Kamis, 22 April 2010

MEMBACA AMSAL DALAM KONTEKS (Apakah Salomo mengenal Amenemope dan Ahiqar?) dalam buku Hikmat dan Hidup Sukses

Oleh; Sarmen Sababalat

Pendahuluan
Ketika kita pertama kali mendengar kata Amenemope dan Ahiqar, pasti kita terkejut dengan kata itu karena baru pertama kali kita mendengar istilah itu. Pertanyaan itu juga terlintas dalam pemikiran saya, “apa sih artinya? Kenapa di dalam Alkitab tidak ada kata seperti itu?”, dll. tetapi setelah saya membaca berulang-ulang dalam bab ini, maka saya baru mendapatkan sedikit pengertian. Walaupun di dalam paper ini tidak terlalu lengkap, tetapi dapat membantu kita dalam mendapatkan pengertian itu.

Pembahasan
Ada beberapa kemiripan antara amsal-amsal di dalam kitab Amsal dengan amsal-amsal yang berasal dari kebudayaan Mesopotamia, Mesir, dan rumpun bahasa Semit Barat Laut (terutama bangsa Aram).

Hikmat Mesopotamia
Sastra Bangsa Sumer.
Wilayah Mesopotamia adalah daerah tempat bersemainya peradaban purba yang berkembang di antara Sungai Tigris dan Sungai Efrat, yang wilayah paling selatannya dibatasi oleh perairan yang disebut dengan Teluk Persia. Bangsa Sumer menghasilkan kebudayaan yang sangat maju dengan memunculkan kuneiform, yaitu sistem penulisan paling awal dengan membuat takik-takik (torehan) dengan tatah kayu pada tablet-tablet tanah liat yang belum mengeras atau dengan memahat monumen-monumen cadas (batu karang). Ada beberapa kesamaan antara amsal yang ada di kitab Amsal dengan Amsal Sumer, khususnya perhatian terhadap anak-anak yang tidak taat dan istri-istri yang susah diatur:

Anak yang susah diatur seharusnya tidak dilahirkan oleh ibunya. Seharusnya
dewa sembahannya tidak pernah menciptakan dia (Kumpulan Amsal Sumer 1:157).
Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal
adalah kedukaan bagi ibunya (Amsal 10:1)

Istri yang boros tidak dapat makan di dalam rumah (Koleksi Amsal Sumer 1:154).
Lebih baik tingal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah dengan
perempuan yang suka bertengkar (Amsal 21:9).

Sastra Bangsa Akkad.
Versi Akkad ditemukan oleh W. G. Lambert, seorang pakar asyiriologi, memberikan spekulasi bahwa sastra Akkad tidak mengikutsertakan amsal dalam jumlah banyak karena kaum kassit tidak menaruh hormat pada karya sastra yang memiliki akar budaya lisan atau budaya populer. Bagi Lambert, sastra amsalpun termasuk di dalamnya.

Hikmat Mesir
Dalam bahasa setempat, jenis utama hikmat Mesir dinamakan sbyt, yang biasanya diterjemahkan dengan “pengajaran” atau “petunjuk”. Genre ini salah satu yang populer di antara seluruh sastra Mesir. Pengajaran-pengajaran seperti ini biasanya berasal dari kalangan atas masyarakat Mesir dengan maksud memberikan nasihat-nasihat tentang cara bertahan, atau bahkan meningkatkan diri di tengah masyarakat. Bentuk yang diambilnya adalah ujaran seorang ayah yang sedang menasihati putranya, yang sering kita temui sekarang ini. Di dalam beberapa amsal, sang ayah adalah sang raja; di dalam semuanya, sosok ayah adalah orang yang telah berumur dan berpengalaman namun hendak mengundurkan diri dari posisinya yang tinggi di tengah masyarakat, sementara putranya justru baru berkarir di sana. Genre ini punya banyak contoh: Ptahotep (ini adalah yang paling tua dari yang lain, tetapi bukan yang paling tua dari teks-teks ajaran Mesir yang sudah ditemukan. Karya ini dimulai dengan prolog yang panjang, yang kemudian diikuti oleh tiga puluh tujuh pasal sebagai tubuh teks yang berisi ajaran), Merikare (ini merupakan contoh dari teks wasiat kerajaan, si pembicara adalah seorang raja yang tidak dikenal sedangkan orang yang disapanya adalah pangeran calon pewaris takhta), Amenemope (ajarannya teks ini meengontraskan antara “manusia panas” dan keinginan-keinginannya dengan “orang tenang” yang lebih rendah hati dan sederhana hidupnya ) dan Ankhsheshonqy (teks ini dimulai dengan sebuah kerangka naratif yang menjelaskan mengapa Ankhsyesyongqi menulis sebuah teks hikmat bagi putranya) .

Amsal-amsal kelompok Bahasa Semit Barat Laut.
Dari sudut pandang sastra hikmat non alkitabiah, satu-satunya teks dari kelomok ini adalah Ahiqar, yang terdiri dari sebuah kisah yang menarik dan diikuti dengan serangkaian amsal-amsal. Ahiqar memulai karirnya sebagai penasehat bagi Sanherib (704-681 SM), raja Asyur. Ahiqar tidak mempunyai putra, sehingga ia membesarkan keponakannya, Nadin, untuk menjadi penggantinya. Setelah Sanherib terbunuh, Esarhadon naik tahta. Nadin mengkhianati sang paman sehingga raja memerintahkan Nabusumiskun, perwiranya, untuk mengeksekusi si orang tua itu. Untung saja bagi Ahiqar, ia menyelamatkan si perwira tersebut, sehingga iapun meminta untuk dibebaskan dan diluputkan dari hukuman mati tersebut. Kata-kata hikmat dalam narasi ini adalah berkalimat pendek, dan memiliki pengaturan yang acak, sebagaimana lazimnya kumpulan-kumpulan amsal lainnya, termasuk kumpulan yang kita temukan di dalam kitab Amsal.

Implikasi-implikasi
Relasi ayah-anak
Di dalam prolog dari teks-teks ajaran Mesir, sosok ayah dan putranya memang disebutkan, tetapi dinamika relasi ayah-anak tidak selalu dilanjutkan ke bagian nasihat. Dalam hal ini, hubungan antara ayah-anak lebih bersifat professional dan bukan hubungan biologis: seorang empu sedang menyapa murid. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan seorang anak kandung akan mengikuti karir ayahnya.

Amenemope dan Amsal
Kemungkinan teks yang paling banyak ialah teks Amsal 22:17-24:22 dengan ajaran Mesir berjudul Amenemope. Teks ini merupakan relasi antara hikmat alkitabiah dan hikmat Mesir. Jadi kita tidak dapat menyangkali bahwa memang ada kemiripan antara Amenemope dengan bagian “amsal-amsal orang bijak” dari kitab Amsal 22:17-24:22. Beberapa sarjana berargumentasi bahwa kemiripan antara Amenemope dan kitab Amsal bukanlah sesuatu yang unik. Mereka mengatakan bahwa jika kita memperhatikan lebih banyak lagi teks ajaran Mesir, kita akan memperoleh lebih banyak pararel, bukan hanya dari teks ini tetapi juga dari teks-teks lainnya. Kita juga menemukan adanya kemiripan antara ide-ide hikmat di dalam Amenemope dan Amsal, dan juga dengan hikmat dari kebudayaan lainya, terutama teks Ahiqar yang berbahasa Aram. Mungkin kesimpulan lebih baik bahwa bukanlah ada sebuah relasi khusus di antara kitab Amsal dan Amenemope, tetapi bahwa kedua teks ini merupakan bagian dari sebuah tradisi hikmat internasional yang sama-sama memiliki banyak kemiripan.

Tema-tema Hikmat
Perempuan Yang berbahaya
Tradisi-tradisi hikmat dari Mesir, Mesopotamia, dan Palestina memperingatkan para laki-laki muda yang membaca teks mereka akan bahaya dari para perempuan penzina, atau bahaya perselingkuhan dengan perempuan yang sudah menikah. Tindakan ini tidak baik karena akan membuat suami dari perempuan itu cemburu dan si laki-laki muda terjebak ke dalam tindakan-tindakan gila dan menjauhkannya dari keluarganya. Hal ini sesuai dengan tema utama dalam kitab Amsal, terutama dalam sembilan pasal pertamanya, mis: Amsal 6:23-26.

Orang berikmat dan orang bebal
Semua tradisi Timur Tengah Purba menggarisbawahi hal ini dan memberikan nasihat tentang bagaimana meminimalisasi masalah dan memaksimalkan sukses. Di dalam kitab Amsal sosok ideal yang ditampilkan adalah orang berhikmat, dan hikmat terkait dengan kebenaran sebuah kategori etis. Di dalam sastra Mesir, sosok ideal yang ditampilkan adalah orang yang berkepala dingin dan tenang, sementara kategori lawannya adalah yang bertemperamen panas. Namun ada juga perbedaannya, yaitu dalam konteks yang lebih besar, hikmat yang ditampilkan kitab Amsal adalah sebuah konsep yang sangat teologis. Misalnya:

Jangan Berteman dengan orang bertemperamen panas,
juga jangan dekati dia untuk berbincang-bincang
(Amenemope pasal 9)

Jangan menjawab orang bebal dengan kebodohannya,
supaya jangan engkau sendirin menjadi sama dengan dia
(Amsal 26:4)

Bila ia berhikmat, maka ia berada dalam relasi dengan perempuan bernama hikmat, yang adalah personifikasi dari hikmat Yahwe, dan pada akhirnya dengan Yahwe sendiri. Hikmat Mesir pada akhirnya adalah sebuah konsep sentral yang ditegakkan oleh para dewa-dewi, dan kadang-kadangpun dipersonifikasikan sebagai dewi.

Topik-topik serupa lainnya
Paralelisme hikmat bukan hanya terdapat dalam kedua amsal-amsal di Amenemope dan kitab Amsal, tetapi muncul juga di dalam teks-teks kebudayaan Timur Dekat lainnya. Sebagai contoh nasihat akan bahayanya minum-minuman keras di dalam Ajaran Ani dan kitab Amsal:

Jangan minum bir berlebihan,
kalau tidak engkau akan mengucapkan kata-kata jahat
dan tidak tahu apa yang engkau katakan (Ani)

Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut,
tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya (Amsal 20:1)

Bentuk-bentuk hikmat
Bentuk dari pada hikmat dalam kitab Amsal itu biasanya mengunakan sedikit kata-kata, baris-barisnya pendek dan padat yang bernas dengan penggambaran dan dikelompokkan dalam paralelisme-paralelisme. Sedangkan dalam ajaran Mesir kata-katanya panjang.


Kesimpulan
Dari uraian di atas, kita dapat menemukan ternyata ada kemiripan antara sastra yag ada di Timur Tengah Purba dengan kitab Amsal. Namun, ketika kita membaca sastra yang ada di Timur Tengah Purba, kita tidak usah menimbulkan pertanyaan mana yang lebih dulu atau siapa mengutip siapa melainkan kita diajar untuk mengenal sebagian dari sastra yang ada di Timur Tengah Purba yang juga mirip dengan kitab Amsal yang berujung kepada hikmat yang benar dan takut akan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar