semua karyawan harus tunduk kepadanya. Apa yang dia katakan harus dipatuhi. Begitu juga dengan kita sebagai orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Yesus. Apakah yang berkuasa dalam diri kita? Apakah kekuatan kita? Atau apakah dengan kehebatan kita? Tak lain dan tak bukan ialah kuasa firman Tuhan yang mampu mengubah hidup kita. Oleh karena itu kita akan melihat apa yang dikatakan dalam pembacaan kita tadi. Tema yang diangkat saat ini yaitu: “Kuasa Firman Tuhan”.

Isi
Bapak/ibu/saudara/i yang terkasih, dalam pembacaan kita ini kita akan melihat dua kuasa firman Allah yang menjadi ciri khas orang Kristen dan membawa kepada pembaharuan hidup, yaitu:
1. Memberikan hikmat kepada kita
Bapak/ibu/saudara/i yang terkasih, tidak cukup Timotius hanya mengikuti contoh Paulus (10-11), tetapi ada alasan lain lagi mengapa Timotius setia kepada ajaran yang benar: ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci. Sejak kecil, sejak anak-anak, Timotius sudah mengenal Kitab Suci. Menurut kebiasaan orang Yahudi, anak-anak kecil sudah sejak umur 5 tahun diajar di sinagoge dalam pengetahuan Alkitab, yaitu Perjanjian Lama. Apa yang telah dipelajari begitu lama di bawah bimbingan orang-orang saleh, pasti berakar di dalam dirinya dan tidak mudah digoyahkan oleh angin ajaran sesat. Apalagi Kitab Suci itu kata Paulus, dapat memberi hikmat kepadamu. Kata hikmat di sini berati membawa kepada hidup yang bijaksana atau arif. Ini berarti bahwa orang yang memiliki hikmat, akan hidup dalam kebijaksanaan. Hikmat itu diberikan oleh Allah secara terus menerus kepada siapa saja yang memintanya atau kepada siapa saja yang menghendakinya. Orang yang tidak memiliki hikmat, akan hidup dalam kegoncangan, akan hidup dengan sembarangan karena dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Dia tidak tahu keputusan apa yang akan diambilnya. Maka dalam nas kita saat ini ialah bahwa setiap orang yang belajar dari firman Tuhan, yang mempelajarinya kata pemazmur siang dan malam, maka akan hidup bijaksana, mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar. Oleh karena itu firman Tuhan haruslah kita pelajari supaya kita semakin mengenal apa isi hati Tuhan, apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita sehingga hikmat itu akan kita miliki. Hikmat yang mana? Hikmat untuk hidup benar di hadapan Tuhan maupun di hadapan sesama. Selaku orang yang percaya kepada Tuhan, maka jangan takut bahwa Tuhan tetap akan memberikan hikmat itu kepada kita asal kita selalu giat, tekun dalam membaca dan melakukan firman Tuhan itu sehingga lama-kelamaan kita akan menuju kepada hikmat itu.

2. Menuntun kita kepada jalan keselamatan
Bapak/ibu/saudara/i yang terkasih, layaknya seorang yang buta, jika tidak ada yang menuntunnya, dia akan terus dan terus terjatuh. Maka supaya dia jangan jatuh lagi, dia sangat membutuhkan seorang penolong yang mampu untuk menolongnya. Tentu penolong di sini bukan asal-asalan saja, tetapi yang benar-benar membantunya supaya dia jangan terjatuh lagi. Begitupun yang dikatakan oleh Paulus kepada Timotius, bahwa sejak kecil dia sudah mengenal Kitab Suci untuk menuju kepada keselamatan. Untuk menuju kepada keselamatan, dalam surat pastoral ini beratti sabar untuk menanggung segala penderitaan atau segala tantangan zaman. Di tengah liku-liku ajaran sesat yang dihadapi oleh Timotius, maka firman Tuhanlah yang akan menjadi pelita dan penuntun dalam menghadapi pengajar sesat itu. Ini tidak berarti bahwa setiap orang yang membaca kitab Perjanjian Lama, maka dia akan memperoleh keselamatan. Jalan PL yang menuju ke keselamatan hanya terbuka oleh iman kepada Yesus Kristus, artinya bila orang menerima Yesus di dalam iman, maka ajaran-ajaran di dalam PL yang menuju kepada Yesus akan menjadi jelas. Kitapun dalam dunia saat ini, yang penuh dengan godaan-godaan, maka yang menjadi kekuatan dan pununtun kita hanyalah firman Tuhan. Inilah yang mampu membawa kita kepada keselamatan.

Kesimpulan
Bapak/ibu/saudara/i yang terkasih, demikianlah kuasa firman Tuhan itu ternyata mampu memberikan hikmat kepada kita dan membawa kita kepada keselamatan. Ayat ini merupakan dasar untuk belajar firman Tuhan sedangkan prosesnya ada pada ayat 16. Namun, jika kita sudah memiliki dasar ini, maka iman kita akan semakin kuat. Walaupun dalam dunia saat ini banyak sekali ajaran-ajaran yang menggiurkan hati kita. Di mana-mana banyak sekali orang yang menonjolkan ajaran-ajarannya. Padahal, di atas semuanya itu masih ada yang sangat berkuasa dalam diri kita yaitu Tuhan. Bagaimana kita bisa mengenal kehendak Tuhan dalam diri kita? Ialah kalau kita selalu belajar dari firman Tuhan. Salah satu teologi Martin Luther ialah sola scriptura (hanya oleh Alkitab) kita diselamatkan. Jadi, bukan yang lain. Setiap pagi kita saat teduh, sebelum memulai pekerjaan. Seluruh keluarga dituntun untuk berdoa bersama. Kita mengajarkan kepada anak kita, atau membacakannya supaya mereka selalu ingat akan firman Tuhan itu. Kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui firman-Nya, semakin kita mengenal-Nya, sehingga, kalau kita semakin giat untuk membaca firman Tuhan, maka kita akan memperoleh hikmat dari Tuhan dan keselamatan itu akan kita dapatkan karena dia yang berkuasa di dalam diri kita bukan kekuatan kita sendiri. Walaupun sekarang ini kita melihat, setiap datang ke gereja, tidak membawa Alkitab. Padahal mulai dari situlah kita akan mengenal kebenaran Tuhan. Di sini berarti bukan kekuatan kita, bukan kehebatan yang kita miliki. Toh nyatanya kita melihat sekarang ini, banyak yang pintar, tetapi menyesatkan. Apakah kita termasuk salah satunya? Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar