Jumat, 23 April 2010

GOSIP (Yakobus 3: 1-12)

Oleh; Marta Sembiring


Pendahuluan
Mengapa kata “gosip” sering diberi kepanjangan makin digosok makin sip? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan mulai dari fungsi mulut (karena gosip berhubungan dengan mulut). Coba saja kalau di depan kita ada semangkuk sup yang panas, lalu kita tiup dengan mulut maka sup itu akan menjadi hangat dan nikmat untuk dikecap. Dari sini kita dapat lihat bahwa salah satu fungsi mulut adalah mengubah sesuatu dari yang panas menjadi hangat. Bukan Cuma itu, mulut pun bisa membuat perasaan menjadi panas. Jadi tidak salah kalau gosip menjadi suatu hal yang mengasyikkan. Masalah kecil bisa menjadi masalah besar dan sebaliknya, tergantung bagaimana mulut itu digunakan. Tetapi sebagai orang Kristen apakah kita bisa ikut-ikutan ngegosip? Apa kata Alkitab tentang gosip? Dan pasti banyak pertanyaan lainnya yang muncul dalam pikiran kita ketika kita mendengar tentang gosip. Untuk itu dalam paper ini akan dibahas mengenai pengertian gosip, tafsiran Yak. 3:1-12 tentang penggunaan lidah, makna teologis Yak. 3:1-12, pelopor gosip, dan bagaimana cara mengatasi gosip.

Pembahasan
1. Pengertian Gosip
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan gosip adalah obrolan tentang orang lain, cerita negatif tentang seseorang, pergunjingan. Bermula dari suatu pembicaraan biasa, tetapi tanpa sadar bisa menjadi obrolan yang berisi gosip. Membicarakan seorang pribadi tanpa suatu data dan fakta yang teruji atau terbukti lebih dulu. Dari suatu pembicaraan antara dua orang atau lebih, pesan-pesan negatif itu akan diteruskan kepada orang lain dan jadilah gosip yang sip. Dalam bahasa Jawa dikenal istilah ngrasani, ini memang menarik karena berita yang didengar akan diteruskan lagi dengan “bumbu-bumbu yang sedap”. Apalagi kalau pribadi itu adalah orang yang kurang disenangi suatu kelompok masyarakat, wah asyik. Jadi gosip adalah jenis kimunikasi yang rancu, tidak jujur dan bersifat negatif. Ciri pertama; bila kita berbicara kepada orang lain tentang hal yang tidak benar dan belum jelas, seperti halnya isu. Kedua, bila kita membicarakan hal yang benar tetapi merupakan rahasia atau bersifat pribadi, apalagi kalau ditambah dengan komentar yang menjelek-jelekkan.

2. Tafsiran Singkat Yakobus 1:1-12
Bagian yang panjang mengenai pengendalian lidah dimulai dengan pernyataan bahwa hanya ada sedikit pengajar dalam jemaat. Berbeda dengan para nabi, pengajar boleh dipikirkan sebagai orang yang memberi pandangan baru terhadap bahan-bahan yang lama, sebagai yang menjaga dan menafsirkan kembali tradisi. Jelas Yakobus berperan sebagai pengajar dan menafsirkan kembali hukum (2:8, 10), menerapkan kitab suci (1:10; 2:23) dan mempergunakan ajaran-ajaran Yesus (1:5, 17; 4:3). Tidak jelas mengapa hanya ada sedikit pengajar (3:1), Yakobus hanya mengatakan bahwa pengajar menghadapi penilaian yang keras, tema yang kerap ia tekankan (2:12-13). Perhatian kepada pengajaran merupakan pengantar ke arah pembicaraan yang lebih besar mengenai pengendalian lidah (3:2-12). Meskipun kita diperingatkan supaya senantiasa melaksanakan perintah (2:9-11), disini diakui bahwa kita masih tetap pendosa, gagal dalam salah satu perkara. Seseorang yang mengendalikan lidah adalah orang yang “sempurna”; kesempurnaan adalah kelengkapan atau kepenuhan perkembangan iman seseorang, tidak hanya tidak berdosa. “Ketekunan” mendatangkan kesempurnaan (1:4); pendengar yang melaksanakan iman adalah juga sempurna (1:25). Lagi, kita dihadapkan pada sebuah cita-cita: nilai besar diletakkan pada berbicara secara hati-hati. Sekarang, pengendalian lidah merupakan pokok standar dalam nasihat moral tradisional. Tradisi itu digunakan Yakobus tidak hanya dalam nasihatnya, tetapi juga dalam gambaran yang ia pergunakan untuk mendramatisir pentingnya masalah ini. Seperti sebuah kekang yang dipakai untuk mengendalikan kuda perkasa, demikian juga pengendalian lidah dimaksudkan untuk menguasai seluruh pribadi. Seperti sebuah kapal yang besar dikendalikan dan diarahkan oleh sebuah kemudi yang kecil, begitu juga kita dikendalikan dan diarahkan oleh sebuah kemudi yang kecil, begitu juga kita dikendalikan oleh mulut kita. Contoh ketiga digunakan untuk menekankan perlunya keutamaan ini: sebuah percikan api dapat membuat seluruh hutan terbakar, demikian juga lidah yang kecil dapat menghasilkan sebuah kekuatan besar yang merusak. Bahaya yang muncul dari lidah yang tak dikendalikan barangkali dilebih-lebihkan, bila Yakobus menyebutnya sebagai “suatu dunia kejahatan” yang selalu membahayakan kita sejak lahir (3:6), tetapi barangkali ungkapan ini merupakan bahasa tradisional yang digunakan untuk melukiskan pentingnya hal ini. Sebagaimana bahaya dan besarnya kerusakan yang dapat disebabkan oleh lidah yang tak terkendali, demikianlah juga bahaya dan besarnya kesulitan untuk mengendalikan lidah (3:8), dan karena itu, persoalan ini memang menuntut perhatian terus-menerus. Keprihatinan Yakobus pada lidah meresapi nasihat bahwa, di satu sisi, ia gusar mengenai iman yang hanya berhenti pada kata-kata, tanpa tindakan (2:15); ia memperingatkan terhadap orang-orang yang mengucapkan sumpah (5:13); ia memperingatkan mereka bahwa berbicara jahat mengenai orang lain mendatangkan penghakiman (4:11); di sisi lain ia menekankan pentingya terus-menerus mengendalikan suatu organ tubuh yang mampu membakar seluruh hutan dan membunuh dengan racun. Selain itu Yakobus juga menambahkan kalau dari satu mulut yang sama dapat mengeluarkan berkat sekaligus kutuk.

3. Makna Teologis Penggunaan lidah
Yakobus 3:1 bukan bertujuan untuk menakut-nakuti guru-guru yang mengajarkan Firman Tuhan, tetapi untuk memperingatkan bahwa seorang guru memikul tanggung jawab yang besar. Seorang guru rohani dapat dipandang sebagai seseorang yang sudah diberi bayak pengertian tentang firman Tuhan, dan ia mengajarkannya kepada orang lain. Kewajibannya tidak berhenti sampai di situ. Ia wajib melakukan apa yang diajarkannya. Memang bukan hanya guru-guru rohani saja yang cenderung berbuat salah. Semua orang cenderung melakukan kesalahan, terutama melalui tutur katanya. Lidah ini sering menimbulkan masalah karena terlalu cepat mencetuskan kata-kata yang tidak bijaksana. Semakin banyak bicara semakin besarlah kemungkinan untuk berbuat salah melalui kata-kata. Bila kita mengamati pekerjaan seorang guru, kita akan mengerti bahwa pekerjaannya itu menuntut dirinya untuk banyak berkata-kata. Dan betapa besarnya pengaruh kata-katanya itu kepada murid-muridnya. Maka dari itu seorang guru diperhadapkan dengan tanggung jawab yang besar atas tutur katanya. Sudah nyata, salah satu kesalahan yang paling sulit dihindari ialah kesalahan yang terjadi melalui kata-kata. Bila salah digunakan, lidah yang kecil ini dapat menimbulkan kehancuran yang bukan kepalang besarnya. Lidah yang dipakai untuk menyalurkan pikiran atau kehendak yang jahat tentunya menjadi sesuatu yang jahat pula. Bayangkan saja satu patah kata saja yang menusuk hati teman kita dapat membuat dia menjadi lawan kita. Satu patah kata yang mencetuskan suatu perintah dapat menimbulkan peperangan di dunia ini. Api yang terkendalikan tentu saja dapat menjadi berkat bagi manusia. Dengan api, kita dapat memasak, menggerakkan mesin, dsb. Demikian juga lidah yang terkendalikan tentu saja dapat menjadi berkat bagi manusia. Lidah yang disalahgunakan, akan mencemari seluruh kepribadian seseorang dan menghancurkan kehidupannya. Lidah seperti itu adalah lidah yang diserahkan untuk berbuat dosa. Hal tersebut tentu bertentangan dengan Firman Tuhan yang menghimbau agar kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran (lihat Roma 6:13). Dari kitab Kejadian, kita mengetahui bahwa manusia memang sudah diberi wewenang untuk berkuasa atas binatang-binatang (lihat Kej. 1:28), tetapi manusia itu sendiri tidak dapat menguasai lidahnya sendiri, namun Allah mampu menjinakkannya. Bila kita menyerahkan penggunaan lidah kita ke bawah pengendalian kuasa Roh Kudus, maka lidah kita dapat menjadi jinak dalam arti dapat dikendalikan (lihat Ef. 4:29, 30; Gal. 5:25). Manusia memiliki suatu keistimewaan dibandingkan dengan ciptaan lainnya, yaitu segambar dengan Allah. Dan dalam keadaannya yang istimewa itu manusia mempunyai kesanggupan untuk bersekutu dan berhubungan dengan Allah dengan cara mempergunakan lidah sebaik mungkin. Sebagai orang yang sudah ditebus oleh darah Kristus, hendaknya lidah kita ini jangan sampai diperalat oleh kejahatan, tetapi supaya menjadi alat Tuhan yang mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya (Rm. 6:13). Seperti yang tersirat juga dalam Yesaya 50:4: “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.” Namun bila kita tidak waspada, maka lidah kita ini mudah sekali diperalat oleh yang jahat. Lidah ini erat kaitannya dengan hati kita: “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Mat. 12:34). Maka dari itu supaya lidah ini tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, kita perlu mejaga kesejahteraan hati kita (lihat Ams. 4:23). Jangan sampai hati kita ini menjadi sarang kepahitan, kejengkelan, kebencian, kemarahan, iri, kepedihan, dsb., tetapi hendaknya hati kita dipenuhi dengan kasih Yesus. “Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?” (Yak. 3:11), begitulah gambarannya bila berkat dan kutuk keluar dari mulut yang sama. Itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, bukan? Namun bila terjadi juga, itu adalah pertanda bahwa kerohanian kita sedang sakit. Mungkin ada virus kekecewaan, kepahitan, kedongkolan yang mendekam di dalam diri kita. Kita perlu membereskannya di hadapan Tuhan. Kita perlu diampuni oleh Tuhan dan kita perlu mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Bilamana hati kita sedang sejahtera atau tidak, kerohanian kita sedang sakit atau sehat, itu akan tercermin melalui tutur kata dan perilaku kita.

4. Pelopor Gosip
Gosip adalah bentuk komunikasi yang dulunya dipelopori oleh Iblis. Yang digosipkan firman Allah yaitu menambah-nambah kata dengan tujuan menjatuhkan manusia jatuh ke dalam dosa. Dengan pertanyaan manis dia berkata: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (Kej. 3:1b). Iblis mulai obrolannya dengan manusia tentang apa yang Allah katakan dan inilah cara dia menarik perhatian manusia. Ia tidak menyerang Firman Allah tetapi ia seolah membenarkannya lebih dulu. Baru saat Hawa mengiakan barulah ia menyimpangkan makna yang sebenarnya. Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." (Kej. 3:4-5). Itulah cara licik iblis memanipulasi komunikasi dan terciptalah gosip yang pertama, bahkan terus berkembang dalam kehidupan sehari-hari sampai saat ini. Iblis selalu memakai pernyataan Allah dan menggantinya menjadi suatu pertanyaan yang membuat manusia menjadi ragu dan bingung.

5. Cara Menghadapi Gosip
Menurut Willy Purwosuwito, belajar dari apa yang Yesus ajarkan sebetulnya kita harus mengontrol mulut kita. Mengaburkan fakta itu sendiri dengan menambah dan mengurangi sudah berarti gosip. Benar tidaknya gosip adalah urusan seseorang dengan Tuhan. Terkadang kita cenderung mau menghakimi apakah itu benar atau tidak. Kita pun sering mengantisipasi gosip dengan dalih mencari kebenaran, tetapi yang terjadi malah perselisihan dan pergunjingan yang tiada berakhir. Jangan tannya pada orang lain, apa kenal dengan orang itu dan tahu masalahnya. Sifat ingin tahu benar tidaknya sesuatu terkadang justru membuat gosip makin sip. Padahal kalau kita mendengar sesuatu yang buruk, seyogyanya kita harus mendoakan, bukanlah malah meneruskan. Menghentikan gosip dengan cara tidak menanyakan pada pihak ketiga adalah jauh lebih baik. Kita dapat menghilangkan gosip apabila kita tidak ikut larut dalam gosip itu sendiri. Seandainya kita kenal dan terbeban menasihati orang yang digosipkan, adalah lebih baik mendatanginya dan menanyakan masalahnya secara bijaksana. Berdoalah bersama orang yang sedang digosipkan, mintalah pimpinan Roh Kudus agar gosip itu tidak melemahkan imannya. Gosip adalah salah satu bentuk komunikasi yang negatif yang merusak citra komunikasi Kristiani, karena itu kita harus tegas menghentikannya.

Kesimpulan dan relevansi
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa komunikasi cenderung menjadi negatif. Orang lebih suka mengatakan yang tidak baik ketimbang mengatakan yang baik. Keisengan sering digunakan orang karena ingin sesuatu yang lucu dengan memperdaya orang lain. Sengaja memberikan informasi yang tidak benar dan kemudian melihat apa yang terjadi. Gosip bisa karena iseng-iseng dan kadang-kadang memang lucu. Komunikasi memang memiliki banyak dimensi. Ada kebiasaan ibu-ibu rumah tangga yang mengisi waktu luangnya pergi ke tetangga. Tentu pertemuan rutin itu dipakai saling berbagi informasi. Ada saja topiknya, mulai dari keluarga samapai masalah berita umum. Membicarakan kasus korupsi di suatu instansi atau skandal seks yang dimuat di koran. Sayangnya lalu dihubung-hubungkan dengan orang yang ada di sekitarnya dan jadilah gosip itu. Bukan cuma relasi pribadi, dalam pertemuan kelompok PKK yang sebenarnya punya program yang baik, bisa saja pertemuan itu diselingi gosip pada acara ramah-tamahnya. Karena itu Majalah Humor pernah menulis akronim PKK yaitu: Perempuan Kurang Kerjaan. Maaf, benar atau tidak, itukan humornya majalah. Kebiasaan yang tidak baik ini memang ciri manusia yang belum dibaharui. Yakobus mengingatkan betapa bahayanya organ lidah ini. Bahkan dia mengatakan lidah pun adalah api yang bisa membakar hutan yang besar. Susahnya lidah tidak mudah dijinakkan kalau sudah buas, penuh racun yang mematikan. Luka akibat pisau masih bisa sembuh, tetapi luka akibat gosip tak mudah dilupakan. Memang fungsi lidah itu kontroversial, demikian lanjut Yakobus. Yang positif kalau itu untuk memuji Tuhan, tetapi menjadi negatif kalau itu untuk mengutuk manusia. Dari satu mulut bisa keluar berkat tetapi bisa juga keluar kutuk. Tergantung kebiasaan kita yang mana. Kalau gosip itu sudah menjadi bagian komunikasi dalam masyarakat, bagaimana dengan komunikasi dalam lingkungan Kristen sendiri. Serasa tidak percaya kalau gosip juga merebak di lingkungan yang bersifat rohani. Hadirnya kelompok-kelompok persekutuan doa bahkan kemudian berkembang menjadi suatu jemaat adalah baik dan positif, jika hal itu memang atas kehendak Tuhan. Kehadiran suatu kelompok persekutuan baru, biasanya selalu mendapat reaksi dari kelompok yang sudah ada. Tak jarang kalau gosip juga menjadi ajang komunikasi di lingkungan Kristen. Apalagi kalau itu menyangkut adanya perpecahan dalam tubuh satu persekutuan atau gereja, atau kalau ada seorang hamba Tuhan yang jatuh dalam dosa. Isu semacam itu bisa menjadi gosip yang terus berkembang tanpa dirancang. Sepertinya sudah otomatis secara sengaja atau tidak sengaja akan cepat tersebar luas. Sangat tidak terpuji bila gosip itu justru diplopori oleh seorang pemimpin gereja atau persekutuan bahkan seorang hamba Tuhan. Tidak jarang terbukti hal ini terjadi karena adanya persaingan yang tidak sehat di antara gereja-gereja atau kelompok persekutuan yang ada. Inti dari semuanya itu karena persaingan yang tidak sehat di antara gereja-gereja atau kelompok persekutuan yang ada. Inti dari semuanya itu karena ingin mengatakan kelompok sayalah yang benar dan baik dan yang lain kurang baik. Firman Allah mengingatkan: "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” (1 Pet. 3:10).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar