Jumat, 23 April 2010

Doa Bapa Kami (Berikanlah Kami Pada Hari Ini Makanan Kami Yang Secukupnya)


Oleh: Sarmen Sababalat

Pendahuluan
Doa penuh iman dari umat Allah itulah yang membuka pintu aliran kuasa-Nya yang dahsyat. Doa penuh iman dari kitalah yang mempersiapkan dan membuka jalan bagi Tuhan agar kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di sorga. Jika kita merasa belum pernah berdoa seperti itu, renungkanlah. Kita seringkali berdoa seperti itu tanpa menyadari dan memahaminya, bahwa sebenarnya kita telah menaikkan suatu doa yang penuh kuasa, doa profetik yang setiap saat kita doakan, dan yang dalam Injil Matius 6:9-13 disebut "Doa Bapa Kami". Dalam bagian ini, dibahas hanya satu permohonan yaitu: Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.

Pembahasan
Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dalam bahasa Yunani a;rton adalah “roti”. Yang dimaksudkan di sini dengan “roti” ialah roti dalam arti yang sesungguhnya: roti sebagai makanan rakyat pada waktu Yesus. Dalam karya penyelamatan-Nya, roti, (=makanan) menempati tempat yang penting. Sama pentingnya dengan penyembuhan orang sakit, pemelekan orang buta, pentahiran orang kusta, dll. Karena itu Yesus bukan saja mengajar dan menyembuhkan orang, tetapi ia juga memberi makan kepada mereka yang lapar (band Mat 14:13-21). Dalam Alkitab waktu penggenapan sering diumpamakan dengan perjamuan. Alkitab tidak begitu “rohani’, seperti yang kita sangkakan. Baginya hidup jamaniah di dunia ini adalah hidup yang penting. Karena itu Yesus mengajar kita berdoa: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Makanan, yang kita butuhkan dalam hidup kita di dunia ini, adalah hasil pekerjaan kita. Sungguhpun demikian, kita berdoa: Berikanlah …! Mengapa? Bukan saja karena segala sesuatu yang kita butuhkan untuk pekerjaan kita – kekuatan, kesehatan, dll – kita terima dari Allah, tetapi terutama karena tanpa berkat-Nya pekerjaan kita tidak mempunyai arti. Makanan yang kita minta kepada Allah ialah makanan yang cukup untuk hari ini. Kita adalah orang-orang yang sedang berada di tengah jalan dengan suatu tugas. Tugas itu harus kita tunaikan. Untuk itu kita minta segala sesuatu yang kita butuhkan dari Allah. Tidak lebih daripada itu! Apa yang tidak kita butuhkan, tidak kita minta. Itu yang dimaksudkan oleh permohonan ini dengan “makanan yang secukupnya”. Makanan yang kita minta kepada Allah itu bukan hanya untuk kita saja, tetapi juga untuk sesama kita manusia. Khususnya untuk mereka yang hidup dalam kemiskinan, kelaparan dan penderitaan. Itu berarti: untuk sebagian besar dari rakyat kita dan dari penduduk dunia pada waktu ini. Doa tanpa syafaat ini – syafaat untuk sesama kita manusia – bukanlah doa seperti yang Yesus ajarkan kepada kita. Kalau permohonan keempat ini kita terjemahkan untuk kita pada waktu ini, bunyinya kira-kira seperti berikut: Ya Tuhan, berilah supaya segala sesuatu yang Kau berikan kepada kami di dunia ini, kami dapat bagi bersama-sama begitu rupa, sehingga tiap-tiap orang dapat hidup sebagai manusia di hadapan-Mu.
Kalimat doa singkat di atas, nampaknya hanyalah permohonan sederhana kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusiawi kita sehari-hari. Tetapi sebenarnya, jika kita letakkan dalam hubungan kata-kata doa yang dinaikkan Yesus mengandung arti yang lebih dalam – suatu permohonan agar Allah memenuhi apapun yang kita butuhkan setiap hari dengan tujuan agar kita dapat menggenapi rencana-Nya yang abadi bagi kita. Merupakan suatu petisi bagi hal-hal yang harus kita miliki – pewahyuan, hikmat, pemenuhan kebutuhan rohani untuk melanjutkan langkah menuju takdir ilahi kita.
Tidak secara instan, citra kita diubahkan menjadi seperti Yesus. Kita tidak bertumbuh melekat kepada Dia hanya dalam semalam saja. Suatu proses tranformasi selalu membutuhkan waktu. Kalimat doa di atas menunjukkan, adanya sesuatu yang kita butuhkan hari ini untuk mempersiapkan hari esok – menyatakan bahwa setiap hari kita membangun masa depan di dalam Allah. Kita bergerak dari iman menuju kepada iman (Rom 1:17) dan dari kemuliaan menuju kemuliaan (2 Kor 3:18).
Setiap hari kita butuh sesuatu dari Allah, sehingga kita bisa membangun hari-hari esok di atas hari-hari kemarin. Secara terus menerus, saat menerima kemurahan-Nya setiap hari, citra kita diubahkan menjadi seperti Yesus. Setiap hari kita menjadi lebih dan lebih lagi seperti Dia di dalam segala jalan kehidupan kita. Ia memohon kepada Allah Bapa dan memperoleh semuanya itu lebih dari kita karena Ia memiliki keterikatan yang sempurna dengan Allah Bapa. Yesus memahami, kemampuan-Nya untuk mendapatkan semua itu berasal dari Allah, karena itu tidak ada doa-Nya yang tidak dikabulkan Allah. Ia selalu menerima apa yang dibutuhkan-Nya.
Yesus ingin kita melakukan hal yang sama dengan-Nya. Kita mampu melakukannya, jika kita memelihara hubungan dengan Dia – menerima dari-Nya hari ini untuk mempersiapkan hari esok (Yoh 15:7) sehingga kita tidak perlu kuatir akan hari esok – selalu berada di tempat dan waktu yang tepat. Dan setiap hari, kita akan berada satu langkah lebih dekat kepada sasaran kita, yaitu penggenapan rencana Allah Bapa yang abadi bagi kita.

Implikasi Bagi Gereja Masa Kini
Doa Bapa Kami ini merupakan sebuah model doa yang diajarkan oleh Yesus. Doa Bapa Kami bukan sebuah mantra yang harus selalu diucapkan, dan juga bukan rumusan paten yang tidak boleh diubah. Tetapi doa ini merupakan doa yang harus selalu dijaga dan dipelihara oleh orang Kristen. Doa Bapa Kami adalah doa yang sangat alkitabiah di mana pemohon menyampaikan keinginannya di dalam ketundukan ke dalam kehendak Tuhan. Oleh karena itu penggunaan doa ini harus selalu dipelihara. Dalam bagian yang dibahas di atas merupakan bagian dari Doa Bapa Kami, yaitu permohonan makanan yang secukupnya. Ini merupakan refleksi iman umat Israel yang telah mengalami pemeliharaan Allah selama mereka berjalan di padang gurun (Kel 15:15-21) yaitu dengan pemberian roti manna. Selama di padang gurun umat Israel tidak dapat menyimpan manna sebagai perbekalan untuk keesokan harinya. Jadi untuk bertahan hidup selama di padang gurun mereka diajar untuk sungguh-sungguh bergantung kepada kemurahan dan pemeliharaan Allah setiap hari. Jadi pengertian “berikanlah makanan kami yang secukupnya” pada prinsipnya menunjuk sikap ketergantungan umat kepada pemeliharaan Allah sampai kedatangan-Nya kembali. Dari ketergantungan inilah, gereja diajar untuk terus meminta kepada Tuhan dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan agar semua keperluan untuk hari ini akan dipenuhi oleh Tuhan. Begitu juga untuk orang-orang miskin, gereja harus selalu memperhatikan hal itu dan tidak boleh menutup mata dengan keadaan seperti itu. Doa yang diajarkan Yesus dan telah berabad-abad diucapkan oleh umat-Nya ini memang sepintas tampaknya sangat sederhana. Tetapi sebenarnya inilah doa yang sempurna yang mencakup seluruh elemen yang dibutuhkan untuk menggenapi seluruh rencana Allah. Jadi kalau kita bergantung sepenuhnya kepada Allah, maka apapun kebutuhan kita akan dipenuhi. Apa yang kita butuhkan pasti Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita dan ingat, bukan berarti bahwa kita meminta lebih tapi kita mau habiskan untuk satu hari itu. Tuhan akan memberikan kebutuhan hidup kita sesuai dengan kebutuhan kita. Bergantunglah sepenuhnya kepada Allah.

Daftar Pustaka

Abineno, J.L.Ch.Dr. Doa Menurut Kesaksian Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994.
Hutauruk, Toga R. Berdoa Yang Benar. Surabaya: Pelayanan Mandiri Mikhael. 2006.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar