Jumat, 23 April 2010

Bahan Khotbah 1

KUASA MAUT DITUNDUKKAN OLEH KEBANGKITAN KRISTUS
Yesaya 25:6-9; Mazmur 118:1-2; 14-24 Kisah Rasul 10:34-43; Yohanes 20:1-18


Ketika masih remaja saya pernah nonton tukang jual obat dari Cina. Sebelum orang itu menawarkan obatnya, lebih dulu ia mempertontonkan kehebatannya. Sebatang besi yang lurus dibengkokkan, kemudian diluruskan kembali. Dia juga mengeluarkan seutas tali, lalu bertanya apakah di antara penonton ada yang bersedia untuk diikat dengan tali itu, jika bisa melepaskan diri atau memutuskannya akan diberi hadiah. Tapi tak ada seorang pun yang berani. Akhirnya dia minta seorang penonton dewasa untuk mengikat kedua tangannya dengan tali itu, lalu setelah mengumpulkan segenap tenaganya ia berhasil memutuskan ikatannya! Ada dua hal yang menarik hati penonton, yaitu: Pertama, setelah kedua tangannya terikat maka ia berlagak dan melucu seperti seorang tawanan yang tak berdaya dan menangis minta dikasihani. Kedua, ketika ia menunjukkan keperkasaannya dengan cara memutuskan tali pengikat itu! Apa yang pernah saya tonton itu tentu saja ada hubungannya dengan tema kotbah kita hari ini. Yesus Kristus sengaja membiarkan diriNya diikat oleh tali maut, supaya kemudian dapat membuktikan bahwa kuasa kebangkitanNya lebih besar dari kuasa maut!

Apa artinya jika kita sebut Yesus Kristus itu Penebus dan Juru Selamat? Artinya, kita yakini bahwa Ia datang ke dunia ini memang dengan tujuan untuk mati tersalib. Yesus Kristus memang Guru besar yang mengajar, Ia Tabib Agung yang menyembuhkan, Ia berkuasa melakukan banyak mujizat dan seterusnya. Tapi tujuan utamanya datang ke dunia adalah menjadi Juru Pelepas, untuk itu Ia harus mati, mati tersalib! Seolah Yesus sudah teken kontrak sama maut. Ketika masih bayi Ia sudah “ditakut-takuti” oleh maut yang merenggut puluhan jiwa sebayaNya. HatiNya begitu peka terhadap korban maut, sehingga lalu muncul berita tunggal tentang tangisanNya, yaitu waktu Lazarus sudah empat hari menjadi korban maut:” Maka menangislah Yesus.” Yohanes 11:35, konon ini merupakan ayat paling pendek dalam Alkitab kita. Di Betania ketika Maria mengurapi dengan minyak narwastu, Yesus menghargai dan menghubungkan tindakan itu dengan persiapan penguburanNya. Di taman Getsemani hati Yesus Kristus digoncang oleh mautnya jutaan manusia berdosa, yang dihadapiNya seorang diri saja. Billy Graham membedakan maut kita menjadi tiga macam, yaitu: Pertama, keterpisahan kita dengan Allah. Gara-gara dosa maka kita mengalami putus hubungan dengan Allah, padahal Allah merupakan sumber hidup.Tak ada hubungan lagi dengan sumber hidup, berarti tidak hidup alias mati! Meskipun masih bernafas dan beraktivitas tapi berada dalam kuasa maut karena menolak Allah. Kedua, maut karena tutup usia atau sudah tak bernafas lagi, tewas atau meninggal dunia. Ketiga, adalah maut kekal. Mereka yang mengalami maut yang pertama dan maut kedua, maka akan mengalami pula yang ke tiga. Orang yang dalam keadaan putus hubungan dengan Allah, bilamana meninggal dunia, maka ia akan masuk neraka, yaitu maut kekal! Kalau begitu, karena dosa sudah memisahkan kita dari Allah, maka seharusnyalah jika kita mewarisi triple maut atau maut yang tiga lapis itu tadi. Dan sebagai wakil kita maka Yesus Kristus harus berhadapan dengan segala macam mautnya manusia yang menyatu sebagai kuasa yang dahsyat, sebab kokoh dan tak tertahankan oleh kekuatan manusia mana pun! Jangan lupa bahwa kematian kekal itu hanya dapat dihadapi oleh kuasa illahi yang juga kekal. Maka Allah sudah inkarnasi menjadi manusia yang bernama Yesus, yang di dalam diriNya ada kuasa illahi dengan kaliber kekal. Satu pertanyaan penting, yaitu: Bagaimana mungkin kuasa maut sehebat itu dapat ditundukkan oleh kebangkitan Kristus? Di dalam Kisah Rasul 10 yang sudah kita baca tadi terdapat jawabannya, yaitu karena keillahian Tuhan lebih unggul daripada maut! Dalam Kisah rasul 10:40 dikatakan “ Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga.” Bagaimana caranya tidak dijelaskan ,hal itu merupakan rahasia illahi, namun yang pasti di sini telah tampil kuasa illahi yang esa itu untuk secara khusus membangkitkan jasad Yesus yang sudah mewujud sebagai jenazah. Karenanya maka dalam ayat selanjutnya, yaitu ayat 41 dikatakan: “ . . . . Ia bangkit dari antara orang mati.” Dengan demikian dapat kita katakan bahwa sesudah dibangkitkan, maka Ia pun bangkit dari kematianNya. Semua itu disebabkan oleh karena keberadaanNya yang mantap dan prestasiNya yang hebat , serta pengorbanan sempurna yang dipersembahkanNya, sehingga membuatNya untuk patut dibangkitkan supaya selanjutnya Ia bangkit mengalahkan maut!

Maka dalam I Korintus 15:54,55 kita membaca sorak kemenangan: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Maria Magdalena sebetulnya telah “diundang” untuk merayakan dan juga diminta menjadi saksi yang pertama dari kemenangan Kristus, tetapi dia malah begitu kebingungan mencari jenazah gurunya yang “terhilang” itu. Dengan demikian dia lebih memilih menangis sedih daripada bersorak sorai kegirangan! Sayang bahwa Maria Magdalena tidak memiliki iman yang cerdas. Sebagai pengikut setia tentunya ia pernah mendengar janji Tuhan Yesus yang akan bangkit setelah kematianNya (Lukas 9:22 dll). Atau juga bisa dikatakan bahwa kesedihan , telah membuat mata rohaninya jadi kabur. Event sorgawi yang ditandai dengan kehadiran dan sapaan dua orang malaikat yang secara khusus telah diutus Allah dari sorga itu, tidak dihargai sebagaimana mestinya. Bahkan penampakan dan sapaan yang sulung dari Kristus setelah kemenanganNya, telah diturunkan nilainya menjadi sekedar penampilan dan sapaan dari seorang penunggu taman saja!

Apa yang sudah kita baca di Yesaya 25 tadi? Bahwa Tuhan akan mengoyakkan kain perkabungan, akan meniadakan maut untuk seterusnya, akan menghapus air mata. Sebagai gantinya Tuhan akan mengadakan jamuan sukacita, dan keselamatan! Semua itu diadakan di gunung Sion dan diperuntukkan bagi segala bangsa-bangsa! Tentu semua ini berhubungan erat dengan tema kotbah kita hari ini. Jika waktu itu baru berbentuk nubuat, maka dalam Kristus Yesus sudah terwujud. Kuasa maut telah dipatahkan oleh kebangkitanNya. Kalimat pendek ini mempunyai makna yang sama dengan tema kotbah kita. Kalimat pendek ini dipertanyakan sampai sejauh mana sudah menjadi kenyataan. Baiklah sekarang kita mau melihat betapa dalam Kristus dan oleh Kristus kuasa maut itu sudah dipatahkan.

Pertama, Maut kekal atau keterpisahan kita dari Allah sumber hidup itu,sudah diubah menjadi persekutuan, persahabatan, kekeluargaan illahi! “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah…..” I Yohanes 3:1 Kristus sudah berhasil memperdamaikan kita dengan Allah. Kebangkitan Kristus merupakan bukti akurat bahwa Allah sudah menyambut baik karya dan pengorbanan dari wakil kita itu! Kita sudah tidak berjauhan lagi dengan Allah, karena jasa Kristus maka sekarang kita dan Allah sudah menjadi sangat dekat.

Kedua, Tutup usia atau meninggal dunia bukan merupakan momok yang menakutkan, sebab dalam Kristus dan oleh Kristus sudah diubah justeru menjadi jembatan dan pintu gerbang untuk berpindah dari hidup fana ke hidup yang baka dan mulia!

Ketiga, Manusia berdosa yang dimurkai Allah sudah tidak diancam oleh api neraka, tetapi dibukai pintu sorga.Kain perkabungan sudah dikoyak-koyak.Airmata sudah harus segera dihapus, jamuan sukacita diselenggarakan sebab keselamatan dianugerahkan kepada seluruh bangsa dan setiap pribadi yang mau menerimanya!

O ya, saya pernah dengar kata orang bahwa Alkitab tanpa Petrus pasti akan menjadi sepi. Itu agak berlebihan, tapi juga ada benarnya. Paska akan terasa kurang lengkap sekiranya Petrus tak kunjung muncul di kubur Yesus. Mari kita simak sepintas kiprah Petrus di seputar Paska: Saudara masih ingat Petrus yang membanggakan kesetiaannya dengan berkata kepada Tuhan Yesus: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Matius 26:33}, Saudara juga pasti masih ingat Petrus yang menyangkal Yesus sampai tiga kali! Nah, Petrus yang raport rohaninya seperti itu ternyata diam-diam sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi saksi kebangkitanNya. Pagi itu bersama Yohanes ia berada di kubur Yesus yang kosong! Itu sebabnya maka kemudian dengan mantap Petrus berkhotbah di hari Pentakosta, bicara di hadapan Mahkamah Agama, di beberapa kesempatan lain dan tadi kita juga membaca dalam Kisah Rasul 10, Petrus yang dipilih Tuhan untuk meneguhkan iman Kornelius melalui kesaksiannya tentang kebangkitan Kristus, lalu membaptiskan Kornelius perwira Romawi itu. Saudara, mari kita terima kisah Petrus ini sebagai pesan khusus dari Tuhan untuk setiap pengikut Kristus agar jangan ragu dan bimbang menjadi saksi Kristus sekarang dan seterusnya. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, ...” II Timotius 4:2.

Dalam Mazmur tanggapan tadi, yaitu Mazmur 118:17 kita membaca “Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan.” Sebagai orang yang sudah diperjuangkan dan dibebaskan dari maut ngeri, marilah kita ungkapkan rasa syukur terima kasih kita kepada Tuhan dengan cara bersaksi dan bersaksi kepada sesama yang kita jumpai di sepanjang hidup kita!

Akhirnya Saudara, sambutlah Ucapan Selamat Hari Paska dari saya dalam bentuk untaian kata indah sebagai berikut: “Setiap lilin dapat meleleh dan apinya bisa padam, tetapi Lilin Paska akan membawa seberkas cahaya sorgawi ke dalam hatimu!”


3 Kristen / Renungan / TIADA KETAATAN TANPA PENGORBANAN (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
on: March 22, 2009, 01:27:21 AM
Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 5 April 2009
Minggu Pra- Paska VI- Minggu Palem
TIADA KETAATAN TANPA PENGORBANAN
Yesaya 50:4-9 Mazmur 31:9-16 Filipi 2:5-11 Markus 14:1-15:47

Di senja yang teramat dingin, konon ada seorang raja dengan keretanya pulang ke istana dari suatu perjalanan yang penting. Setibanya di gerbang istana raja itu keheranan sebab tidak mendapat sambutan hangat dari sang penjaga pintu gerbang. Biasanya petugas pintu gerbang melakukan sebuah gerakan penghormatan dengan tombak di tangan sambil memperdengarkan suara lantangnya :” Hormat kepada paduka Raja!” Tapi saat itu dengan tubuh yang bersandar pada dinding gerbang agaknya sang penjaga sedang tertidur, maka dengan nada marah baginda raja memerintahkan panglimanya untuk memeriksa petugas yang melalaikan tugas itu. Setelah diamati ternyata penjaga gerbang itu sudah tak bernyawa dengan tubuh yang kaku. Dalam ketaatannya ia bertahan terus melawan udara dingin sampai hembusan nafas yang terakhir. Ia mati dalam tugas, ia rela mengorbankan nyawa bagi rajanya. Mengetahui hal itu maka baginda raja bergegas turun dari kereta, kemudian ia menyuruh panglimanya untuk melepas topi sang penjaga dan diganti mahkota milik raja, sambil katanya:” Dia patut mendapat penghormatan ini karena ketaatan dan pengorbanannya!” Walau hanya sejenak, namun tak pernah ada rakyat sedemikian rendah derajatnya beroleh penghormatan yang sedemikian tingginya!

Tuhan Raja sorgawi yang mulia juga sering menunjukkan penghargaanNya kepada orang-orang sederhana, seperti dalam Yesaya 50 tadi. Di sini tampil satu pribadi yang sangat menarik sebab walaupun hidupnya sederhana bahkan menderita, namun juga kuat, tabah , taat, rela berkorban dan memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Tuhan! Mengenai dia, dalam Alkitab diberi judul Ketaatan hamba Tuhan.Coba kita tinjau sepintas keistimewaannya: Dia merasa sudah diberi oleh Tuhan lidah seorang murid supaya dapat memberi semangat baru kepada yang letih lesu. Sebagaimana Tuhan yang menjadi gurunya, maka hamba itu dengan perkataannya telah menghibur sesamanya, memberi dorongan serta pengharapan kepada yang berputus asa. Setiap hari ia juga terlatih untuk mendengar dengan penuh pemahaman, sampai hanya melaksanakan kehendak guru dan Tuhannya tanpa memberontak. Kesediaannya melayani orang lain sedemikian besar sampai ia rela dipukuli punggungnya, disakiti pipinya dan diludahi wajahnya. Saudara, sampai di sini kita lalu ingat kepada Yesus Kristus. Bukankah nasib hamba Tuhan tadi begitu miripnya dengan Yesus Kristus? Kalau begitu pribadi dalam Yesaya 50 ini adalah nubuat dan menggambarkan Kristus, sebab Kristus juga melakukan tiga langkah yang penting dalam hidupNya: Pertama , Dengan lidahNya menyampaikan firman Tuhan dan berbagai pelajaran, kotbah , teguran, penghiburan serta memberi dorongan kepada yang letih lesu dan berputus asa. Kedua, Dengan telingaNya yang tajam dan terlatih selalu siap mendengar keluhan, permohonan, penuh pemahaman serta kepedulian kepada semua lapisan masyarakat. Ketiga, Dalam sikap taat kepada Bapa , dengan konsistensi yang tinggi, rela mengorbankan jiwa raga serta kemuliaanNya demi kasihNya kepada umat manusia yang berdosa.

Pelayanan Yesus Kristus di sepanjang hidupNya ditandai dengan tiga hal tadi, begitu jelas, begitu kongkrit, dan semakin memuncak! Apa yang kita baca dalam injil Markus tadi menunjukkan betapa Kristus berada di dalam keseriusan, kondisi yang menegangkan, pergumulan yang berat, ancaman yang membahayakan jiwa karena serangan dari luar dan dalam, akhirnya pembantaian dan penguburanNya! Kita bisa mengatakan bahwa semua itu memang sudah merupakan misi dan tujuanNya ketika datang ke dalam dunia ini. Tapi jangan lupa bahwa itu dilihat hanya dari sisi illahiNya saja, bagaimana jika ditinjau dari sisi manusiawiNya? Untuk menyelamatkan dunia rencana Allah memang indah, tapi bagaimana dalam pelaksanaannya? Bukan lagi rencana yang indah dan manis tapi mengerikan dan pahit! Pengorbanan Kristus harus kita hayati sebagai suatu kesungguhan dan bukan hanya formalitas apalagi sekedar sandiwara. Maha tahuNya akan semakin membuat hatiNya perih, sebab mampu mengetahui segala rencana jahat orang-orang yang memusuhiNya. Maha kuasaNya yang harus diredam justeru semakin menyakitkan, sebab sebenarnya tidak ada kesulitan untuk membela diri. Maha suciNya bikin hati semakin merasa jijik, sebab dikepung oleh orang-orang munafik yang membenciNya. Maha adilNya berpotensi memancing keinginan dalam diriNya untuk tidak terima dan memberontak. Maha kasihNya menghasilkan pengorbanan dalam ketaatan yang mengagumkan!

Dalam Markus 14 tadi kita dapat mengikuti pergumulan Tuhan Yesus Kristus di taman Getsemani. Di sini kita dapat menyaksikan ketaatan dan pengorbanan Kristus, yang membuat kita semakin menghargai dan mengagumi pribadiNya. Sekilas pandang sikap Tuhan Yesus sangat memalukan, sebab pada waktu itu Dia begitu takut dan gentar serta hatiNya sangat sedih. Belum lagi kemudian Ia minta supaya saat yang kelam itu bisa lalu dari padaNya, dan minta agar cawan (kematianNya) diambil oleh Bapa. Tapi doaNya diakhiri dengan kata “Tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” Dan hal ini bukan sekedar basa-basi rohani. Dalam semua doa serta sikap Tuhan Yesus tak ada secuil pun yang hanya basa-basi. Kita selaku pengikut Kristus tidak perlu merasa malu, dan jangan sekali-kali mencela sikap Tuhan Yesus! Malah seharusnya kita merasa bangga bahwa wakil kita berterus terang dan taat. Jika Kristus Yesus tampak begitu ketakutan, maka hal itu justeru menunjukkan bahwa maut yang dihadapiNya bukanlah sembarang maut. Tapi itulah mautnya seluruh umat manusia, dan merupakan hukuman Allah, bukan maut sebagai jembatan untuk masuk ke sorga. Juga murka Allah sebagai hukuman kekal yang dahsyat, harus ditanggung oleh Yesus seorang diri. Hukuman yang kekal itu bakal dipadatkan untuk dapat ditanggungNya dalam waktu yang terbatas. Di sini kita dapat melihat pentingnya Juru Selamat kita itu bersifat illahi yang kekal, supaya dengan kaliber illahiNya yang kekal, mampu menanggung hukuman yang kekal pula. Lihatlah Saudara, dalam kejujuranNya Ia berterus terang bahwa pada dasarnya tidak menyukai bahkan takut menghadapi semua itu, tapi dalam ketaatanNya Ia menyerahkan diriNya kepada Bapa!

Apa yang kita baca dalam Filipi 2 tadi? Seorang manusia yang taat demi Tuhan, dan Tuhan yang taat demi manusia. Manusia sejati dan Tuhan sejati yang telah memberikan teladan ketaatan dalam kerelaan dan kesadaranNya yang tinggi! Kita disuguhi pelajaran kasih yang luar biasa, kasih yang mampu membungkus segala dosa pelanggaran kita! Kasih yang lebih besar dari hidupNya sendiri! Kasih yang mampu menyangkal dan mengorbankan identitas illahi sebagai milikNya yang paling mulia itu, untuk ditukarkan dengan identitas seorang hamba. Seorang hamba yang taat kepada TuanNya yang adalah BapaNya sendiri.Hal ini amat asing bagi Yesus dan semakin menyakitkan hatiNya sebab selama ini dengan Bapa Ia memiliki keakraban yang hebat! Namun demikian Ia tetap taat, Dia tetap percaya kepada BapaNya. Jadi, ketaatan Yesus Kristus juga berdasarkan kepercayaan kepada BapaNya. Percaya bahwa Bapa merupakan instansi tertinggi.
Konon, di Perancis ada orang bernama Leonard Wood. Ketika suatu hari ia diundang makan siang di istana oleh Baginda Raja, dia tidak memberi tanggapan (jawaban) tapi langsung saja hadir memenuhi undangan raja. Dengan demikian dia mendapat teguran dari Baginda Raja. Jawaban Leonard Wood sangat menarik, yaitu:”Undangan Raja tak perlu dijawab, tapi harus ditaati!” Saudara, terhadap seorang raja saja kita harus punya sikap taat seperti itu, terlebih lagi terhadap Tuhan ! Di sini ada satu teguran yang patut kita renungkan secara pribadi:
Kau sebut Aku Tuhan, tapi tidak menurut perintahKu
Kau sebut Aku Terang, tapi tidak mendekati Aku
Kau sebut Aku Jalan, tapi tidak melewati Aku
Kau sebut Aku hidup, tapi tidak menginginkan Aku
Kau sebut Aku bijaksana, tapi tidak meneladan Aku
Kau sebut Aku berterus terang, tapi tidak mempercayai Aku
Kau sebut Aku kaya, tapi tidak minta kepadaKu
Kau sebut Aku kekal, tapi tidak mencari Aku
Kau sebut Aku lemah lembut, tapi tidak mengasihi Aku
Kau sebut Aku mulia, tapi tidak melayani Aku
Kau sebut Aku maha kuasa, tapi tidak menghormati Aku
Kau sebut Aku adil, tapi tidak takut kepadaKu
Jika Aku menghukum engkau, jangan salahkan Aku!

Mazmur 31:15 yang telah kita baca tadi sangat elok: Tetapi aku, kepadaMu aku percaya ya Tuhan, aku berkata:”Engkaulah Allahku!”
1. Di sini kita diajak oleh Pemazmur untuk percaya kepada Tuhan dengan hati dan lidah kita. Dalam Roma 10:9 kita juga membaca “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”
2. Dalam Mazmur 31:15 ini kita juga diingatkan bahwa percaya secara pribadi merupakan awal yang tak dapat ditawar-tawar.Dari situ juga tak dapat ditawar-tawar untuk mewujud- nyatakan iman kita kepada dunia sekitar kita.
3. Lihatlah Mazmur 31:15 ini, kita diajak untuk mengarahkan mata hati kepada pribadi Tuhan dalam kegiatan iman kita. Mengagumi pribadiNya, sebagai Tuhan, sebagai Allah. Kita jadikan Dia kekasih jiwa kita .Merupakan kebahagiaan yang sangat memuaskan hati manakala jiwa kita dapat bertautan dengan pribadi yang kita sembah itu. Jika memiliki dasar iman seperti ini maka yang kita utamakan dalam pengabdian kita lalu bukanlah segala pemberian Tuhan, bahkan bukan sorga yang kita dambakan, tetapi Tuhan! Sebab kita merasa bahagia bahwa dalam hidup ini telah jumpa yang pantas kita perTuhan itu. Kalau sudah begitu maka setiap anak Tuhan akan memiliki sikap taat dan kesediaan berkorban yang besar!


4 Kristen / Renungan / IMAN YANG MEMBERI HIDUP (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
on: March 08, 2009, 04:33:37 AM
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 22 Maret 2009
Minggu Pra –Paska IV

IMAN YANG MEMBERI HIDUP
Bilangan 21:4-9 Mzmur 107:1-3, 17-22 Efesus 2:1-10 Yohanes 3:14-21

Ada sebuah cerita konyol , tapi tetap mengandung pelajaran untuk kita: Suatu hari ada sebuah gedung yang terbakar. Di jendela kamar tingkat dua seorang ibu sambil menggendong bayinya tampak sangat panik, karena sudah dikurung oleh kobaran api. Di antara kerumunan penduduk yang menyaksikan, terdapat seorang penjaga gawang sebuah kesebelasan sepak bola yang sudah terkenal. Demi keselamatan sang bayi, tentu saja semua orang menganjurkan supaya ibu itu mau melemparkan anaknya kepada sang penjaga gawang yang sudah ahli menangkap bola. Setelah melalui pergumulan yang berat, akhirnya ibu itu mempercayakan anaknya kepada sang penjaga gawang yang dengan mulus dapat menyambut lemparan “bola yang bisa menangis” itu dari atas loteng. Keberhasilan sang penjaga gawang disambut sorak sorai dari semua orang yang menyaksikannya. Tapi apa yang terjadi kemudian? Sorak sorai orang banyak telah membuat sang penjaga gawang lupa diri, merasa seolah sedang berada di lapangan sepak bola, ia melakukan gerakan maju ke depan lalu tiba-tiba dengan keras sekali menendang “bola hidup” melayang tinggi di udara! Cerita seperti ini dapat kita baca di Buku Mutiara- Mutiara Kasih. Di sini ada dua hal penting yang berkaitan dengan tema khotbah kita yaitu Pertama, Supaya kita beroleh hidup dan selamat, maka perlu ada tindakan penyerahan diri kepada yang kita imani. Kedua, Hati-hatilah kepada siapa kita mempercayakan diri, jika sampai salah alamat bisa berabe! Hanya dengan beriman kepada Kristus maka kita akan hidup!


Perjalanan umat Tuhan menuju ke Tanah Perjanjian itu sesungguhnya merupakan perjalanan – iman. Mereka tahu, bahkan mengalami betapa sulitnya untuk dapat membebaskan diri dari cengkraman tangan Firaun. Prakarsa adalah dari Tuhan, begitu pula dengan upaya jebol- umat dilakukan oleh tangan Tuhan sendiri. Sepuluh macam tulah dari Tuhan itu selain untuk “menggertak” Firaun, juga untuk memantapkan iman umat Tuhan sebelum mereka mengayunkan langkah, to say good bye kepada Firaun dan bangsa Mesir. Sebelum melangkah jauh Tuhan memandang perlu memberi kesan yang mendalam bahwa yang menyertai perjalanan mereka itu lebih kuat dari kereta dan kuda orang Mesir, sebab Tuhan berkuasa mendirikan tembok besar dari air laut! Perjalanan umat Tuhan dapat berlanjut, dan musuh dikubur dalam laut! Segala puja puji serta kekaguman seluruh umat dengan berlimpah diungkap di hadapan Tuhan. Dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, tak henti-hentinya Tuhan memperkenalkan diri melalui macam-macam peristiwa yang memperkaya iman umat.


Jadi, dalam kurun waktu yang cukup panjang itu, umat Tuhan tentunya sudah memperoleh banyak pelajaran- iman yang mendewasakan mereka. Tapi suatu hari, diluar dugaan terjadilah sebuah blunder atau kesalahan yang dilakukan oleh mereka! Sepintas kelihatan sepele saja, hanya ada perasaan kurang senang yang dibiarkan berkembang, lalu diungkap dalam lontaran kritik yang ditujukan kepada Allah dan Musa! Tetapi itu adalah kotoran, berasal dari hati yang tak dapat dibendung lalu meluncur dalam bentuk wacana bagaikan panah beracun yang diluncurkan kepada Allah dan Musa (Bilangan 21:5). Di ayat ini dikatakan: Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa. Berarti mereka telah berani mengacungkan tinju, menolak dan menyerang! Mereka berkata:”Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami sudah muak.” Betapa kecewanya Tuhan, sangat marah dan tentu juga sangat sedih tatkala melihat hati mereka dan mendengar perkataan mereka.

Dosa mereka adalah: Pertama, Berani menuduh Musa dan Tuhan tidak bertanggung jawab dan menelantarkan mereka, sampai bisa saja mengakibatkan kematian mereka di padang gurun. Padahal Musa dan terlebih lagi Tuhan, sudah sedemikian membela serta memperjuangkan kebebasan mereka dari suatu perbudakan yang sangat berat dan hina di Mesir.Mereka tidak mempunyai kepekaan atas pembelaan dan perjuangan Tuhan, yang sampai ditandai dengan berbagai mujizat itu. Kedua, Dari suatu keterpurukan sekarang mereka sedang dalam proses menuju ke suatu pembaruan, menjadi sebuah bangsa yang solid dan terhormat.Tetapi kritik pedas mereka itu menunjukkan bahwa mereka masih lebih suka tinggal di Mesir walaupun dengan status budak! Ketiga, Mengapa mereka berani bicara mengenai apa yang mereka makan dan minum? Jika Tuhan tidak memelihara dari hari ke hari apakah mereka masih bisa bertahan sampai saat itu? Mengapa mereka tidak mau belajar hidup perihatin sambil memperbanyak ucapan syukur, bukankah mereka sedang menjalani perjuangan yang berpengharapan? Kata-kata kasar yang diungkap oleh mereka itu telah menghapus segala ucapan syukur mereka pada waktu yang lalu, dan mereka juga telah menyangkal pemeliharaan Tuhan yang konsisten dan ajaib selama itu. Keempat, Dengan demikian mereka telah mencampakkan hidup yang sangat berharga, yaitu hidup dalam persekutuan dengan Tuhan di setiap saat dan langkah! Hidup sebagai partner Tuhan merupakan kebahagiaan terbesar, sebab di dunia ini hidup kita menjadi berharga justeru jika bersentuhan dengan Tuhan. Melihat kebrengsekan mereka itu, jangan-jangan Tuhan akan lepas tangan dan angkat kaki, atau membuang mereka seperti membuang gombal busuk!

Kritik yang mereka lontarkan mempunyai daya untuk mematahkan semangat, tapi Tuhan tidak sudi terpancing untuk mutung, Ia pilih menjatuhkan hukuman berat yang dapat mendidik bangsa itu supaya lebih bersungguh-sungguh menjaga hati dan mulutnya. Jika tertulis bahwa Tuhan menyuruh ular-ular tedung …..(Bilangan 21:6) hal itu tentu adalah merupakan kewenangan Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat! Dapat dikatakan bahwa Tuhan telah mengizinkan ular-ular berbisa itu mencelakai mereka. Tetapi kemungkinan terbesar yaitu Tuhan telah mengendurkan perlindunganNya atas mereka , sehingga dengan leluasa ular-ular berbisa itu memagut banyak dari mereka. Dalam hukumanNya yang keras itu kita menarik kesimpulan demikian: 1.Tuhan sangat menaruh perhatian kepada hati dan mulut kita, karena kita adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya, gambarNya, kekasih, bahkan anakNya! 2. Dalam hidup ini sebenarnya terdapat banyak “ular tedung” yang berpotensi membinasakan kita, sekiranya kita tidak dilindungi oleh kuasa Tuhan.

Selanjutnya kita membaca bahwa mereka, umat Tuhan itu menyesali dosa serta mohon belas kasihan Tuhan, lalu Tuhan pun bersedia menerima mereka. Tuhan memberi jalan keluar bagi mereka yang dipagut ular berbisa itu. Bila mau memandang ular tembaga buatan Musa yang dipasang pada sebuah tiang, maka mereka yang sudah di ambang maut dapat tertolong dan sembuh kembali. Dengan beriman maka bisa hidup. Inilah iman yang memberi hidup! Cara Tuhan menolong mereka sangat menarik, tidak meniadakan ular-ular tedung tetapi menampilkan tandingannya atau penawarnya. Sebenarnya bukan ular tembaga itu yang menyelamatkan atau menyembuhkan, tapi mempercayai perkataan Tuhan yang mengatakan barangsiapa memandangnya akan selamat. Mempercayai perkataan Tuhan berarti mempercayai Tuhan yang berkata itu. Jadi yang menyelamatkan bukanlah benda dari tembaga itu, tetapi Tuhan yang dipercayai dengan benar. Benda dari tembaga itu hanyalah sebuah tanda, lambang, simbol. Menjadi penting bila manusia bisa melihat Tuhan yang ada di belakangnya. Sama seperti buah dari pohon di tengah taman Eden itu, menjadi penting sebab ada Tuhan yang sudah menyampaikan pesanNya yang harus dipercaya!

Dalam Yohanes 3 tadi dikatakan bahwa Yesus Kristus sama dengan ular tembaga Musa, yaitu sama-sama ditinggikan pada tiang. Tetapi ada perbedaan yang signifikan sebab ular tembaga tak lebih dari sebuah simbol, menunjuk kepada Tuhan yang menggenggam pertolongan untuk yang percaya. Bahkan ular tembaga, begitu pula simbol-simbol yang lain, termasuk roti dan anggur perjamuan kudus, air dalam baptisan kudus semuanya menunjuk kepada sang Kristus yang tersalib itu. Semua benda, semua simbol, semua upacara gerejawi tak ada yang melebihi Yesus Kristus , sebab pribadi dan karyaNya sempurna! Iman yang memberi hidup hanyalah iman kepada Tuhan dalam pengorbanan Kristus. Jika di dalam peristiwa ular tedung, Kristus masih tampil sebagai bayang-bayang saja, maka di atas salib Golgota Kristus sudah menyejarah, dan sekarang melalui karya Roh Kudus, Kristus telah menghidupkan dan membangkitkan kita sesudah kita mati karena dosa-dosa kita (Efesus 2).

Ketika Tuhan menyuruh ular-ular tedung untuk menghukum, maka manusia hanya bisa meratapi nasib karena dosanya serta mohon belas kasihan Tuhan. Apa jadinya jika Tuhan mengutus AnakNya untuk menghakimi dan menghukum manusia? Apa jadinya bila Kristus datang justeru untuk mencelakai kita atas nama BapaNya? Siapa lagi yang dapat kita harapkan untuk menjadi penebus bagi kita? Puji syukur bahwa dalam Yohanes 3:17,18 ditegaskan bahwa Allah mengutus AnakNya bukan untuk menghakimi serta menghukum, melainkan untuk menyelamatkan kita.

Sebab itu bersama Pemazmur 107 mari kita bersyukur sebab Tuhan kita itu baik! Mari kita bersyukur karena kasih setia Tuhan. Mari kita wujudkan syukur kita, dalam bentuk persembahan korban serta menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib kepada sesama di sepanjang hidup kita, dengan bersemangat dan penuh sukacita!


5 Kristen / Renungan / TERANG YANG BERCAHAYA DALAM HATI KITA (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
on: February 17, 2009, 01:55:42 PM
Oleh: Pdt.Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 22 Februari 2009
Minggu Transfigurasi

TERANG YANG BERCAHAYA DALAM HATI KITA
II Raja-raja 2:1-12 Mazmur 50: 1-6 II Korintus 4:3-6 Markus 9:2-9


Pdt.Nehemiah Mimery di dalam bukunya, Lukisan Tentang Iman Dan Hidup Kristen, bercerita tentang satu jenis batu permata yang penampilannya sangat sederhana bahkan tidak menarik. Jauh berbeda dengan batu permata pada umumnya yang bercahaya indah. Tetapi begitu batu permata tersebut diambil dan ditaruh dalam genggaman tangan kita, berubahlah menjadi batu permata yang menawan hati, karena bersentuhan dengan tangan yang hangat.Batu permata yang bernama “Batu Opsaal” atau “Batu Sympathiek” itu menggambarkan keberadaan kita orang-orang beriman. Keadaan kita sebenarnya sama saja dengan keadaan orang-orang dunia, tapi karena kita berada dalam genggaman tangan Tuhan Yesus maka dapat mengalami peningkatan yang positip; hati kita akan bercahaya sampai bisa memancar keluar ke sekitar hidup kita!

Kehidupan kita selaku anak Tuhan mengalami pasang surut, juga dalam kehidupan bergereja, ibadah dan pelayanan kita. Mari kita coba menyelami apa yang dialami oleh Elia dan Elisa waktu itu. Keadaan Elia sangat lumayan karena dia tahu bahwa bakal diangkat oleh Tuhan ke sorga. Paling-paling hatinya berdebar-debar menghadapi saat akan diangkat oleh Tuhan itu. Penuh tanda tanya: Cara apa yang akan dipakai Tuhan untuk mengangkat? Kapan saatnya? Bagaimana rasanya? Berapa lama perjalanan ke sorga? Sesudah sampai di sana lalu bagaimana? Di samping itu jelas Elia juga menghadapi gangguan yang sangat merepotkan karena sikap Elisa yang kekanak-kanakan sebab tidak mau pisah dari dirinya. Semua ini tentulah memunculkan aneka perasaan dalam hati Elia. Tapi itulah manusia! Siapapun dia, selama sebagai manusia tak bisa lepas dari situasi hati seperti itu. Karena kemampuan kita memang serba terbatas. Elia tidak mampu mengetahui cara apa yang akan dipakai Tuhan untuk mengangkat dia ke sorga, juga tidak tahu cara terbaik untuk melayani dan menghadapi Elisa. Kita melihat betapa Elia itu sangat kebingungan karena pergi ke Betel, ke Yerikho dan ke sungai Yordan selalu saja diikuti oleh Elisa, padahal ia ingin pergi ke tempat-tempat itu tanpa diikuti oleh Elisa. Tentu akan lebih baik baginya jika sebelum naik ke sorga ia bisa mempersiapkan diri demi pemantapan dan hatinya bisa tenang, terang bercahaya.

Baiklah kita juga menyelami keadaan Elisa, pelayan Elia itu (I Raja-raja 19:21}. Agaknya hubungan mereka semakin hari semakin erat, meningkat menjadi hubungan guru dan murid, sampai seperti ayah dan anak. Hal itu kita ketahui berdasarkan permohonan Elisa agar diberi dua bagian dari roh Elia. Inilah ungkapan untuk anak sulung yang beroleh warisan dari ayahnya (Ulangan 21:17). Apa yang dikehendaki oleh Elisa ketika ia meminta warisan dari Elia? Pastilah bagian dari kenabian Elia, termasuk segala kemampuan yang dimiliki Elia. Sebab semua itu adalah karunia Tuhan maka Elia bilang sukar, lalu menyerahkan kepada Tuhan dengan cara: Bilamana Elisa nanti bisa melihat keberangkatan Elia berarti Tuhan setuju memenuhi permohonan itu. Saudara, sangat menarik untuk menyelami perasaan Elisa yang akan ditinggal pergi oleh Elia. Dalam peribahasa Perancis dikatakan bahwa perpisahan merupakan “sedikit kematian”. Artinya sudah jelas, berpisah dari orang yang kita cinta itu sungguh sangat berat dan mendatangkan rasa sedih, rasa kehilangan. Sejak batita kita sudah merasakan sedih dan girang silih berganti pada saat orang tua kita main “cilup-ba “ dengan kita. Pisah-jumpa, pisah- jumpa lagi !
Jika hanya berdasarkan perasaan atau emosi semata, maka pada tempatnya jika Elisa itu merasa sangat berat berpisah dari Elia.Tapi bukankah itu berarti mengandung egoisme yang perlu ditindas? Jika Elisa sungguh-sungguh mengasihi Elia, bukankah seharusnya dia merasa bersyukur mengetahui Elia akan diangkat ke sorga? Tapi, bagaimana Elisa bisa bersyukur jika dialah yang bakal melanjutkan pelayanan sebagai nabi Tuhan? Apakah hatinya bisa bercahaya jika mengingat bahwa ke depan sudah menunggu tantangan yang tidak ringan? Jadi ada rasa takut, kuatir, sedih dan tentunya juga sedikit rasa syukur. Ketika para nabi memberitahu soal Elia yang akan naik ke sorga, maka Elisa menjawab dengan ketus:”Aku juga tahu, diamlah!” Jelaslah bahwa Elisa saat itu patut dikasihani. Maka kita merasa lega melihat campur tangan Tuhan dalam kegalauan Elisa.

Tuhan yang sudah mempunyai rencana atas Elia dan Elisa itu, tidak hanya menyaksikan kiprah mereka, tidak hanya mengikuti perjalanan mereka, tidak hanya memahami perasaan mereka, namun juga bersedia ikut campur tangan. Semua yang dilakukan oleh Tuhan bagaikan tanda tangan atau meterai sorgawi yang tak dapat ditiru oleh siapapun! Kereta dan kuda berapi yang memisahkan mereka berdua, badai besar yang mengangkat Elia ke sorga, kemudian juga kemampuan Elisa melakukan mujizat. Campur tangan Tuhan yang dahsyat ini seharusnya dapat mendatangkan kekaguman besar dan memberi kemantapan hati kepada Elia, Elisa dan … kita sekarang.

Sekarang kita akan menengok apa yang telah terjadi di sebuah gunung yang tinggi, ketika Tuhan Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes sertaNya (Markus 9). Di dalam pelayanan agung Kristus, ternyata juga ada semacam pasang surutnya. Ada saat dimana Ia mengalami kemuliaan dan dimuliakan, tapi ada pula saat direndahkan, dihina bahkan dibunuh. Sebab itu barang siapa mau menjadi pengikut Tuhan juga harus siap sedia menghadapi pasang surut di sepanjang pelayanan, bahkan di sepanjang hidupnya. Namun yang dikehendaki Tuhan, dalam segala situasi, kita tetap mengutamakan persekutuan dengan Tuhan agar hati kita tetap dapat bercahaya. Kita membaca tadi bahwa di gunung yang tinggi itu Tuhan Yesus dimuliakan oleh BapaNya. WajahNya berubah, pakaianNya juga menjadi putih berkilat. Kemuliaan Tuhan Yesus berlanjut dengan munculnya dua tokoh dari zaman Perjanjian Lama, yaitu Elia dan Musa! Mereka bertiga lalu mengadakan pembicaraan yang tentu saja tidak diketahui isinya oleh para murid. Jadi Allah bisa menghadirkan dari sorga kereta dan kuda yang berapi, namun juga hamba-hambaNya yang setia. Ketika menyaksikan semua itu maka Petrus, yang biasanya mengatas- namai rekan-rekannya, mengungkap kebahagiaan hatinya serta kesediaan mereka mendirikan tiga kemah sebagai tempat tinggal Tuhan Yesus, Musa dan Elia.Ucapan Petrus jelas tidak masuk akal dan tidak berbobot karena mengingkari panggilan illahi untuk hidup melayani Tuhan dan dunia ini. Jika saat itu hati Petrus bercahaya, maka itulah terang atau cahaya yang palsu karena bertolak dari kebahagiaan yang tidak memikirkan orang-orang lain. Jiwa dari usulan Petrus mengandung bisa atau racun yang melumpuhkan semangat juang serta mematikan kreativitas. Di dalam dan bersama Tuhan Yesus kita harus selalu berada dalam perjalanan yang disebut “anti-mandeg”. Kadang sebagai pengikut Tuhan kita merasa sudah sampai di penghujung, lalu cenderung merasa puas, sudah terlalu tua,ingin berhenti dengan alasan mau memberi kesempatan kepada yang masih muda.Seolah sudah tidak berguna, tidak ada yang bisa dikerjakan . Lupa bahwa di dalam Kerajaan Tuhan orang yang paling kecil atau tua tetap dapat melayani sesuai dengan kemampuannya. Di dalam Tuhan yang maha agung tak mustahil kita akan mengalami suatu pembaruan! Pada dinding kamar saya ada tulisan sebagai berikut: In Life, What Sometimes Appears To Be The End Is Really A New Beginning (Dalam Hidup Ini Kadang Apa Yang Tampak Menjadi Akhir Justeru Merupakan Sebuah Awal Yang Sesungguhnya). Saudara, pada akhirnya dari dalam awan pun terdengarlah suara Allah yang penuh wibawa mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Itu berarti Allah Bapa sendiri yang sedang memuliakan Yesus, sebab semuanya ditujukan untuk Tuhan Yesus: Mengubah wajah dan pakaian, menghadirkan Elia dan Musa, serta pernyataan bahwa mengasihi Yesus Kristus. Lalu sebagai puncaknya Allah Bapa menyampaikan perintah agar umat manusia mau mendengarkan Yesus Kristus. Dengan demikian berarti Allah Bapa sedang memberitakan Injil kepada kita. Allah Bapa sedang memancarkan Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus seperti yang tertulis dalam II Korintus 4:4. Di sini Allah Bapa sedang memberi teladan bahwa Ia tidak sedang memberitakan diriNya sendiri, tetapi Kristus. Sungguh tepatlah jika dikemudian hari Rasul Paulus berkata seperti itu dalam II Korintus 4:5. Berbahagialah kita yang membuka diri terhadap Injil yang bercahaya itu, sebab ia memiliki daya untuk dapat membuat hati bercahaya terang sampai menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Mazmur 50:1 berbunyi: “Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya.” Kegiatan yang Mahakuasa Allah itu sampai sekarang masih terus berlangsung, memanggil bumi, atau manusia di seluruh bumi. Berbahagialah kita yang bersedia menjadi penyambung lidah Allah yang Mahakuasa memanggil dengan panggilan yang lebih jelas sebab mempergunakan Injil Yesus Kristus yang mempunyai daya yang kuat untuk menjadikan hati kita bercahaya!


6 Kristen / Renungan / AKU PERCAYA , ALLAH MENOLONG (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
on: February 06, 2009, 03:40:18 AM
Oleh : Pdt.Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 15 Februari 2009
Ephifani VI


AKU PERCAYA , ALLAH MENOLONG

II Raja-raja 5:1-14 Mazmur 30 I Korintus 9:24-27 Markus 1:40-45

Ada cerita tentang seorang Uskup yang menumpang kapal dan berlabuh di sebuah pulau terpencil. Di sana ia bertemu dengan tiga nelayan yang mengaku sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan sudah dibaptiskan, tapi belum mengenal doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus itu, Doa Bapa Kami.Doa mereka kepada Tuhan sangatlah sederhana, yaitu:”Kami bertiga, kami bertiga, kasihanilah kami.” Maka sebelum berpisah dengan mereka sang Uskup tergerak hatinya untuk mengajarkan Doa Bapa Kami sampai mereka bisa hafal. Beberapa bulan kemudian kapal Uskup kebetulan berlayar di sekitar pulau itu lagi. Ketika sedang berada di geladak bersama para awak kapal yang lain, tiba-tiba muncullah tiga nelayan kristen itu. Mereka mendengar bahwa Uskup berlayar di sekitar pulau mereka , maka mereka mencari ke tengah laut dengan cara berjalan kaki di atas permukaan air! Tujuannya hanya satu saja yaitu mohon supaya diajar ulang Doa Bapa Kami sebab ternyata hanya bisa ingat sebagian saja. Mendengar permohonan mereka serta melihat kenyataan bahwa mereka bisa berjalan di permukaan air seperti Tuhan Yesus, maka sang Uskup merasa rendah diri lalu menyuruh agar mereka pulang saja dan berdoa menurut kemampuan mereka. (Diangkat dari Burung Berkicau A.de Mello SJ). Cerita ini sangat bagus untuk menjelaskan kepada kita bahwa hidup beriman tidak harus ditandai dengan sejumlah kemampuan tertentu, sebab perkenan dari Tuhan mewujud dalam campur tanganNya yang akan memunculkan segala sesuatu yang luar biasa! Aku percaya, Allah menolong lalu merupakan realita yang di sepanjang hidup ini akan dapat kita alami.

Siapa menduga bahwa mujizat kesembuhan Naaman diawali dengan pemberitaan-iman, dari seorang gadis kecil, tawanan perang yang menjadi pelayan isteri Naaman. Mengapa majikannya bisa begitu tertarik sampai diteruskan kepada sang raja? Saya mempunyai tiga alasan, yaitu: 1.Karena di Israel, Tuhan sudah banyak membuat mujizat sehingga pasti sudah didengar pula oleh bangsa-bangsa lain, termasuk bangsa Aram. 2. Pastilah pelayan kecil ini dalam hidup sehari-harinya menunjukkan sikap jujur dan beriman kepada Tuhan, sehingga perkataannya pantas dipercaya oleh tuannya. 3. Tuhan mempunyai rencana yang indah, sehingga mau campur tangan dan menolong Naaman.

Aku percaya, Allah menolong adalah merupakan urutan yang tidak boleh dibalik menjadi: Allah menolong, aku percaya.Jika urutan dibalik demikian maka lalu menjadi hal yang biasa dan bahkan murahan. Percaya dulu baru akan ada pertolongan Tuhan! Bagi para pemula, kita dapat membayangkan bahwa percayanya pasti masih sangat sederhana atau kurang lengkap. Itu sama saja dengan orang tua yang menghadapi anaknya yang masih batita. Walau ungkapannya hanya sepotong-potong bahkan banyak salah ucap, tetap saja menyukakan hati dan diupayakan untuk bisa dipenuhi. Itulah kita, manusia! Terlebih lagi Tuhan yang maha pemaham dan bijaksana serta pemurah.Saudara, sebenarnya percaya kita itu sangat tidak memadai untuk beroleh pertolongan Tuhan sebagai imbalannya. Percaya kita penuh cacad cela, tapi pertolongan Tuhan indah dan sempurna. Tuhan masih harus menyempurnakan iman kita sebelum Dia menghadirkan pertolonganNya. Kalau begitu sesungguhnya kita ditolong Tuhan bukan karena percaya kita yang hebat, melainkan hanya karena anugerah Tuhan semata!

Dari kisah Naaman apa saja yang dapat kita pelajari?
1.Tuhan memunculkan kepercayaan di hati kita melalui apa yang kita dengar (Tentu saja melalui karya Roh Kudus}. Dalam Roma 10:14 tertulis: “Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?” Kita lihat Saudara, betapa Isteri Naaman, Naaman sendiri, dan diharapkan juga raja Aram, mereka semua percaya sesudah mendengar berita. Atau dapat dikatakan demikian: Percaya berarti mau mendengarkan apa yang sedang Tuhan sampaikan. Dalam hal ini bisa melalui seorang nabi, hamba Tuhan yang lain, seorang pelayan sederhana, tapi yang sangat akurat tentunya berita Alkitab! Kakak kandung saya yang sudah menjadi warga negara Swedia, semula tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Bersikap sinis terhadap segala kegiatan gerajawi yang dilakukan oleh isterinya. Suatu saat kakak saya itu sakit flu dan karenanya beristirahat di rumah. Dalam kejenuhannya, secara sambil lalu ia membuka Alkitab milik isterinya.Roh Kudus bekerja di hatinya, sehingga kakak saya semakin bersemangat membaca Alkitab, dan hari itu juga ia menerima Tuhan Yesus.Sejak itu ia menjadi pengikut Tuhan yang setia dan giat melayani pekerjaan Tuhan. Beberapa tahun yang lalu, ketika berkunjung ke Indonesia ia begitu antusias memberitakan Injil di mana-mana!
2.Percaya juga menyangkut apa yang kita lihat. Tertulis dalam Kitab Kejadian 15:5,6 ”Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”.Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Itu terjadi sesudah Tuhan memperlihatkan bintang-bintang di angkasa, maka Abram mempercayai janji Tuhan. Dalam diri Naaman terjadi kekecewaan yang besar karena dia tidak melihat yang memuaskan matanya. Ia berharap bisa melihat nabi Elisa yang mengerak-gerakkan tangan di atas penyakitnya, bukan tampilnya seorang pelayan yang menyuruhnya mandi di sungai yang tidak lebih baik dari sungai-sungai di negerinya sendiri. Tapi untung bagi Naaman sebab Tuhan bisa memahami latar belakang kehidupannya sebagai panglima perang yang sudah terbiasa diperlakukan sopan dan hormat oleh bawahannya.
3.Percaya berarti melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Hampir saja Naaman tidak sudi melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Untunglah ia mau merendahkan diri menuruti bujukan pegawai-pegawainya, dan merendahkan diri membenamkan tubuhnya tujuh kali ke dalam sungai Yordan.
4.Percaya meningkat dalam pengakuan dan ucapan syukur. Di ayat 15 Naaman berkata kepada Elisa:”Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini.” Elisa memilih untuk menolak hadiah itu agar Naaman sungguh-sungguh merasa telah menerima anugerah kesembuhan dari Tuhan, dan bukan “membelinya”.
5.Percaya juga berarti memutuskan hubungan dengan illah lain dan mempersilahkan Tuhan memasuki kehidupan kita. Di ayat 17 kita melihat tekad Naaman untuk membuang illah lain dan hanya akan menyembah Tuhan saja. Tetapi di ayat 18 Naaman minta ampun kepada Tuhan sebab selaku bawahan raja, nanti dia masih harus menghantar dan ikut sang raja, sujud menyembah dalam kuil Rimon. Bagaimana nasehat dan tanggapan nabi Elisa tentang ini? Ia hanya berkata: ”Pergilah dengan selamat!” Karena Elisa memahami betapa sulitnya posisi Naaman. Kerinduan hatinya pasti dilihat Tuhan, dan Tuhan siap menolong dia untuk mengatasi persoalannya sendiri. Saudara, dalam mendampingi orang yang baru saja bertobat kita sering bersikap terlalu keras dan tegas. Kita menuntut agar mereka memiliki sebuah bangunan hidup kristiani yang prima, padahal mereka itu bagaikan pohon kecil yang baru trubus. Biarkan saja mereka dengan ketidak sempurnaan serta ketimpangan iman mereka.Akan lebih baik jika secara “alami” akhirnya mereka sendiri yang memutuskan untuk ikut Tuhan secara utuh, yaitu sesudah semakin menikmati indahnya hidup dalam kasih Tuhan, dan sesudah iman menjadi dewasa.

Sekarang mari kita tengok orang kusta yang lain dalam Injil Markus tadi. Ia mendatangi Tuhan Yesus, ia berlutut di hadapan Tuhan Yesus, ia memohon bantuan Tuhan Yesus, dan sebagai orang yang pasrah ia mengungkap isi hatinya:”Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Ini yang namanya percaya! Ada pengenalan, siapa dan baimanakah Yesus itu (walau masih sangat terbatas), begitu melihat Yesus segera datang kepadaNya, bukan menunggu. Meskipun demikian dekat dengan Tuhan Yesus, tetapi dia tidak memaksa Tuhan Yesus menyembuhkannya, dia hanya berkata:”Kalau Engkau mau, ……” Walau orang kusta dilarang mendekati orang sehat, tetapi dia percaya bahwa tidak bakal diusir atau dijauhi oleh Yesus. Namun demikian pasti dia tidak menduga bahwa Tuhan Yesus mau mengulurkan tanganNya untuk menjamah dia! Sebab sebenarnya dari jarak jauh pun Tuhan Yesus berkuasa menyembuhkan ( Lukas 17:14 ). Ketika menangani si kusta itu, Tuhan Yesus bukan sedang mengeluarkan kekuatan magis tapi kehendak illahiNya! Menjamah orang kusta itu merupakan bagian dari satu paket pertolonganNya, yaitu -sesudah hatiNya tergerak oleh belas kasihan- Yesus juga memberikan kelemah- lembutan illahi, keakraban seorang sahabat, serta kebapaan yang penuh kasih sayang.

Hari itu dia mendapat pengalaman rohani yang luar biasa hebatnya, yaitu bahwa imannya yang sangat minim itu sudah beroleh tanggapan maksimal dari pihak Tuhan. Pertolongan Tuhan yang melampaui segala akal itu telah membuat dia tidak mampu menutup mulutnya, meskipun sudah dipesan dengan sangat oleh Tuhan Yesus agar jangan menyiarkan kesembuhannya . Dia tidak tahu bahwa tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus ke dunia bukanlah menjadi tabib pandai atau ahli sulap, melainkan menjadi sang Juru Selamat yang rela mati bagi orang berdosa. Penyembuhan dan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus hanya merupakan tanda-tanda dari KerajaanNya, serta bukti bahwa Dia berkuasa melakukan yang lebih besar dari semuanya itu.

Menyerahkan sedikit beroleh banyak! Aku percaya, Allah menolong Hal itu tidak boleh membuat kita menjadi anak Tuhan yang lemah, asal-asalan dan malas. Iman kita memang hanya sebesar biji sesawi, tetapi hidup, sehingga tidak mandeg tapi maju terus. Iman harus selalu dalam perjalanan, dalam proses sampai akhir hayat! Maka dalam I Korintus 9 tadi sebenarnya kita semua dihimbau untuk ikut ambil bagian dalam pertandingan iman. Pertandingan selalu butuh latihan, menaati petunjuk, tapi yang terpenting adalah sikap penuh kesungguhan. Tuhan selalu menghargai sikap penuh kesungguhan (Mat.25:23). Jika kita bersungguh-sungguh dalam iman, Tuhan juga bersungguh-sungguh dalam menolong kita, lalu mahkota abadi akan sungguh-sungguh menjadi milik kita.!

Dalam Mazmur 30 kita melihat kesungguhan Tuhan menolong orang beriman sehingga beroleh kesembuhan, terbebas dari dunia orang mati, serta menempatkan kita di atas gunung yang kokoh, yaitu hidup beriman teguh di tengah dunia ini. Maka kita diajak untuk menyanyikan mazmur bagi Tuhan, bersyukur serta memberitakan kesetiaanNya.


7 Kristen / Renungan / PRIORITAS TERTINGGI (Daud Adiprasetya)
on: January 16, 2009, 05:49:06 AM
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 25 Januari 2009
Epifani III
PRIORITAS TERTINGGI
Yunus 3:1-5,10 Mazmur 62:6-13 I Korintus 7:29-31 Markus 1:14-20


Dalam hidup ini sudah acapkali kita dibikin kecewa oleh alat yang macet; sepeda motor, mobil, pesawat telpon, komputer, sampai spidol! Semua ada di depan mata, bahkan ada dalam tangan kita, tapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Mereka sedikit pun tidak peduli kepada kita yang sedang kecewa berat dan mendongkol. Maklumlah mereka itu hanya mesin, benda mati, dan rongsokan! Bagaimana kalau yang tidak mau menjalankan tugas itu adalah manusia? Dan secara terang-terangan berani menolak perintah Tuhan?

Firman Tuhan hari ini menyebut-nyebut nama seorang nabi Tuhan yang terkenal, yaitu nabi Yunus. Ada dua hal yang membuat dia menjadi terkenal, yaitu karena melarikan diri dari hadapan Tuhan ketika mendapat perintah ke Niniwe, dan yang kedua karena dia pernah berada dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Yunus diperintahkan oleh Tuhan untuk menegur dan menyuruh penduduk Niniwe agar bertobat, berarti perintah yang tidak berlebihan sebab sesuai dengan profesinya sebagai seorang nabi. Melaksanakan perintah Tuhan dan mendukung rencanaNya yang mulia sesungguhnya merupakan prioritas tertinggi bagi manusia, terlebih bagi seorang nabi seperti Yunus itu. Tapi mengapa Yunus sampai menolak perintah Tuhan? Sebab dia tidak rela jika bangsa Asyur itu meninggalkan kejahatannya dan bertobat, sebaiknya dihukum saja oleh Tuhan. Jadi Yunus merasa lebih bijaksana dari pada Tuhan! Saudara, jika seorang hamba sudah berani menolak perintah tuannya, dan merasa melebihi tuannya, apakah ia masih patut dipertahankan? Reaksi Tuhan atas pembangkangan Yunus mungkin membuat Yunus menjadi semakin terkenal, sebab Tuhan tidak membiarkan ikan besar itu memangsanya tapi menyuruh agar memuntahkan Yunus ke darat dalam keadaan selamat, kemudian untuk ke dua kalinya Tuhan memerintahkan Yunus pergi ke Niniwe! Saudara, apa yang dapat kita pelajari di sini? Pertama, Tuhan sangat memahami hambaNya, karena Ia adalah Bapa yang maha pemaham. Ia mengerti sedalam-dalamnya pikiran dan perasaan Yunus yang amat sulit menerima keputusan Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri mengatakan bahwa penduduk Niniwe kejahatannya sudah sampai ke Tuhan?(1:2). Berarti sudah sangat adil jika mereka dibinasakan saja seperti penduduk Sodom dan Gomora.Tapi mengapa Tuhan begitu lunak hati, malah membuka kesempatan bagi keselamatan dan kebahagiaan bangsa yang sudah bejad itu? Setelah mendapat perintah yang ke dua tentunya Yunus semakin mengenal “ keanehan Tuhan”, dan Tuhan sendiri tentunya menyadari bahwa rencanaNya menyelamatkan penduduk Niniwe itu memang sulit diterima oleh siap pun juga. Saudara, jangan kita merasa lebih baik dari penduduk Niniwe, katakanlah bahwa juga tidak masuk akal jika Kristus Yesus sampai dihadirkan bagi keselamatan dan kebahagiaan kita! Kedua, Tuhan sangat menekuni rencanaNya. Maka Ia berfirman untuk kedua kalinya agar Yunus berangkat ke Niniwe. Di fatsal 4 kita juga melihat betapa Tuhan begitu telatennya menyadarkan Yunus mengenai kasihNya kepada semua bangsa, sehingga mereka perlu diselamatkan. Tuhan berdaulat atas segala bangsa di dunia, dan kedaulatanNya bukan untuk menguasai tapi mengasihi. Maka sejak zaman dulu sudah menyuruh hambanya memberitakan firman, dan dalam Yesus Kristus kita akan menerima kuasa Roh Kudus untuk menjadi saksi Tuhan sampai ke ujung bumi.(Kisah Rasul 1: . Waktu itu Yunus selaku nabi dan hamba Tuhan harus memprioritaskan tugas pewarta dengan pemahaman yang benar, kerelaan dan sukacita.Ketiga, Pemberitaan Firman Tuhan (Injil) selalu penuh tantangan tapi juga pendampingan Tuhan. Gejolak di hati mempertimbangkan perintah Tuhan , merupakan tantangan awal yang kadang paling berat. Menghadapi rasa malas (Yunus yang harus berkeliling di kota Niniwe yang besar,Yunus 1:2), rasa takut sebab resiko yang tidak kecil (Syukur bahwa raja Asyur mau terima peringatan Yunus dan ikut bertobat, bagaimana jika marah dan membantai Yunus), Rasul Paulus dijebloskan dalam penjara,Yunus dalam perut ikan. Tapi selalu akan ada pendampingan Tuhan, yang semakin mengakrabkan hubungan kita dengan Tuhan yang setiawan itu.

Sangat menarik bahwa injil Markus mencatat Tuhan Yesus mengawali pemberitaan Injil Allah segera sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap oleh raja Herodes, karena menyampaikan kebenaran Tuhan dalam bentuk teguran yang keras atas kejahatan yang dilakukan raja itu. Yesus Kristus siap melanjutkan bahkan meningkatkan perjuangan Yohanes Pembaptis. Ia tidak gentar walau juga bakal di hadang segala resiko sebagai pewarta dan utusan BapaNya. Yesus Kristus bahkan dengan semangat yang tinggi menyingsingkan lengan baju mengumpulkan orang-orang sederhana untuk menjadi para rasul, murid-murid yang dipersiapkan sebagai saksi mata dalam kerajaanNya. Sebenarnya Tuhan Yesus bisa mencari dari kalangan atas atau terpelajar, tapi di sini kita membaca perhatianNya justeru kepada para nelayan. Mungkin karena orang-orang ini sudah biasa dengan pekerjaan penangkapan (ikan), maka akan lebih cocok untuk ke depannya, melakukan penangkapan jiwa manusia ke dalam jala kasih Kristus. Kemungkinan lain, justeru kesederhanaan mereka diperlukan oleh Tuhan Yesus untuk mencelikkan mata dunia bahwa dalam Kerajaan Allah kita jangan mengandalkan kemampuan manusia.Di kemudian hari ketika para rasul memiliki berbagai kemampuan, menyembuhkan orang sakit mengusir setan dan berkhotbah, maka orang-orang dunia akan tercengang serta menengok siapa yang berada di belakang mereka itu! Tuhan Yesus memilih orang-orang sederhana sebagai murid-muridNya, karena Tuhan Yesus sendiri juga tampil sebagai sosok orang biasa dan mengetahui bahwa dalam dunia ini sangat banyak orang sederhana yang hidup menderita. Pemikiran Yesus memang berbeda dengan pemikiran orang-orang dunia.Sekarang ada baiknya jika kita sejenak mencermati perbedaan diantara Yesus dan Yunus. Untuk memberitakan firman tiap-tiap kali Yunus perlu diperintahkan lagi oleh Allah, tapi Yesus Kristus satu kali diutus oleh Bapa selanjutnya Ia proaktip melangkah ke segala arah. Yunus ke Niniwe, Yesus ke semua kota dan secara roh ke seluruh dunia sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20). Yunus tiga hari tiga malam dalam perut ikan, Yesus Kristus dalam rahim bumi (Matius 12:40). Yunus dimuntahkan untuk memenuhi perintah yang kedua dari Allah, Yesus Kristus dibangkitkan untuk memberitakan kemenanganNya. Yunus memprioritaskan kepentingan dan pendapatnya sendiri, Yesus Kristus memprioritaskan rencana dan pekerjaan BapaNya di atas segala-galanya.

Lalu apa yang kita baca di I Korintus 7 tadi? Anjuran Rasul Paulus kelihatan sangat aneh: Yang beristeri harus berlaku seolah tidak beristeri, yang menangis seolah tidak menangis, yang bergembira seolah tidak bergembira, yang membeli seolah tidak memiliki apa yang dibeli. Paulus mengatakan bahwa waktu kita singkat, hanya sisa sedikit. Dunia yang kita kenal ini akan berlalu. Inilah teologia bergegas, para gembala segera pergi ke kandang seperti anjuran para malaekat, sampai mereka meninggalkan domba-dombanya. Orang Majus mencari Anak Raja yang lahir itu, sementara bintang besar masih bersinar di angkasa. Simon dan Andreas, Yokobus dan Yohanes dengan segera menyambut panggilan Tuhan Yesus, tanpa memikirkan jala bahkan ayahnya! (Markus 1:20). Harta dan keluarga, pekerjaan , hobi dan apa pun milik kita tidak boleh menjadi perintang atau berhala yang menghalangi ibadah serta pelayanan kita. Sebaliknya dari itu harus dapat menjadi penopang dan pendorong bagi pelayanan kita. Kita berada dalam kurun waktu yang terbatas, segalanya sedapat mungkin diminimalis, kita harus pandai memprioritaskan segala sesuatu, tapi prioritas tertinggi adalah kerajaan Allah. Segala yang berhubungan dengan Kerajaan Allah, termasuk pemberitaan Injil Kerajaan Allah harus didahulukan dan diutamakan, sebab maha penting. Dengarlah apa yang dikatakan Rasul Paulus di I Korintus 9:16 “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Mari kita berkata dalam hati kita masing-masing demikian:” Demi mengasihi Allah aku bersedia memberitakan InjilNya. Tetapi juga, demi mengasihi sesama manusia, agar mareka selamat dan bahagia maka aku akan terus memberitakan Injil.”

Akhirnya Saudara, dalam Mazmur 62 kita diingatkan bahwa hanya dekat Allah saja kita merasa tenang. Mengapa demikian? Sebab hanya dalam Allah ada keselamatan, yaitu keselamatan seutuhnya, keselamatan dalam Yesus Kristus. Mari kita pertahankan sampai akhir hayat, dan mari kita beritakan sebagai Injil sukacita kepada sesama yang kita jumpai di sepanjang jalan hidup kita. Ketahuilah, semakin banyak kita wartakan, semakin banyak yang diselamatkan, dan akan semakin bersukacitalah kita!


8 Kristen / Renungan / TEGUH DAN TIDAK TEROMBANG-AMBING MENGENAI SAKRAMEN BAPTIS (Daud Adiprasetya)
on: January 02, 2009, 10:26:09 PM
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 11 Januari 2009
Tahun B: Yesus Dibaptis
TEGUH DAN TIDAK TEROMBANG-AMBING MENGENAI SAKRAMEN BAPTIS

Kejadian 1:1-5 Mazmur 29 Kisah Rasul 19:1-7 Markus 1:4-11

Ada satu cerita tentang seorang pemuda kristen yang ketika tidur bermimpi jumpa seorang malaekat Tuhan. Pemuda itu diajak meninjau beberapa gereja dan menyaksikan kegiatan anak-anak Tuhan. Malaekat itu menunjukkan kelompok paduan suara, tapi tidak terdengar suaranya, pengkhotbah hanya kelihatan bibirnya yang bergerak-gerak, organis dan Band Gereja juga tidak memunculkan suara dari instrumennya. Malaekat Tuhan kemudian menjelaskan bahwa semua itu terjadi gara-gara mereka melakukan tanpa kerinduan dan kesungguhan di hadapan Tuhan. Pelayanan mereka ditolak oleh Tuhan.

Kadang ada kesan bahwa sakramen Baptis Kudus sering hanya dipandang sebagai syarat atau tiket untuk masuk surga.Bahkan dikejar hanya dengan tujuan supaya bisa menjadi menantu seorang tokoh gereja, atau supaya menyenangkan hati orang tua semata. Akibatnya sakramen Baptis kudus tidak disertai kerinduan atau iman yang benar dan tanpa pemahaman yang memadai. Itu yang kita jumpai sekarang ini, tapi dari Kisah Rasul 19 tadi pada zaman Paulus saat itu ada beberapa orang yang sudah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, namun pengetahuannya masih sangat kurang. Mereka belum pernah dengar tentang Roh Kudus! Saudara, bagi kita zaman sekarang hal itu sangat janggal, tapi jangan lupa yang membaptis mereka adalah Yohanes Pembaptis, waktu itu Roh Kudus belum turun secara khusus di Hari Pentakosta. Sedangkan Yohanes juga hanya menekankan pertobatan, sebagai persiapan untuk menghadapi Tuhan Yesus, yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Sangat mungkin penjelasan sepintas dari Yohanes tentang Roh Kudus tidak tertangkap oleh telinga orang-orang ini, dan Yohanes tidak mempersoalkan lebih lanjut sebab yang diutamakannya adalah penyesalan dan pertobatan mereka. Benar saja seperti harapan Yohanes, di kemudian hari mereka dibaptis dalam iman kepada Tuhan Yesus, yang dilakukan oleh Paulus.Tentulah baptisan Paulus mempergunakan rumusan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri, Matius 28:19 “Dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.Maka bagi kita sekarang ada ketegasan, untuk pelayanan sakramen Baptis Kudus haruslah dengan rumusan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan Yesus tersebut. Adapun tentang berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat seperti yang dialami oleh mereka di Kisah Rasul 19 tadi, hal itu terjadi sesudah rasul Paulus menumpangkan tangan. Jangan lupa bahwa semua itu hanya karunia semata dari Tuhan., tidak selalu terjadi dalam Baptis kudus atau penumpangan tangan. Mengenai berkata-kata dalam bahasa roh, Paulus mengatakan bahwa ia lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang,dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh (I Korintus 14:19).

Peristiwa dalam Kisah Rasul 19 tadi tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan baptis ulang , sebab waktu itu mereka memang perlu dimasukkan ke dalam persekutuan Tuhan Yesus dengan lebih dahulu mempercayai Tuhan Yesus, selanjutnya menerima baptisan dengan rumusan seperti yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus. Sangat disayangkan bahwa zaman sekarang banyak orang tanpa alasan yang kuat telah menyerahkan diri untuk dibaptis ulang. Banyak orang yang melakukan baptis ulang karena alasan sebagai berikut: sebelum dan sesudah baptis ulang mengalami hidup rohani yang bergairah. Mereka lupa bahwa pengalaman rohani, betapa pun nikmatnya atau indahnya, tetap hanya pengalaman rohani yang perlu diuji dan diukur oleh pemahaman dan kebenaran, berdasarkan standar norma utama kita:Alkitab! Baptis ulang biasanya terjadi karena anggapan bahwa baptis selam lebih alkitabiah. Sebenarnya apa kata Alkitab tentang cara baptisan ? Baiklah kita tinjau sepintas saja. Baptisan berasal dari kata Yunani baptizo, bapto, atau baptisma , yang memiliki beberapa makna antara lain menyelamkan atau mencelupkan. Tapi arti yang lain yaitu: mewarnai atau membasuh. Sedangkan arti ke tiga: Membersihkan atau memurnikan, Dalam baptisan kristen arti ke tiga ini yang sesungguhnya ingin ditekankan melalui simbolisme baptisan. (Kutipan ceramah Pdt.Joas Adiprasetya tahun 2000, begitu pula pada bagian yang lain).

Baptisan , kita pahami sebagai tanda dan meterai keselamatan. Ia tidak menyelamatkan, ia diberikan karena kita sudah diselamatkan. Sebagai tanda maka ia tidak melebihi keselamatan itu sendiri. Maka mengatakan bahwa cara baptisan tertentu menentukan masuk tidaknya kita ke sorga, sungguh kesesatan teologis yang wajib kita tolak. Bukankah prinsip dasar Alkitab adalah bahwa hanya Allah dalam Kristus yang menyelamatkan kita ? (solus Christus). Maka kita tidak mau mempersoalkan cara baptisan (selam,curah atau percik).Orang dari gereja yang tidak seasas dengan kita, tetap kita akui keabsahan baptisan selamnya , tanpa kita baptis ulang, cukup ada pelayanan sidi jika mereka mau menjadi anggota gereja kita. Sungguh sangat disayangkan jika diatara anggota gereja kita ada yang bersedia dibaptis ulang, hanya karena alasan tidak ada Roh Kudus nya.Lalu apa artinya ketika pendeta mengucapkan:”Aku membaptis engkau dalam nama Allah Bapa, dan Anak dan ROH KUDUS” ? Dengan baptis ulang berarti telah menolak untuk mengakui keabsahan baptisannya yang terdahulu, dengan kata lain sudah merendahkan arti pengorbanan Kristus “sekali untuk selamanya” (once for all}. Apakah dengan demikian tidak berarti menyalibkan Kristus lagi dan menghinaNya? (Ibrani 6:6}.
Saya punya pengalaman begini: Selesai kebaktian dimintai tolong untuk memperagakan ulang saat saya membaptis seseorang, gara-gara tadi sang foto grafer kehabisan film, sehingga seseorang ini tidak akan memiliki kenang-kenangan berharganya.Terus terang saya merasa tidak senang dan bergumul di hati untuk menyetujui atau menolak. Menolak karena ada “pengulangan” apalagi hanya pura-pura melayani sakramen. Menyetujui karena menolong seseorang untuk tetap dapat memiliki foto-baptisnya, apalagi saya tidak mengulangi sepenuhnya karena tanpa air dan rumusan serta kesungguhan, dan baru satu jam yang lalu terjadinya.Maka akhirnya saya menyetujui untuk foto-ulang!
.

Apakah baptisan Tuhan Yesus di Markus 1 tadi juga hanya pura-pura saja, karena akan lebih cocok sekiranya Yohnes yang dibaptis oleh Tuhan Yesus? Jika baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, apakah Yesus punya dosa dan perlu bertobat? Bagi Yesus baptisan itu mengandung empat hal:
1.Baptisan itu adalah saat pengambilan keputusan.Setelah tiga puluh tahun berada di Nazaret, tinggal bersama orang tuaNya.Kini tiba saat yang dinanti-nantikanNya. Seperti yang dikatakan oleh Shakespeare:”Kepada setiap orang akan datang saat untuk mengambil keputusan penting yang tidak dapat ditarik kembali.” Inilah saat yang tepat , penting dan sudah dinanti-nantikanNya itu.
2.Baptisan itu bagi Tuhan Yesus adalah saat menyatakan kesediaan diri menjadi wakil umat manusia untuk menjadi penebus dosa.Sangat cocok jika di sini Yesus menjumpai Yohanes, sebab tokoh yang satu ini banyak berbicara tentang dosa manusia serta baptisannya pun menyangkut penyesalan dosa dan pertobatan.
3.Baptisan itu adalah saat Bapa menyatakan perkenan, persetujuan dan dukunganNya. Maka secara khusus Allah “merobek” langitNya untuk menghadirkan Roh seperti burung merpati yang akan selalu mendampingi Yesus Kristus, dan suara dari sorga: ”Engkaulah Anak yang kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan,” merupakan dukungan moril yang tiada taranya!
4.Baptisan itu merupakan momentum sebuah awal dari perjuangan besar yang dilakukan Kristus Ditandai dengan kerendahan hati Sang Allah Putera, bersedia dibaptis oleh Yohanes manusia biasa dan berlanjut sampai pada mengosongkan diri menjadi seorang hamba.Yesus Putera Allah tidak memperhitungkan kesetaraanNya dengan Allah. Maka seluruh karyaNya diwarnai kasih dan pengorbananNya yang sangat mengagumkan.

Semestinya kita ini terkagum-kagum jika memikirkan kedahsyatan Allah yang ternyata bersedia mendekati kita melalui karya Kristus, dan bersedia mendekap kita melalui karya Roh Kudus sampai sedekat-dekatnya dalam diri kita. Mari kita dukung sepenuhnya ajakan pemazmur dalam Mazmur 29 tadi agar kita memuliakan namaNya, dan sujud kepadaNya. Sehubungan dengan tema kotbah hari ini, saya mau bertanya:”Apakah kita akan dapat memuliakan dan sujud kepada Tuhan dengan baik dan benar, jika hati kita masih terombang-ambing mengenai masalah sakramen baptis?” Tuhan Yesus memerintahkan kita melakukan sakramen baptis adalah dengan tujuan supaya iman kita semakin kokoh , mantap dan bukan sebaliknya terombang-ambing, apalagi terjadi perpecahan!”


9 Kristen / Renungan / ANUGERAH BAGI YANG MENCARI-NYA (Daud Adiprasetya)
on: December 29, 2008, 04:10:14 PM
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya.
Renungan Minggu, 4 Januari 2009

ANUGERAH BAGI YANG MENCARI- NYA

Yesaya 60:1-6 Mazmur 72:1-7 Efesus 3:1-12 Matius 2:1-12


Apakah Saudara mempunyai perasaan seperti saya, bahwa pengalaman rohani dari umat Tuhan zaman dulu , dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah merupakan pengalaman kita juga? Setidaknya, ada kemiripannya. Saya kira hal ini sangat penting, sebab sekiranya kita tidak berada di dalam pengalaman dan kehidupan mereka, sekiranya kita tidak bisa menyatu dengan mereka sebagai keluarga besar umat Tuhan, maka pemberitaan firman Tuhan dalam Alkitab hanyalah merupakan pemaparan sejarah semata, dan maksud serta harapan Tuhan dengan demikian tidak tercapai! Sekarang mari kita cermati Firman Tuhan yang sudah kita baca tadi, yang menyangkut anugerah Tuhan.

Pertama: Anugerah Tuhan Untuk Menjadi Terang. Yesaya 60 yang kita baca tadi melukiskan keadaan umat Tuhan sesudah pulang dari Pembuangan Babil. Ke depan mereka pasti mengharapkan banyak hal, tapi harapan mereka sebagai umat Tuhan haruslah bisa selaras dengan harapan Tuhan atas mereka.Yang seperti ini penting untuk kita Saudara, sebab memasuki Tahun Baru biasanya kita mempunyai sekeranjang harapan, dan semua itu langsung saja kita pohonkan perwujudannya kepada Tuhan. Seolah kita tidak mau menyediakan ruang dan kesempatan bagi Tuhan untuk menyatakan harapanNya atas kita. Karena Tuhan adalah sumber terang dan Ia adalah Terang yang kekal, maka di sini kita melihat betapa Tuhan menghendaki agar umatNya juga menjadi terang. Dan untuk itu harus ada kebangkitan, kesadaran dan upaya. Maka firman Tuhan: Bangkitlah! Saudara, ini memang perintah, namun mengandung anugerah.UmatNya, termasuk kita semua disuruh bangkit, disuruh menjadi terang, berarti diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi kepanjangan tangan bagi berkat yang akan dipancarkan Tuhan ke seluruh dunia. Ingatlah sabda Tuhan Yesus di Matius 5:14 “Kamu adalah terang dunia”.Bukankah ini merupakan anugerah yang sangat berarti dari Tuhan, jika kita di jadikan terang dan dapat menerangi kehidupan banyak orang serta mendatangkan kehangatan, penyuluhan dan suksacita. Kalau begitu anugerah Tuhan telah memunculkan kebahagiaan.Tapi apakah itu “kebahagiaan”? Aristoteles Filsuf Yunani yang hidup 300M berujar:”Kebahagiaan adakah penggunaan semua kemungkinan dalam diri seseorang untuk kebahagiaan orang lain.” Saudara, sesungguhnya kita mempunyai banyak kemampuan dan kesempatan yang belum kita kembangkan bagi kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.Biasanya hal itu disebabkan karena kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri. Ada cerita tentang orang kaya yang menerima telpun dari Pak Camat, mengharap bantuannya karena di wilayah itu ada kebakaran. Si kaya tidak mau turun tangan sebab ia sibuk mengawasi tukang-tukang yang sedang memugar gedungnya. Sesudah pekerjaan di rumahnya rampung, barulah ia keluar untuk melihat keadaan. Ia sangat terkejut sebab melihat kenyataan bahwa semua penduduk desanya sudah pergi mengungsi ke lain daerah.Dengan demikian tinggal dia seorang yang masih tertinggal dengan gedung megahnya. Tiba-tiba dia merasa seperti sedang dikucilkan dan dihukum oleh masyarakat!

Kedua: Anugerah Tuhan Melalui Kehadiran Anak Raja. Apa yang kita jumpai dalam Mazmur 72 tadi Saudara? Harapan umat Tuhan kepada raja dan kepada anak raja, atau raja yang baru sebagai penggantinya. Untuk raja yang baru, di harapakan agar memerintah dengan adil.Di sini muncul harapan lahirnya “Raja Adil”.Bicara tentang “Raja Adil” saya lalu ingat sebuah cerita tentang seorang raja Persia pada zaman dulu. Seorang raja yang suka berincognito atau menyamar menjadi rakyat biasa dan bergaul dengan lapisan masyarakat yang paling bawah, agar dapat memerintah dengan adil .Suatu ketika raja Persia yang satu ini tinggal bersama keluarga miskin di sebuah gudang kosong di bawah tanah.Karena sudah terjalin hubungan yang akrab maka ia tidak bisa menyembunyikan lagi identitasnya, ia berterus terang mengenai jati dirinya dan mempersilahkan kepala keluarga miskin itu untuk mengajukan permohonan yang pasti akan dipenuhinya. Yang menarik dari kisah ini adalah ketika kepala keluarga yang miskin itu tidak mau memohon apa pun juga.Ia hanya menyampaikan kekaguman serta keharuan hatinya, demikian:”Baginda telah rela meninggalkan istana untuk tinggal di tempat kumuh ini.Sudi makan seadanya bersama kami sekeluarga.Baginda telah membawa kegembiraan besar bagi kami.Baginda telah memberikan diri Anda dan semua ini sudah lebih dari cukup, bahkan merupakan anugerah bagi kami semua!” Saudara, di sini kita bisa belajar tentang anugerah, yaitu tatkala harkat kita sebagai manusia dihargai oleh sesama dan penguasa hidup kita! Raja adil yang didambakam dalam Mazmur 72 tadi jika benar-benar muncul maka merupakan anugerah besar bagi seluruh rakyat.Jika raja memerintah dengan adil, memberantas penindasan, orang miskin diperhatikan nasibnya, tentu dengan sendirinya muncul kemakmuran . Juga dikatakan damai sejahtera akan berlimpah!Apa yang diungkap di sini, termasuk cerita tentang raja Persia tadi sepertinya mengajak kita untuk memperhatikan Yesus Kristus, raja di atas segala raja itu. Semua hal yang baik dan yang terbaik yang dimiliki oleh seorang raja, ada pada Yesus Kristus. Kehadiran Yesus Kristus dalam hidup kita merupakan anugerah yang sangat besar yang patut kita syukuri dari waktu ke waktu di sepanjang hayat!

Ketiga: Anugerah Tuhan Berupa Jalan Masuk Bagi Siapa Saja. Dalam Efesus 3 yang kita baca tadi ditekankan sebagai kejutan besar bahwa Tuhan sudah membuka lebar- lebar jalan untuk memasuki keselamatanNya, tanpa memandang yang hina maupun yang non Yahudi. Dalam Alkitab kita dapat melihat keberpihakan Tuhan kepada mereka yang diremehkan oleh sesamanya. Dimulai dengan Habil, Yusuf, Daud, para nelayan, janda miskin, anak-anak kecil, orang-orang kusta , Bartimeus dan seterusnya. Tapi jika Tuhan kemudian juga berpihak kepada Saulus atau Paulus, maka itu adalah suatu anugerah yang luar biasa. Paulus yang sepantasnya ditolak, malah diberi jalan masuk. Paulus yang seharusnya dihukum berat karena menjadi “penganiaya Kristus” malah dijadikan teman sekerja Allah yang dipercayai untuk menyebarkan injil Kerajaan Allah. Akal sehat kita tak mampu memahami rencana dan cara kerja Tuhan. Emosi kita cepat membutakan mata untuk melihat betapa konsekuen Tuhan terhadap pelajaranNya, bahwa kita harus bisa mendoakan dan mengasihi musuh. Tahulah kita sekarang mengapa Tuhan merangkul Paulus yang merasa paling hina itu, karena mempunyai rencana besar melalui hambaNya ini untuk dapat merangkul sebanyak mungkin orang yang merasa tidak layak, termasuk mereka yang non Yahudi.Hidup dekat dengan Tuhan membuat kita sadar bahwa kita semua sedang tinggal bersama di dalam sebuah rumah besar yang bernama dunia. Dalam Rumah Dunia yang dianugerahkan Tuhan ini semua bangsa dipanggil untuk hidup damai sejahtera dalam Yesus Kristus.Itulah tujuan akhir Tuhan di dunia ini, supaya dapat dilanjutkan di Rumah Tuhan yang mulia di surga! Jadi pada dasarnya kerinduan hati Tuhan adalah agar semua manusia di dunia beroleh selamat dan hidup kekal (Yohanes 3:l6}.

Keempat: Anugerah Bagi Yang Mencari. Pencarian orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem, sungguh sangat menarik. Kisah itu sudah kita kenal semenjak kita masih kecil. Sekarang kita mau memahaminya sebagai sebuah kisah yang menyentuh hati dan menggugah semangat. Pencarian mereka bertolak dari keyakinan hati yang sangat mendalam dan mantap. Pencarian mereka disertai kesedian besar untuk menghadapi segala bentuk tantangan dan resiko.Tapi pencarian mereka juga merupakan anugerah dari Tuhan sebab ada pendampingan dan pengarahan Tuhan, terutama sekali juga ada hasil besar yang mereka raih, yaitu perjumpaan mereka dengan Bayi Yesus yang kelahiranNya dihiasi dengan bintang-bintang di agkasa! Pelajaran apa yang dapat kita tangkap dari pencarian orang-orang majus ini? Pertama: Niat baik harus ditopang dengan usaha dan cara yang baik pula. Ke dua: Selalu akan ada campurtangan Tuhan untuk setiap kegiatan manusia jika dapat menunjang rencanaNya. Ke tiga: Yesus hadir bagi yang miskin atau kaya, yang buta huruf maupun yang cendekiawan, yang dekat atau jauh, yang menarik diri maupun lebih-lebih yang sedang mencari Dia.

Apakah Saudara pernah mendengar bahwa dalam perjalanan orang-orang majus itu, mereka sempat bertemu seseorang yang sangat tertarik untuk bergabung dengan mereka. Rombongan orang majus juga tidak berkeberatan bahkan dengan tulus mengajak orang itu untuk bersama-sama mencari dan menyembah anak raja yang baru lahir itu., namun pada saat terakhir ia membatalkan niatnya! Cerita tambahan seperti ini tentu saja tidak tertulis dalam Alkitab, tapi rasanya cocok juga untuk mengingatkan banyak orang yang masih ragu-ragu menemui dan menyembah Yesus.Bahkan cocok juga untuk mendorong kita yang sudah beriman kepada Yesus Kristus, namun sangat minim dalam kiprah pelayanan sampai akhirnya kontribusi kita dalam pengembangan Kerajaan Allah juga tidak seberapa.


10 Kristen / Renungan / Dalam Nama Yesus (Pdt. Em. Daud Adiprasetya)
on: December 23, 2008, 01:41:20 AM
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Tahun Baru 1 Januari 2009

DALAM NAMA YESUS KITA SAMBUT TAHUN BARU

Bilangan 6:22-27 Mazmur 8 Filipi 2:5-13 Lukas 2:15-21

Ada kisah tentang sebuah nama yang dilupakan.Terjadi dalam suatu temu kangen siswa SMU.Ketika mantan Kepala sekolah yang menjadi guru favorit para siswa muncul,maka secara spontan mendapat sambutan yang sangat hangat disertai tepuk tangan yang meriah.Bapak Kepala sekolah yang terkenal sangat perhatian kepada para siswanya itu langsung saja digojlok oleh anak-anak agar menyebutkan nama setiap mantan muridnya. Sangat mengagumkan bahwa kepala sekolah yang dulu merangkap menjadi guru mata pelajaran sejarah itu mampu mengingat dan menyebutkan nama setiap siswa, …..kecuali nama seorang mantan siswi yang justeru selalu duduk di baris terdepan! Dengan dilupakan namanya maka langsung saja muncul macam-macam perasaan di hatinya: kecewa, sedih, sakit, malu, rendah diri dan entah apa lagi.Jika semula dia begitu mengagumi Pak Guru itu, kini berubah menjadi sangat membencinya! Ternyata nama bisa menjadi begitu besar artinya dalam kehidupan kita. Apa arti Nama Tuhan bagi Tuhan dan bagi kita? Mari kita coba menengok Nama Tuhan,sampai sejauh mana namaNya itu begitu penting bagi kita?

Pertama: Nama Yang Berwibawa Ada Di Dalam BerkatNya.
Nama yang berwibawa sudah dikenal oleh umat Tuhan sejak dahulu kala dalam zaman Perjanjian Lama, itulah nama YHWH. Sebenarnya bukanlah nama itu pada dirinya yang hebat dan dahsyat, namun yang memiliki nama itu, sang pribadi Tuhan yang kudus dan mulia! Selanjutnya, karena Tuhan itu Roh , tidak tampak, maka namaNya menjadi semakin mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu dapat mewakili kehadiran, keberadaan dan pribadiNya. Itu sebabnya dalam Sepuluh Firman, hukum yang ke tiga berbunyi:”Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, …” Keluaran 20:7. Dapat dikatakan bahwa nama Tuhan sudah menyatu dengan pribadiNya. Itulah sebabnya segala berkat yang disampaikan harus kita yakini bahwa berasal dari Tuhan dan disahkan dalam namaNya.Dalam Bilangan 6:27 kita melihat keinginan Tuhan agar namaNya tak terpisahkan dari berkat yang disampaikan. Dan dalam Bilangan 6 itu kita melihat bahwa berkat Tuhan yang dibubuhi namaNya ternyata adalah berkat yang sangat dibutuhkan oleh umatNya. Berkat dari imam waktu itu diucapkan ketika umat Tuhan akan mengadakan perjalanan di padang gurun. Padang gurun memiliki dua makna teologis: Tempat tinggal setan yang penuh dengan tantangan, dan juga lambang ketidak pastian. Memasuki Tahun Baru 2009, ada baiknya kita disadarkan bahwa seperti sedang memasuki padang gurun.Ke depan kita memang merasa sedang dicegat oleh berbagai macam tantangan. Krisis global saja sudah cukup dahsyat dampaknya, mampu menggunduli kekuatan serta keceriaan pada setiap aspek kehidupan kita. Maka ketidak pastian pun otomatis menyusul, mendatangkan was-was, tanda tanya besar bahkan bisa berdampak masa bodoh serta sikap apatis! Tapi dalam suasana hati seperti itu dan situasi yang sangat tidak menguntungkan, hari ini Tuhan minta agar kita mau menyambut berkat Tuhan yang menantang iman kita serta membangkitkan semangat kita. Bahwa Tuhan mau melimpahkan berkatNya dan siap melindungi.Mau menyinari dengan wajahNya, untuk memberi kasih karunia, berpihak kepada kita dan memberi damai sejahtera! Jika semua ini diurai, diresapi dan dinikmati dalam suatu kesungguhan pastilah akan membuat jiwa kita merasa segar dan puas.

Kedua: Nama Yang Mulia Memberi Kekuatan Kepada Kita. Itulah yang kita baca dalam Mazmur 8 tadi.Dua kali kita baca “Betapa mulianya namaMu”,di ayat 2 dan10. Selanjutnya diterangkan kepada kita bahwa sesungguhnya Tuhan sudah memperlengkapi kita manusia dengan berbagai potensi, tentunya sebagai berkat Tuhan, sejak kita masih bayi. Jika Anda membaca Buku Pdt.Yahya Wijaya, Ph.D. dengan judul Kemarahan,Keramahan Dan Kemurahan Allah maka Mazmur 8 ini dikupas dengan sangat apiknya, dibawah judul Potensi Manusia. Baiklah sepintas saya ungkap di sini.Di samping berbagai kemampuan yang lain, sesungguhnya manusia sudah dikaruniai Tuhan kemampuan spiritual dan moral.Sejak bayi kita sudah diberi Tuhan kemampuan untuk mengalahkan lawan Allah, yaitu segala kejahatan, kekacauan, kuasa yang menimbulkan permusuhan dan dendam. Inilah kemampuan terpendam untuk menjadi mitra Allah, untuk berada di pihak Allah dalam mengalahkan kejahatan serta segala sesuatu yang melawan Allah. Sangat disayangkan bahwa banyak orang tidak mau mengembangkan potensinya untuk mengalahkan kejahatan, hanya karena terpancang pada potensi-potensi yang lain, misalnya potensi untuk menjadi sakti, pandai dan berkuasa.Dalam kerangka seluruh alam semesta, betapapun saktinya, pandainya dan berkuasanya manusia, ia tidak istimewa. Manusia menjadi begitu mulia bukan karena kemampuannya itu, melainkan karena kemampuannya untuk menjadi kawan Allah, maka disebut “hampir serupa dengan Allah”. Segala potensi manusia seperti potensi dalam bidang iptek, budaya bahkan memanfaatkan daya adikodrati menjadi penting dan mulia apabila dikembangkan bersama-sama dengan potensi untuk menjadi kawan Allah.Maka pemazmur mengajak kita untuk mengagumi Allah dan pekerjaanNya serta memuji Allah.Jika hidup kita diisi pujian, mengagumi Allah dan pekerjaanNya, maka potensi kita untuk mengalahkan lawan Allah akan bertumbuh terus. Demikianlah antara lain yang dapat kita baca dalam buku yang sangat bagus itu. Jadi Saudara, Allah yang mulia itu sudah memberkati kita semenjak bayi dengan potensi yang maha penting, yaitu potensi untuk menjadi kawan Allah dan melawan segala kejahatan. Jika potensi yang satu ini kita kembangkan bersama potensi-potensi yang lain, misalnya di bidang iptek bahkan adikodrati maka kita sungguh akan menjadi makhluk Tuhan yang sangat berguna dalam KerajaanNya.

Ketiga: Dalam Nama Yesus Para Gembala Menyambut Lembar Hidup Baru. Lihatlah Saudara apa yang terjadi sesudah para malaekat meninggalkan mereka dan kembali ke sorga.Pertama-tama tentu saja para gembala itu merasa telah memperoleh pengalaman yang sungguh sangat luar biasa. Dan akan menjadi lebih hebat, sekiranya mereka menyadari bahwa hanya mereka saja yang dikaruniai penglihatan serta peristiwa dahsyat itu oleh Allah yang Maha Pemurah. Mereka baru saja dimanjakan bahkan diangkat harkatnya setinggi-tingginya oleh Allah sendiri sebagai manusia yang boleh berada dalam pujian dan kemuliaan sorgawi seperti itu. Dan yang paling mengherankan justeru mereka yang diberi kehormatan oleh Allah untuk menerima berita kelahiran Sang Mesias Sesudah semuanya itu terwujud, maka kini para gembala Efrata itu memasuki lembar hidup yang baru.Mereka memasuki lembar hidup yang baru, dengan kekaguman yang baru, dengan perasaan yang luar biasa, baru saja “di-orangkan” , dimanjakan , dihargai serta dipandang penting oleh para malaekat dan Tuhan sendiri! Sesungguhnya semua kegiatan sorgawi di Efrata itu terjadi hanya karena Yesus Kristus telah lahir.Hanya karena nama Yesus diberitakan atau disebutkan oleh Allah melalui malaekatNya.Kita dapat mengatakan bahwa Yesus adalah merupakan berkat terbesar. Dalam namaNya itu seluruh umat manusia dilimpahi berkat Allah yang tiada taranya. Hal itu dilukiskan dalam pengalaman para gembala.Andai mereka itu bukan para gembala, andai mereka itu adalah para raja di dunia ini sekalipun, maka berkat yang diterima tetap maha besar.

Keempat: Dalam Nama Yesus Ada Kuasa Sebagai Tuhan.Itulah yang kita baca dalam Filipi 2 tadi.Yang mengherankan bahwa kuasa namaNya tidaklah muncul melalui peperangan atau kekerasan, tapi justeru melalui kasih dan pengorbananNya.Semakin Yesus mengajarkan dan mengamalkan kasihNya, merendahkan diri sampai tidak memperhitungkan kesetaraanNya dengan Allah, maka namaNya menjadi semakin berbobot, sebab Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama. Di sini kita melihat betapa Allah merasa sangat puas sebab Yesus Kristus telah berhasil merampungkan tugas sebagai juru selamat manusia secara sempurna Kita sungguh berbahagia Saudara, sebab oleh karya Roh Kudus dimampukan melihat kenyataan bahwa sedemikian menyatunya Allah Bapa dan Allah Putera.Juga kita berbahagia sebab dalam nama Yesus kita beroleh berkat keselamatan untuk jiwa raga dan seluruh kehidupan kita seutuhnya. Dalam kebahagiaan seperti itu, dalam nama Yesus mari kita sambut tahun baru 2009.Kita yakini bahwa dalam nama Yesus tahun ini hidup kita akan terpelihara karena Tuhan menyinari dengan wajahNya dan memberi kita kasih karunia.Mari dalam nama Yesus kita bertekad mengembangkan potensi kita untuk mengalahkan lawan Allah, yaitu segala kuasa jahat yang akan merusak hidup kita! Berdasarkan berkat Yesus Kristus , mari tahun baru ini kita hadapi dengan kekaguman yang baru pula untuk memandang segala kemuliaan Tuhan di segala aspek kehidupan kita.Akhirnya, dengan semangat pengorbanan Yesus yang mempunyai nama di atas segala nama , mari kita selalu siap melayani pekerjaan Tuhan yang luas dan penting itu!


11 Kristen / Renungan / Daud Adiprasetya: Mesias dan Dunia Baru
on: November 29, 2008, 05:36:23 AM
Pdt.Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 7 Desember 2008
Tahun B: Adven II
MESIAS DAN DUNIA BARU
Yesaya 40:1-11 Mazmur 85:1-2,8-13 II Petrus 3:8-15 Markus 1:1-8

Ada cerita tentang seorang pendeta yang tertidur dan bermimpi di ruang kerjanya. Pendeta itu bermimpi tentang bagaimana kehidupan ini tanpa kehadiran Tuhan Yesus. Tidak ada kartu natal, tidak ada lonceng gereja yang mengiringi lagu –lagu natal. Dalam mimpinya pendeta itu memasuki ruang kerjanya dan di rak bukunya tidak menemukan satu cuil pun tulisan tentang kelahiran dan kehidupan Kristus. Masih dalam mimpinya, tiba-tiba pintu diketuk lalu tampil seorang anak laki-laki, mohon pak pendeta datang ke rumah untuk mendoakan ibunya yang sedang sakit. Di samping pembaringan ibu yang sakit itu, ketika pak pendeta mau membacakan ayat-ayat dari Injil, dia terkejut sebab Alkitabnya berakhir dengan Kitab Maleakhi! Dia kebingungan, dan berduka karena merasa kehilangan miliknya yang sangat berharga. Akhirnya pendeta itu terjaga dengan air mata yang bercucuran. Saudara, judul cerita di atas adalah “Andai Tuhan Yesus Tidak Datang” Bagi Sang pendeta itu sungguh sangat besar bedanya hidup dalam Dunia Lama tanpa Yesus Kristus, dengan hidup dalam Dunia Baru yang serba indah karena Mesias telah mewarnainya.Saya mengangkat cerita tadi dari Buku Mutiara-mutiara kasih. Kita patut bersyukur sebab Tuhan tidak pernah ingkar janji, tapi telaten dan konsisten mempersiapkan kehadiran Mesias yang telah dijanjikan bagi dunia. Mungkin kita bertanya dalam hati mengapa waktu itu Tuhan tidak segera menolong umatNya ketika berada di tanah pembuangan Babil, juga mengapa melakukan penundaan secara besar-besaran dalam menghadirkan Mesias di dunia ini? Begitu pula , kapan Kristus akan datang kembali nanti? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya sudah terjawab tadi, waktu kita membaca II Petrus 3:8 yang berbunyi demikian:”Akan tetapi , saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun, dan seribu tahun sama seperti satu hari.” Ketahuilah bahwa segala rencanaNya ada di dalam kekekalan, sehingga kita yang dilibatkan di dalam rencanaNya yang besar itu perlu membiasakan diri dengan “Waktu Surgawi” dari Tuhan. Jika dilanjutkan ke ayat 9, maka kita membaca sebagai berikut:”Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian ….” Dari sini kita diingatkan bahwa sering terjadi waktu- kita berbeda dengan waktu- Tuhan, harapan kita berbeda dengan keinginanNya. Dalam Yesaya 55:8 kita dapat membaca sebagai berikut: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman Tuhan.”

Saudara mari kita melihat betapa Tuhan menentukan berakhirnya masa pembuangan dan penghambaan umat Tuhan di Babil. “Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan, dua kali lipat karena segala dosanya” (Yesaya 40:2). Wah, Saudara, berita itu pastilah sangat melegakan hati, Ada pengampunan, ada pemutihan dan penghapusan hukuman yang datang dari pihak yang berwenang yaitu dari Tuhan. Maka sungguh sangat tepat apa yang tertulis dalam Yesaya 40:1 “ Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikian firman Allahmu.” Begitulah Saudara jika Tuhan mau menghibur umatNya, dengan cara menganugerahkan apa yang paling dibutuhkan. Di sini Tuhan tidak memberi harta benda, kemewahan atau pangkat tinggi, juga bukan segala kemuliaan duniawi.Tetapi Tuhan memberikan pengampunan, berarti pemulihan hubungan antara umat dan Allah, anak dan Bapa, makhluk dan Khalik. Saudara, kita perlu belajar menghargai pemberian Tuhan yang sejenis itu dalam hidup kita, misalnya: Hati penuh sukacita, hidup rukun, semangat kerja, iman , pengharapan, dan seterusnya.Sering dalam praktek hidup, yang kita sebut sebagai berkat Tuhan, hanya terbatas pada hal-hal yang lahiriah semata. Acapkali kita juga jumpai orang-orang yang cuma bisa menghargai uang atau materi, padahal ada banyak hal lain yang lebih penting tapi tidak dihargai. Di hadapan Tuhan kita jangan seperti itu.Mari kita coba menghitung berapa banyak “permata rohaniah” dan “harta surgawi” yang sebenarnya dapat memperkaya diri kita, namun selama ini tidak kita sadari, tidak kita akui dan syukuri.

Lebih jauh dalam Mazmur 85 kita melihat masa atau saat dan cara Tuhan memulihkan keadaan umat Nya, mengampuni kesalahan dan menutupi segala dosa. Selanjutnya Tuhan menghadirkan keselamatan yang mendatangkan kemuliaan, sebab kasih dan kesetiaan bertemu, keadilan dan damai sejahtera bercium-ciuman! Saudara, pada dasarnya Tuhan menggemari yang seperti itu atas hidup umatNya, bahkan atas seluruh umat manusia dan seluruh ciptaan! Tak terasa oleh firman dan Roh Kudus, sesungguhnya dari waktu ke waktu kita sedang digiring memasuki Dunia Baru karya Mesias.

Saudara, di dalam Injil Markus yang kita baca tadi kembali kita melihat masa dan cara yang dilakukan Tuhan. Memang tidak tertulis di situ, tetapi menurut penyelidikan ada rentang waktu empat abad di antara akhir Perjanjian Lama dan awal Perjanjian Baru. Dalam rentang waktu itu Tuhan tidak mengutus nabi-nabiNya, sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan tidak menyapa umatNya dan membiarkan umatNya berada dalam masa sunyi. Jikalau tiba-tiba muncul seorang Yohanes Pembaptis di tengah-tengah umatNya, maka itu berarti Tuhan sudah memecahkan kesunyian yang sangat mengerikan. Di sini kita diingatkan bahwa patut bersyukur sebab ternyata Tuhan mau berinisiatif, Tuhan mau membuka diri, membuka jalur persekutuan dengan kita. Coba bayangkan andai di dalam seluruh sejarah dunia dan sejarah manusia, untuk selamanya Tuhan hanya “bersembunyi” terus di dalam kekudusanNya, hanya bersedia menjadi Allah yang transcendent saja, maka kita akan menjadi kerdil dan hanya seperti hewan di hadapanNya. Hidup kita akan terasa dingin dan beku sebab tak ada kehangatan illahi yang menyapa, menyentuh, memegang, memapah, merangkul serta menggendong kita.

Dalam Markus 1:1 tadi kita membaca:”Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Ditegaskan di sini bahwa awal berita sukacita yang terbesar berasal dari surga dan mengenai Yesus Kristus Anak Allah. Saudara, Mesias yang sejak awal sejarah manusia sudah dijanjikan, kini mulai diungkap dan segera dihadirkan karena masanya sudah tiba! Yesus Kristus, Anak Allah adalah Mesias yang segera hadir untuk membangun Dunia Baru bagi kita.Jika disebut Anak Allah, berarti Dia itu Allah. Tapi kemudian Dia juga akan memperkenalkan diri sebagai Anak Manusia , sebab dilahirkan oleh seorang manusia. Tokoh yang satu ini sungguh luar biasa hebat dan dahsyatnya: Dia itu Allah yang sejati , sebab Allah Putera dan Manusia yang sejati, sebab tidak punya dosa. Peranan, karya serta kehadiranNya sudah ada dalam rencana Allah. Di dalam TanganNya ada Dunia Baru, yaitu kenyataan hidup dimana manusia tidak lagi dikuasai iblis, dosa dan maut. Kasih dan pengorbanan akan menjadi andalanNya yang ampuh. Oleh karena itu pada gilirannya Ia menghendaki setiap pengikutNya menjadi pelaku kasih dan rela berkorban seperti Dia. Dari situlah akan muncul sukacita dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mesias,Yesus Kristus itu bersedia datang sedekat-dekatnya dalam hidup kita asal kita mau membuka diri bagi kedatanganNya. Dia mau memegang tangan kita, asal kita bersedia mengulurkan tangan bagiNya (Matius 14:31).Dia mau masuk ke dalam rumah kita, dan bersedia makan bersama kita, asal kita mau membukakan pintu yang diketukNya (Wahyu 3:20). Dia mau mengajar, asal kita siap mendengar firmanNya (Matius 5:2). Dia mau menyelamatkan asal kita mau bertobat! (Lukas 5:32).

Tetapi mengapa Yohanes Pembaptis harus muncul lebih dahulu? Mengapa harus ada pembuka jalan segala? Mengapa harus ada suara yang berseru-seru di padang gurun? Dan mengapa Yohanes itu berpenampilan begitu sederhana? Jawabnya: Inilah cara yang ditempuh oleh Tuhan untuk memperkenalkan siapakah Yesus itu (Markus 1:7; Yohanes
1:29), dan mempersiapkan jalan bagi Yesus, agar terjadi perjumpaan diantara Yesus dengan orang-orang berdosa yang merindukan hidup baru dan dunia baru.Itu sebabnya Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan baptisan dengan air, tetapi Yesus Kristus akan membaptis dengan Roh Kudus. Yohanes Pembaptis menyiapkan untuk karya Kristus yang lebih mulia.Yohanes hanya sebagai “suara” dan mengaku bahwa membuka tali kasutNya saja ia merasa tidak layak. Jadi Yesus Kristus adalah yang utama!

Saudara, apa yang kita baca dalam 2 Petrus 3 tadi? Sekali lagi tentang kedatangan Tuhan Yesus, tapi tentu saja tentang kedatanganNya yang ke dua nanti.Kita tidak perlu bingung menduga-duga tanggal berapa kedatanganNya yang ke dua itu.Tidak bakalan kita ketahui, sebab Tuhan sendiri mengatakan seperti kedatangannya seorang pencuri. Jika masih terus ditunda juga, pasti karena rencana kasihNya, yaitu agar kita bertobat dan semakin tambah banyak orang yang bertobat melalui kita. Apakah Tuhan Yesus akan datang kembali di akhir zaman? Tidak perlu diragukan! Mari kita tengok apa yang telah terjadi, lalu kita berkeyakinan demikian: Jika kedatangan pertama saja dapat ditempuh oleh Tuhan Yesus, meskipun ditandai dengan kerendahan dan penderitaan, apalagi kedatangan ke dua yang ditandai dengan kemuliaanNya sebagai Pemenang dan Hakim Tertinggi. Pada saat itu nanti, dunia baruNya pasti akan disempurnakan!


12 Kristen / Renungan / Daud Adiprasetya: SANG JURU SELAMAT ADALAH HAKIM YANG ADIL
on: November 12, 2008, 04:29:38 AM
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 23 Nopember 2008
Tahun A: Kristus Raja

SANG JURU SELAMAT ADALAH HAKIM YANG ADIL
Yehezkiel 34:11-16; Mazmur 100; Efesus 1:15-23; Matius 25:31-46


Konon, pada zaman dahulu ada seorang raja yang dicinta oleh rakyatnya karena memerintah dengan tegas, bijaksana dan adil. Suatu hari kedapatan bahwa puteranya sendiri yang telah melakukan pelanggaran berat dan hukumannya adalah harus dicukil kedua biji matanya! Padahal dia adalah putera mahkota yang bakal meneruskan pemerintahan ayahnya. Ketika berkumpul di balai istana, sang putera mahkota gemetaran, wajah raja jadi pucat, para menteri hatinya penuh dengan tanda tanya dan rakyat menantikan keputusan raja dengan sangat cemas . Akhirnya Sri Baginda mengambil keputusan yang ternyata dapat diterima oleh semua pihak dengan lega, penuh rasa haru dan bangga, yaitu bahwa Sang Putera Mahkota cukup menyerahkan satu biji matanya, karena mendapat sumbangan satu biji mata lagi dari Baginda Raja sendiri. Dan semua itu adalah demi keadilan serta kelangsungan pemerintahan saat itu dan ke depannya. Bagi Putera Mahkota, sang ayah telah menjadi juru selamatnya dan sekaligus hakim yang adil.

Saudara, kita patut bersyukur karena memiliki Tuhan yang maha adil, yang keadilanNya melebihi keadilan siapa pun sebab Ia adalah Tuhan dan bukan manusia. Dalam Yehezkiel 34:16 dikatakan “ ….. Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.” Ini menunjukkan sikap adil Tuhan, bahwa mau begitu mengutamakan keterikatanNya terhadap umatNya, sebab umatNya bagaikan domba-domba yang sudah menyerahkan nasibnya untuk digembalakan oleh Sang Gembala Agung. Penggembalaan Tuhan selalu meliputi tiga kegiatanNya yang sangat kita butuhkan. Pertama, pemeliharaanNya. Ketahuilah Saudara bahwa pemeliharaan Tuhan atas kita itu sangat sempurna, hal itu telah diungkap dalam bacaan kita tadi, Yehezkiel 34. Bahwa di sana sini kita jumpai kelangkaan pangan, gizi buruk, kemelaratan dan lain sebagainya, semua itu bukan tanggung jawab dan kesalahan Tuhan , bukan disebabkan oleh karena pemeliharaan Tuhan yang tidak sempurna. Tuhan tidak punya cacad cela dalam pribadi maupun karyaNya.Kalau masih bisa berbuat salah apalagi dosa, maka Ia bukan Tuhan. Kesalahan harus dilacak dan dicari di tempat-tempat lain, misalnya pada ulah manusia sendiri, dan jangan lupa bahwa kita masih tinggal di dalam dunia dosa.Itu sebabnya maka segala sesuatu di dunia ini dapat mencelakai kita. Akan tetapi kita tidak perlu berkecil hati, karena semua itu justeru semakin mendorong rasa keadilan dan kesetiaan Tuhan untuk melindungi serta memelihara kita. Tadi kita membaca bahwa Tuhan menyamakan diriNya dengan Gembala yang memperhatikan serta membawa domba-domba ke padang rumput yang subur, sampai menjadi gemuk dan kuat (34:16) , hal itu tentu karena pemeliharaan dan berkat Tuhan Kita percaya demikian: Jika Tuhan juga mau memelihara orang-orang yang jahat di dunia ini, maka terlebih lagi anak-anakNya yang beriman.Jika Tuhan mau menjangkau mereka yang jauh, maka terlebih lagi yang mendekat dan menempelkan diri padaNya.Jika mereka yang tidak meminta saja diberi oleh Tuhan, terlebih lagi yang memohon dengan penuh harap dalam doa-doanya. Karena Tuhan sudah menghadirkan semua makhlukNya ke dalam dunia ini maka pastilah akan memelihara dengan penuh ketelatenan serta membela yang kecil dan lemah, karena Ia Maha Adil Terlebih jika yang kecil dan lemah posisinya itu bersandar dan berharap kepadaNya. Janji-janji pembelaan Tuhan ada begitu banyak di dalam Alkitab (Maz. 97:10,Maz. 55:23,Maz. 116:6 , Ulangan 10:17,18 dst). Ke dua, pimpinanNya. Dikatakan dalam bacaan kita tadi bahwa sebagai Gembala, Tuhan akan mencari yang tercerai berai dari kawanan domba (34:12). Selaku domba-domba peliharaanNya kita sungguh sangat membutuhkan pimpinan Tuhan dalam hidup ini, supaya kita jangan terpisah dari komunitas jemaat dan Tuhan.Juga jangan pernah beranggapan bahwa selaku milik Tuhan kita akan bebas dari segala macam masalah. Ketahuilah bahwa kita tidak diberi despensasi, atau bebas masalah, tapi percayalah bahwa kita akan diberi punggung yang kuat yaitu kemampuan untuk dapat mengatasi masalah dan tantangan hidup.Dalam Filipi 4:13 kita membaca:”Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Mari kita memiliki iman yang cerdas sehingga dapat menangkap “mas” berupa pengalaman yang berharga, dan semakin akrab dengan “Allah”, dalam setiap MAS-ALAH. Selanjutnya dalam penggembalaanNya Tuhan juga selalu siap memberi yang ke tiga yaitu:PertolonganNya. Secara insidental kadang kita mengalami mara dan bahaya.Tak jarang kita mendengar betapa anak-anak Tuhan menghadapi berbagai macam bahaya yang mengerikan dalam hidupnya.. Saudara, kita boleh berharap, boleh memohon pertolongan Tuhan, yang Maha Adil, dan Maha Kuasa sebab di dalam Tuhan tak ada yang mustahil. Sampai hari ini Tuhan tak berubah maka mujizatNya masih bisa terjadi! Lukas 1:37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Markus 9:23B “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Apakah kita menyadari bahwa selama ini Tuhan dengan keadilanNya selalu mau campur tangan dalam hidup kita, dari hal-hal yang sederhana sampai perkara-perkara yang besar dan mengerikan? Benarlah seperti yang tertulis dalam Yehazkiel 34 tadi bahwa Tuhan selaku Gembala menolong kita dengan cara : Mencari, menyelamatkan kita dari tempat dan hari berkabut dan kegelapan, membawa pulang dan membalut luka-luka kita (Yeh 34:10,16). Kita boleh yakin bahwa di dalam Tuhan ada pertimbangan yang seadil-adilnya sebelum memberi pertolongan.

Mazmur 100 yang kita baca tadi merupakan Mazmur yang sangat terkenal karena begitu indah dan menggugah hati! Pemazmur mempunyai kerinduan bahwa seluruh bumi mau bersorak-sorak bagi Tuhan, beribadah kepadaNya sebab Tuhan yang menjadikan kita maka kita adalah milik Tuhan. Sesungguhnya kita, semua manusia adalah kawanan domba gembalaanNya. Kita diajak untuk memuji dan bersyukur karena segala kebaikan dan kasih setiaNya atas kita turun-temurun. Dari sini sebetulnya kita diingatkan bahwa selama ini kita bersikap tidak adil terhadap Tuhan, yaitu: Mengapa kita tidak memberikan hak Tuhan atas hidup kita? Bukankah merupakan hak Tuhan jika kita beribadah dan memuliakanNya, sebab Ia yang menjadikan kita dan kita adalah milikNya? Sudah seharusnya kita bersyukur serta memuji-muji Tuhan karena Ia mengasihi dan setia kepada kita. Tetapi kita tidak melakukan semua itu dengan sebaik-baiknya, berarti kita berlaku tak adil kepadaNya.Kita hanya mau menerima dari Tuhan, tapi sangat kikir dalam bersembah sujud kepadaNya. Kita harus lebih banyak belajar dari keadilan Tuhan, dan lebih banyak memancarkan keadilanNya dalam hidup kita.

Pada saat Rasul Paulus menyapa Jemaat Efesus, yang telah kita baca tadi, sesungguhnya Rasul Paulus juga dipakai Tuhan untuk menyapa kita saat ini. Firman Tuhan melalui Rasul Paulus mengajak kita untuk memandang Yesus Kristus sebagai yang utama dan yang terhebat dalam hidup kita! Yesus Kristus itu manusia dan illahi! Yesus Kristus yang telah merampungkan tugasNya sebagai Penebus dosa itu telah dibangkitkan Allah dan diberi kedudukan yang mulia untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Maka sudah pada tempatnya jika kita memandang Yesus Kristus dengan mata hati yang terang, dengan iman, kasih dan pengharapan.

Mata hati yang terang itu haruslah mewujud dalam tindakan-tindakan yang kongkrit terhadap orang-orang yang kita jumpai di sepanjang jalan hidup kita. Maka dalam Matius 25 tadi kita diperhadapkan kepada satu kenyataan yang akan menentukan bagaimana kelanjutan hidup kita sesudah zaman berakhir. Apakah di dalam hidup ini kita sudah mengenal Kristus Yesus yang demi memenuhi keadilan illahi telah bersedia mati sebagai ganti kita? Apakah kita mengakuiNya sebagai Sang Juruselamat, Raja yang menghakimi dengan adil? Dan, apakah dalam hidup ini kita sudah menyatakan kasih Kristus kepada sesama manusia yang sangat dicintaiNya itu? Ketahuilah, sedemikian besar kasih Kristus kepada manusia sehingga apa yang kita lakukan terhadap sesama manusia, dianggapNya sebagai perlakuan kita terhadap Kristus sendiri. Jadi Saudara, pada akhirnya penekanan dari harapan dan ajaran Tuhan jatuh pada ….. kasih! Jikalau diurai, maka kata “KASIH” dapat berbunyi:Karena Allah Semua Indah Hasilnya. Sekarang saya mengajak Saudara untuk menyimak sepintas lintas tema kotbah kita: “Sang Juruselamat adalah Hakim yang adil”..Ketahuilah Saudara, di balik tema itu terdapat Triple Kasih. Coba perhatikan: Siapakah Sang Juruselamat yang dimaksud? Yesus Kristus.Mengapa Yesus Kristus mau menjadi Juruselamat? Jawabnya adalah karena kasih! Sekarang “Hakim” Siapa yang dimaksud dengan Hakim? Tentu Yang Paling berkuasa, zaman dulu Raja juga menjadi hakim.Siapa Raja diatas segala Raja yang paling berkuasa?Kita tahu jawabnya, yaitu Yesus Kristus. Tapi dalam Injil Yohanes 3:17 kita baca tentang Yesus”Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Itu berarti tujuan Tuhan turun ke dunia yang sesunguh-sungguhnya bukan mau menghukum atau membinasakan melalui pengadilan dan penghakiman ala dunia ini, melainkan mau menolong , menyelamatkan karena kasihNya.Kita sampai pada kata “Adil”. Sudah jelas sangat mendukung kasih.Tidak menjatuhkan hukuman hanya berdasarkan kata orang. Tidak serampangan tapi berhati-hati,bijaksana dan penuh welas asih serta adil.Kita lalu ingat peristiwa Tuhan Yesus yang diminta mengadili perempuan yang kedapatan berzinah dan siap dirajam dengan batu. Kalau Tuhan Yesus menyelamatkan nyawa perempuan itu bukan karena Tuhan lunak terhadap dosa, tapi karena kasihNya kepada seorang pendosa yang ke depan Tuhan Yesus sudah siap menjadi wakilnya.Saudara, sesudah menjadi obyek kasih Tuhan maka marilah di kelanjutan hidup ini kita lebih bersungguh-sungguh menjadi subyek kasihNya. Sama seperti bulan, sesudah menerima terang dari matahari lalu memantulkannya ke dunia.


13 Kristen / Renungan / PAHLAWAN-PAHLAWAN IMAN: 16 Nopember 2008
on: November 02, 2008, 10:44:10 PM
Oleh Pdt.Em Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 16 Nopember 2008
Tahun A: Minggu Biasa 26


PAHLAWAN-PAHLAWAN IMAN

Hak. 4:1-10; Mzm. 123; 1 Tes. 5:1-11; Mat. 25:14-30

Dalam sebuah peperangan pada zaman dahulu, konon ada kejadian yang sangat menarik, sebagai berikut: Ketika peperangan sudah usai, ternyata masih terdengar bunyi tambur musuh dari dasar sumur kering, rupanya tadi penambur telah terperosok dan sekarang tidak mengetahui bahwa perang sudah berakhir dengan kekalahan dipihaknya. Tentu saja ia ditertawakan oleh bala tentera musuh dari atas sumur.Namun tiba-tiba Sang Jendral musuh membentak anak buahnya supaya jangan mengejek, tapi segera mengeluarkannya dari dasar sumur, sambil dengan penuh wibawa berkata:”Dia adalah pahlawan yang gagah, yang patut kita teladan!” Kepahlawanan yang ditandai keberanian, setia kawan dan kesungguhan hati serta rela berkorban selalu akan dihargai dan dikagumi baik oleh kawan maupun lawan. Tentang mengagumi musuh, Tuhan Yesus bahkan pernah memuji kecerdikan bendahara yang tidak jujur, anak-anak dunia serta ular.(Lukas 16, Matius 10).

Dalam bacaan Hakim-hakim 4 tadi sesungguhnya kita melihat tiga tokoh yang bisa saja kita sebut sebagai Pahlawan, yaitu: Debora, Barak, dan Yael. Peranan tiga orang itu sangatlah penting dalam peperangan umat Tuhan melawan bangsa Kanaan, dengan Sisera sebagai panglima perangnya. Kemenangan fihak umat Tuhan tentu saja merupakan surprise besar sebab sudah duapuluh tahun ditindas dengan keras oleh musuh.Itu yang kita baca dalam Alkitab. Semakin lama ditindas dengan keras, biasanya akan semakin kehilangan semangat untuk bangkit. Apalagi waktu itu Sisera terkenal dengan persenjataan perangnya yang canggih, yaitu 900 kereta besi! Tetapi yang muncul dari pihak umat Tuhan sebagai penantangnya justeru seorang hakim wanita, Debora yang berdampingan dengan Barak. Babak terakhir dari pertempuran itu sungguh sangat tragis! Semua tentera musuh dapat ditewaskan dan yang paling akhir Sisera juga dibinasakan secara konyol di bawah tangan seorang wanita , seorang ibu rumah tangga yang bernama Yael.Pelipisnya ditimbus dengan patok kemah ketika dia sedang tidur nyenyak.

Beberapa hal yang patut kita simak di sini, yang pertama adalah bahwa semula Tuhan memang dengan sengaja menyerahkan umatNya ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, karena dosa-dosa umatNya. Dengan kata lain Tuhan mengijinkan bangsa Kanaan menindas dengan keras umat kesayangan Tuhan itu sebagai bentuk hukumanNya (ayat 1 dan 2). Dengan berbuat demikian sebenarnya Tuhan merugi, sebab disangka oleh semua pihak bahwa Tuhan tak bejus melindungi umatNya atau dinilai kurang mengasihi umatNya. Berarti dengan berbuat demikian Tuhan sedang korban perasaan demi kepentingan umatNya.Begitu pula kita ingat saat Tuhan Yesus rela menanggung hukuman salib yang hina dan terkutuk itu, pasti muncul banyak dugaan yang kliru mengenai diriNya.Maka doa Tuhan Yesus:”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34). Ketika pada zaman Debora, umat Tuhan ditindas dengan keras, sebenarnya batin Tuhan ikut menderita.Tuhan rela menanggung semua itu demi menegakkan keadilan dan kesucian yang telah diinjak-injak oleh umatNya, juga demi kasih Tuhan yang ingin menyadarkan kesalahan umatNya serta mendewasakan mereka melalui hukuman Tuhan saat itu.Setelah umatNya menyadari segala dosanya (Tuhan tentu berkuasa mengetahui hal itu) serta mohon pertolonganNya, juga karena oleh Tuhan dipandang sudah tiba saatnya maka Tuhan pun bersedia menolong umatNya untuk bisa bebas dari penindasan yang berat itu.Sebab Tuhan tidak merencanakan yang jahat untuk umatNya. Tuhan tidak mau umatNya menjadi seperti talenta yang terpendam, ke depan, umatNya itu haruslah menjadi bangsa yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya serta berbuah lebat di antara bangsa-bangsa di dunia.

Hal ke dua yang menarik adalah bahwa Tuhan mendukung Debora untuk berkiprah dalam peperangan yang begitu besar. Debora sang hakim dan nabiah itu ternyata pegang peranan yang sangat besar karena selalu memberi petunjuk dan semangat kepada Barak yang memimpin sepuluhribu orang itu. Di sini kita melihat bahwa seorang wanita sekali pun, di dalam tangan Tuhan dapat berjasa besar bagi bangsanya dan berdaya guna dalam Kerajaan Allah..Sama halnya dengan hanya memiliki satu talenta, walau dipandang paling kecil dan sedikit, tidak menjadi masalah, yang terpenting ada kesungguhan hati dan usaha yang optimal. untuk mengelolanya.

Hal ke tiga yang kita lihat adalah terjadinya kerja sama, saling melengkapi diantara “para pahlawan” tadi, Debora, Barak dan Yael , demikian pula dengan sepuluhribu warga suku Zebulon dan suku Naftali, yang menjadi sukarelawan perang. Faktor campur tangan dari Tuhan atas umatNya juga harus diperhitungkan! Dari sini kita diingatkan bahwa di dunia ini sebenarnya tidak ada pahlawan yang memilik kemampuan yang sempurna untuk berjuang seorang diri. Hanya Yesus Kristus yang memiliki kemandirian yang hakiki sebab Ia adalah Manusia sejati yang tak punya dosa , dan illahi yang mampu menanggung hukuman kekal.Orang-orang yang kelihatannya seperti membantu meringankan penderitaan Tuhan Yesus sebenarnya adalah orang-orang yang beroleh anugerah untuk boleh ambil bagian dalam pekerjaanNya, serta untuk bisa berdekatan dengan Tuhan Yesus. Justeru sangat menguntungkan fihak manusia. Sebab sebenarnya Tuhan Yesus tidak membutuhkan bantuan apa pun dari siapa pun, Dia adalah penebus tunggal yang sempurna.Pahlawan sejati bagi kita!Di dalam Mazmur 123 yang kita baca tadi, mata hati setiap manusia diajak untuk memandang kepada Tuhan saja. Kita tidak bisa membanggakan kemampuan serta kepahlawanan kita, di hadapan Tuhan kita hanya bisa minta dikasihani. Hanya Tuhan yang dapat menolong kita dari keadaan yang hina karena dosa. Saudara, kita patut bersyukur karena di dalam Kristus Yesus harkat kita sudah diangkat. Bahwa kita tidak hanya telah diampuni tapi juga sebagai anak-anak tebusan kita boleh berkarya dalam KerajaanNya. Maka perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta, dalam Matius 25 tadi, perlu kita pahami dengan benar.Setiap orang memang mendapat talenta yang berbeda, tetapi mendapat tuntutan yang sama, yaitu agar dikembangkan seoptimal mungkin Karena talenta yang kita terima itu berasal dari Tuhan, maka mesti baik dan bila kita kembangkan seoptimalnya maka juga akan sangat berguna bagi Kerajaan Allah di dunia ini.Akan mendatangkan damai sejahtera di antara sesama kita.Saat ini kita sedang bingung menghadapi krisis global.Tahukah Saudara bahwa krisis yang paling menakutkan adalah minimnya damai sejahtera? Banyak orang yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, kemakmurannya sendiri, korupsi lalu menjadi budaya bangsa. Kalau begitu musuh kita bukanlah bangsa Kanaan, yang kita takuti bukanlah Sisera dengan kereta besinya. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana kita dapat mengerjakan segala sesuatu yang menghadirkan damai sejahtera dalam hidup kita.Bagaimana menyadarkan orang-orang di sekitar kita, bagaimana bersama kita mereka mau mengutamakan damai sejahtera, dan melipat gandakannya.Talenta dalam tangan kita adalah, segala kemampuan dan kesempatan untuk ambil bagian dalam menghadirkan damai sejahtera.Untuk setiap perbuatan baik, kita harus mulai dengan diri sendiri. Yang dipertanyakan oleh Tuhan :”Apakah engkau sudah mengembangkan talenta pemberianKu? “Bagaimana cara engkau mengembangkannya?” “Untuk siapa kau kembangkan talenta itu?” “Dan apakah engkau masih giat melakukannya?”

Apa yang kita baca dalam I Tesalonika 5 tadi? Dalam menyongsong masa depan serta kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua nanti, kita diminta untuk bersikap benar. Seperti orang siaga dalam peperangan, sebab dalam ayat 8 Firman Tuhan mengatakan agar kita mengenakan bajuzirah iman dan kasih dan berketopongkan pengharapan keselamatan. Nah, kita semua dilibatkan dalam peperangan iman, dan diharapkan keluar sebagai pahlawan-pahlawan iman.Iman, kasih, pengharapan, dan seterusnya merupakan senjata rohani andalan kita, tetapi semua itu juga adalah talenta berharga pemberian Tuhan.Awas Tuan kita Yesus Kristus akan datang kembali dan akan memeriksa dengan cermat segala kegiatan yang sudah kita lakukan di dunia ini.Ia akan bertanya kepada Anda dan saya:”Apa yang telah kau lakukan dengan talentamu?” Sangat mungkin kita tidak menguburnya dalam tanah, tapi jika kita tidak mengembangkan seoptimal mungkin maka kita pasti akan mendapat teguran yang keras! Saudara, disini ada sebuah kejadian yang dapat membuat kita untuk lebih menghargai talenta kecil yang kita sangka tak berharga: Sir Michael Costa, seorang konduktor terkenal, sedang mengadakan pertunjukan. Saat koor dinyanyikan, diiringi dengan ratusan alat musik, pemain piccolo (seruling kecil) berhenti bermain, karena mengira kontribusinya tidak akan berarti di tengah musik seagung itu.Tiba-tiba pemimpin orkestra itu berhenti dan berteriak:”Mana piccolonya?!” Suara alat musik kecil itu penting untuk harmoni dan telinga konduktor itu tidak melupakannya.



14 Kristen / Renungan / 19 Oktober 2008: BERHATI-HATI DALAM BERKATA-KATA
on: October 09, 2008, 07:12:20 PM
Oleh Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 19 Oktober 2008
Tahun A Minggu Biasa 21
BERHATI-HATI DALAM BERKATA-KATA

Keluaran 33:12-23; Mazmur 99; I Tesalonika 1:1-10; Matius 22:15-22
Apa Saudara masih ingat kisah Naaman yang disembuhkan Tuhan melalui nabi Elisa? Padahal sakit kusta tapi bisa sembuh seketika hanya dengan cara mandi di sungai Yordan. Nah,Gehazi hamba Elisa itu secara diam-diam menemui Naaman dan berkata dusta bahwa disuruh tuannya karena ada keperluan mendesak, untuk meminta hadiah yang semula telah ditolak oleh tuannya. Kata-kata dustanya telah mendatangkan kekayaan besar bagi Gehazi. Tapi karena tetap berkata dusta setelah berhadapan dengan Elisa maka Gehazi dihukum Tuhan, penyakit kusta Naaman pindah ke tubuh Gehazi dan ke semua anak cucunya! Di Perjanjian Baru kisah Ananias dan Safira lebih mengerikan lagi. Waktu mempersembahkan untuk pekerjaan Tuhan, Ananias telah mendustai diri sendiri, mendustai Petrus dan Roh Kudus mengenai hasil penjualan tanahnya, maka ia mendapat hukuman dari Tuhan tewas seketika. Safira, isterinya mengalami hal yang sama karena meneguhkan kata-kata dusta Ananias.

Saya tidak bermaksud membuat Saudara menjadi takut.Sangat mungkin hal-hal seperti itu sudah tidak atau jarang kita jumpai lagi. Tapi yang penting, marilah kita terima peringatan dari Tuhan supaya berhati-hati dalam berkata-kata. Ketika kita berkata-kata kepada Tuhan dalam doa, maupun kepada keluarga dan sesama dalam pergaulan kita. Mengenai berkata-kata,Tuhan Yesus bersabda dalam Matius 5:37 “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Ajaran Tuhan Yesus ini menimbulkan pertanyaan di hati kita:”Jika orang kristen harus bicara apa adanya, apakah tidak akan dijadikan bulan-bulanan oleh orang jahat?” Jangan lupa Tuhan Yesus juga berkata dalam Matius 10:16 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” AjaranNya ini selalu diwujud- nyatakan oleh Tuhan Yesus dalam hidupNya; seperti dalam bacaan kita tadi, Matius 22:15-22. Di awali dengan perundingan orang-orang Farisi untuk menjerat Tuhan Yesus dengan suatu pertanyaan. Untuk itu mereka lalu mengutus murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian menghadap Tuhan Yesus. Mula-mula menyampaikan kata-kata yang mengandung pujian tapi palsu, kemudian baru pertanyaan jerat yang tendensius dan dilematis. Mereka itu seperti serigala yang siap menerkam domba. Pertanyaan yang diajukan sepertinya sangat sederhana, tapi bisa berakibat fatal bagi jiwa Tuhan Yesus. “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Jika dijawab “boleh” maka Tuhan Yesus bagi bangsaNya adalah seorang pengkhianat, pengecut, sahabat kaisar sang penjajah. Jika dijawab “tidak boleh” maka mereka akan melaporkan kepada orang-orang Romawi, dan Tuhan Yesus akan ditangkap sebagai seorang revolusioner dan penghasut, pemberontak. Mereka yakin bahwa Tuhan Yesus sudah masuk ke dalam perangkap, dan tidak bakal bisa melepaskan diri. Saudara, mereka tidak berhati-hati dalam berpikir, berkata-kata maupun bertindak. Mereka lupa diri dan tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa? Pada tempatnya jika Tuhan Yesus marah, tapi tidak kita jumpai dalam Alkitab, yang jelas Tuhan Yesus kecewa berat dan merasa sedih, itu terbaca dalam ayat 18, demikian: Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata:”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” Jadi Saudara, kejahatan hati akan menghasilkan kata-kata yang berbisa! Kemudian kata Tuhan Yesus:”Tunjukkan kepadaKu mata uang untuk pajak itu.” Setelah ditunjukkan dan ternyata ada gambar serta tulisan kaisar di sana, berkatalah Tuhan Yesus:”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Inilah contoh terbaik dan tepat untuk “Berhati-hati dalam berkata-kata”. Di dalamnya ada kecerdikan dan ketulusan. Cerdik dalam menyikapi kejahatan, tulus dalam mengungkap kebenaran. Jawaban Tuhan Yesus membuat mereka heran dan meninggalkan Dia. Kata-kata sembrono dan beracun telah ditangkis dengan kata-kata bijak tanpa cela. Jika keping uang itu ada gambar dan tulisan Kaisar, tentunya milik Kaisar maka wajib dikembalikan kepada Kaisar sebagai pajak. Tapi! Dalam diri kita ada gambar Allah, bukan? Berarti kita adalah milik Allah, maka wajib kita serahkan hidup kita kepada Allah! Lebih jauh patut kita ketahui bahwa Kerajaan Allah mencakup wilayah mana pun di dunia ini, jadi setiap orang termasuk Kaisar harus tunduk dan wajib “membayar pajak” kepada Allah Yang Maha Kuasa. Termasuk kepada Putera Allah dan Allah Putera!

Saudara mari sekarang kita menyimak bacaan kita yang pertama, Keluaran 33. Kita membaca di sana bahwa sebenarnya Tuhan memberi hal-hal yang penting. Kepada Musa yang dikenalNya dengan baik itu Tuhan memberi kasih karunia, dan di ayat 14 secara pribadi Tuhan bersedia membimbing Musa dan memberi ketenteraman. Walaupun demikian tetap ada satu hal yang mengganjal di hati Musa, yaitu: Mengapa Tuhan hanya akan mengutus seorang malaikat dalam perjalanan umat Allah ke Tanah Kanaan? Meskipun malaikat itu handal sehingga berkuasa menghalau musuh-musuh yang akan merintangi perjalanan mereka, meskipun mereka dijamin tiba di tempat tujuan dengan selamat, tetapi Musa tetap tidak senang hati. Aneh,bukan? Biasanya manusia bersyukur dan pasti merasa bangga jika didampingi oleh malaikat, apalagi malaikat khusus yang diutus oleh Tuhan sendiri. Di ayat 15 lebih tegas Musa berkata jika Tuhan sendiri tidak membimbing, lebih baik tidak berangkat! Saudara, apa ini tidak kliwat batas? Sepertinya Musa begitu sembrono dengan kata-kata penolakannya, sangat tidak berhati-hati dalam berkata, kepada Tuhan lagi! Untung besar bahwa Musa berhadapan dengan Tuhan, yang mendengar kata-kata dan sekaligus dapat melihat isi hati yang sedalam-dalamnya. Meskipun Tuhan mendengar kata-kata yang bernada membangkang, namun Ia melihat hati Musa yang tulus menghargai dan mencintai Tuhan serta umatNya. Bagi Musa kehadiran malaikat, perjalanan yang aman, dan akhirnya tiba di Tanah Perjanjian dengan selamat, semua itu menjadi nomer dua. Nomer satu dan yang terpenting adalah Tuhan! Seperti bunyi Mazmur 73:25B “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Jika Tuhan yang sejauh ini selalu menyertai perjalanan lalu tiba-tiba hanya mau mewakilkan malaelatNya, maka mesti ada yang tak beres. Hubungan Tuhan dengan Musa baik-baik saja, tetapi tidaklah demikian dengan umatNya. Lalu apa artinya semua keerhasilan yang dicapai umat Tuhan jika tetap ditandai keretakan hubungan dengan Pribadi yang utama, yaitu Tuhan? Keperihatinan Musa yang membuat ia kurang bersyukur, kurang berserah, dan mungkin kita anggap kurang ajar, tapi justeru sangat menyentuh hati Tuhan sehingga Ia bersedia mengabulkan permohonan Musa. Maka di ayat 17 kita membaca:”Juga hal yang telah kau katakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapanKu dan Aku mengenal engkau.” Kalau demikian Allah kita Maha Pemaham dan Pemaaf., sebab walaupun peristiwa Anak Lembu Emas sedemikian masih menyakitkan hatiNya namun Tuhan rela korban perasaan. Dan di sini tidak ada basa basi illahi. Yang ada hanya ketulusan hati yang menyebabkan Tuhan juga sangat menghargai ketulusan hati yang merupakan sumber dari setiap perkataan kita. Selanjutnya kita juga akan melihat bagaimana kalau Tuhan sudah jatuh hati kepada seseorang. Kita tahu bahwa kasihNya kepada manusia menyebabkan Tuhan memberikan PuteraNya, memberikan DiriNya, kehadiran dan kemuliaanNya tidak dipersoalkan lagi. Hal itu kita lihat dalam kesediaan Tuhan untuk lewat di hadapan seorang Musa! Tak habis dimengerti bahwa Tuhan sedemikian mengupayakan agar keinginan Musa dapat terwujud tanpa mencelakainya. Itulah kedekatan agung yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia, akan berlanjut dalam Kristus , dalam Roh Kudus dan surga kelak!

Saudara apa yang kita baca di I Tesalonika 1:1-10 tadi? Bahwa buah pemberitaan Rasul Paulus bukan hanya berupa orang-orang yang pandai berbicara atau berkata-kata., tetapi sikap hidup yang baru. Dan semua itu berasal dari hati yang disentuh oleh Roh Kudus. Jika sudah begitu maka Jemaat di Tesalonika dapat menjadi teladan untuk banyak orang di sekitarnya bahkan sampai di tempat-tempat yang jauh.

Dalam Mazmur 99 tadi kita juga melihat betapa pemazmur mendambakan bangsa-bangsa di dunia meninggikan dan memuliakan Tuhan. Hal itu dapat terwujud jika Tuhan memberi kasih karuniaNya, dan umat Tuhan mau memperkenalkan Tuhan melaui hidupnya. Ya, melalui kata-kata dan perbuatan yang berasal dari hati yang tulus dan jernih. Sehubungan dengan tema kita, di sini ada nasehat yang menarik, dengan judul: “Kurangi Dan Perbanyak Dalam Hidup Ini”

Kurangi ucapan dengki, perbanyak ucapan mengasihi
Kurangi kata yang mengejek, perbanyak kata yang menghargai
Kurangi kata yang melemahkan, perbanyak yang mendorong
Kurangi kata yang negatip, perbanyak yang positip
Kurangi kata-kata kritik, perbanyak yang membangun
Kurangi kata-kata kasar, perbanyak yang lemah lembut.

Di sini juga ada nasehat bagus dari Buku Litani Serba Salah Pastor untuk Saudara: Suatu hari datang seorang berbisik kepada Socrates:”Ada gosip tentang temanmu.” “Tunggu, harus kau teliti dengan tiga saringan! Pertama, apakah kau yakin bahwa gosipmu itu benar?” “Maaf aku mendengar dari orang ke dua.” “ Menurutmu hal yang akan kau katakan itu baik apa tidak baik?” “Sepertinya kurang baik lho.” “Ketiga, apa kau rasa perlu kau sampaikan kepadaku? Jika tidak benar, tidak baik, dan tidak perlu, sebaiknya kau buang saja!” Saudara, sudah wajar jika kita senang berkata-kata sebab Tuhan kita juga berfirman. Tapi mari lebih berhati-hati berkata sebab dapat menjadi berkat, tapi juga sebaliknya dapat merusak. Dapat menyembuhkan atau menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar