Kamis, 22 April 2010

MEMPERHATIKAN AJARAN ORANG TUA Amsal 1:8-9


Oleh; Sarmen Sababalat

Pendahuluan
Buku Amsal adalah suatu kumpulan ajaran tentang cara hidup yang baik. Ajaran-ajaran itu disampaikan dalam bentuk petuah, peribahasa, dan pepatah. Kebanyakan di antaranya menyangkut persoalan-persoalan yang timbul dalam hidup sehari-hari. Kitab ini termasuk dalam kumpulan “sastra hikmat” di dalam PL, bersama-sama dengan kitab Ayub dan Pengkhotbah. Pendahuluan kitab Amsal, yaitu pasal 1-9, rupa-rupanya berasal dari masa yang muda, sebab dipengaruhi nabi-nabi besar seperti Yeremia, Deutero-Yesaya, dan khususnya Deuteronomium. Dalam kitab Amsal, bukan hanya hubungan Allah dengan manusia, tetapi ada juga hubungan antara manusia dengan manusia. Salah satunya adalah hubungan antara orang tua dengan anak. Bagaimana orang tua mendidik anaknya dan seorang anak mendengarkan perkataan orang tuanya. Maka dalam paper ini, akan membahas hubungan antara anak dengan orang tua yang terkhusus bagaimana seorang anak memperhatikan ajaran dari orang tuanya.

Pembahasan
Amsal 1-9 biasanya disebut sebagai “pembimbing ke kitab Amsal” atau “prolog”. Sebagai pembimbing, bagian pertama kitab ini mau mengantar pendengar atau pembacanya untuk mencintai hikmat dan menunjukkan sikap serta persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk memperoleh hikmat. Nada pengajarannya sangat kuat. Jenis sastra yang digunakan adalah wejangan. Seluruhnya ada 10 wejangan. Amsal 1:8-9, berfungsi sebagai pendahuluan, mencantumkan perintah sang guru hikmat untuk memperhatikan didikan orang tua. Elemen utama pendahuluan ini ada pada kalimat perintah utama di ayat 8. Untuk mempertegas perintah itu, kalimat perintah pada ayat 8a, dipertentangkan dengan kalimat perintah negatif pada ayat 8b dan disejajarkan dengan kalimat motif pada ayat 9. Mengapa guru hikmat mencantumkan hal itu? Karena tujuannya agar seorang anak selalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Karena hikmat itu sendiri adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup atau petunjuk praktis untuk hidup sehari-hari.

Tafsiran Amsal 1:8-9
1. Memperhatikan Didikan Orang Tua (Amsal 1:8)
Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu (1:8).
(musar): “didikan”, yaitu didikan seorang ayah yang tegas untuk mendisiplinkan atau mengoreksi anaknya dalam sikap dan tingkah laku yang tidak benar. (Torath): Kata benda feminin, arti harfiahnya “ajaran”, di sini maksudnya ajaran feminis seorang ibu kepada anaknya, yaitu ajaran lembut yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Ajaran ini berfungi sebagai “dorongan” yang sangat bermanfaat. Selain bermakna ajaran, kata ini juga berarti “undang-undang” atau “aturan” yang keras dan tegas.
“janganlah kau menyia-nyiakan”, kata kerja bentuk perintah negatif dari akar kata natasy, artinya janganlah kau dengan sengaja “meninggalkan”, “menyia-nyiakan”, “melalaikan”.

Penjelasan
Di dalam kitab Amsal sering kita temukan kata-kata sapaan “hai anakku”. Kata sapaan ini menunjukkan adanya tempat yang dasariah dari hikmat orang tua. Bagian ini adalah yang pertama menggunakan kata “anakku” (bdk. 1:10, 15; 2:1; 3:1, 11, 21; 4:10, 20; 5:1; 6:1, 3, 20; 7:1; 19:27; 23:15, 19, 26; 24:13, 21; 27:11). Kata “anakku” pada ayat 8a adalah istilah yang juga biasa digunakan seorang guru ketika menyapa anak didiknya. Istilah ini digunakan karena tanggung jawab seorang guru dalam mendidik muridnya sama beratnya dengan tanggung jawab seorang bapa dan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Si guru memerintahkan muridnya tidak hanya untuk mendengarkan, tetapi memperhatikan dengan serius, mengerti kemudian menaati didikan si ayah. Didikan seorang ayah bersifat tegas, keras, bertujuan untuk mengoreksi dan mendisiplinkan anak-anaknya dalam seluruh aspek kehidupannya. Kalau perlu dilakukan dengan menggunakan hukuman (Bdk. 13:24; 22:15; 23:13-14). Didikan ayah yang tegas dipasangkan dengan ajaran (torath) ibu yang merupakan dorongan yang penuh kasih sayang. Ajaran seperti ini sangat dibutuhkan orang-orang muda, karena selain berbentuk bimbingan yang hangat, ajaran tersebut juga mengimbangi didikan ayah yang keras. Dalam periode tertentu, dalam masyarakat Israel bisa saja peranan ibu lebih dominan daripada ayah. Ayah yang tegas dan ibu yang penuh kasih, sama-sama bertanggung jawab dan saling melengkapi di dalam mendidik anak-anak mereka. Jadi, dapat kita simpulkan di sini bahwa peranan ayah dan ibu sangat penting untuk mendidik anak-anak dalam keuarga sehingga anak-anak itu kelak akan berguna dan tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Manfaat Didikan Orang Tua (Amsal 1:9)
Dorongan pada ayat 8 di atas sekarang dipertegas dalam ayat 9 yaitu manfaat dari hikmat atau manfaat didikan orang tua.

sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu (1:9)
“karangan bunga” artinya paralel dengan “mahkota kemuliaan” dalam Amsal 4:9.
(naqim): “kalung-kalung”. Karena bentuknya jamak, maka diartikan sebagai kalung-kalung yang artinya bahwa kalung itu bukan hanya satu tetap banyak. Kalung dan karangan bunga merupakan hiasan mulia dan indah yang biasa digunakan orang muda Israel kuno.

penjelasan
Robert Alden mengatakan bahwa kita tidak tahu seperti apa karangan bunga atau kalung yang disebutkan pada ayat 9 ini, karena hal itu tidak penting. Yang terpenting dari ayat ini adalah ketaatan pada ajaran orang tua akan memberi berkat. Tidak ada satu pemudapun yang tidak menginginkan karangan bunga atau seorang pemudi yang tidak ingin memiliki sebuah kalung. Untuk memperoleh hal tersebut, amsal ini ingin menasihati agar pemuda-pemudi menerima nasihat dan ajaran dari ayah dan ibu. Risnawaty Sinulingga melihat bahwa kedua istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa manfaat didikan dan dorongan itu adalah untuk kehidupan masa kini dan masa depan, dalam bentuk kehidupan yang indah, mulia bahkan terhormat. Kemuliaan dan kehormatan akan mereka miliki bukan hanya dalam kehidupan berkeluarga, tetapi juga dalam pekerjaan, atau peran lain di tengah masyarakat. Kehidupan anak itu akan seindah ddan semulia emas yang selalu berharga.

Relevansi
Dari bagian amsal yang kita baca di atas, ada beberapa hal yang dapat kita pelajari:
1. Ada kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Hal ini dilakukan bukan hanya di rumah saja, tetapi di masyarakat, anak-anaknya harus diajar bagaimana menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Dalam mendidik anak-anak, antara suami dan istri harus saling mendukung. Artinya bahwa, didikan yang dilakukan kepada anak haruslah sesuai dengan apa yang berkenan kepada Tuhan.
2. Tugas seorang anak atas didikan orang tuanya adalah menjaga agar didikan orang tuanya itu menjadi berguna dan bermanfaat dalam hidupnya. Seorang anak yang baik, pastilah didikan orang tuanya yang dia sudah yakini mampu memberikan pelajaran yang baru dan berguna untuknya. Anak yang berbakti kepada orang tua akan mendatangkan sukacita bagi orang tuanya apalagi kalau dia berhasil dalam melaksanakan apa yang diiginkan oleh orang tuanya.
3. Didikan yang diajarkan oleh orang tua haruslah diperhatikan oleh si anak agar kelak dia berjalan dengan pertolongan dan tuntunan dari Tuhan. Tuhan akan memberikan hikmat kepada anak-anak yang menaati orang tuanya karena orang tua adalah wakil Allah di dunia ini. Kalau seorang anak menghormati dan menaati segala perintah orang tuanya, maka dia sendiri sudah menaati apa yang dikatakan oleh Tuhan dalam hidupnya. Ketika dia menghormati oorang tuanya, berarti juga dia telah menghormati Tuhan.
4. Didikan itu bersifat kekal dan tidak berhenti hanya ketika diperlukan saja. Tetapi didikan itu berlaku untuk selama-lamanya. Artinya di sini, didikan itu untuk menuntun kepada hidup yang lebih baik dan bijaksana. Hikmat yang diperlukan akan diberikan oleh Tuhan kepada siapa saja yang memelihara perintah dan perkataan orang tuanya terlebih mendengarkan apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan setiap manusia bukan hanya kepada anak-anak tetap ini berlaku untuk semua orang. Di sini anak-anak bukan hanya anak-anak dalam keluarga, tetapi anak-anak Tuhan yang sangat dikasihi. Oleh karena itu didikan Tuhan kepada semua anak-anaknya adalah bukan hanya pada saat tertentu saja, sebagaimana orang tua mengasihi anaknya, begitu juga Tuhan sangat sayang kepada setiap manusia.
5. Berikan yang terbaik bagi orang tua agar hikmat itu berguna dan akan sangat bermanfaat ketika perintah dan ajaran dari orang tua diindahkan sehingga akan menuntun kepada jalan kebenaran dan tidak berjalan dalam kegelapan karena Tuhan senantiasa memelihara segenap manusia ketika dia mengindahkan perintah dari Tuhan.
6. Hendaknya setiap manusia menaati segala perintah Tuhan yang adalah sumber dari segala sesuatu dan sumber dari hikmat itu sendiri.



Kepustakaan
Alden, Robert L. Tafsiran Praktis Kitab Amsal. Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2002.

Alkitab elektronik versi 2.0.

Bible Works 7

Blommendaal, J. Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.

Pareira, Berthold Anton, O.Carm. Amsal 1-9; Jalan Ke Hidup Yang Benar. Malang: Dioma, 2006.

Roedi, Isak. Catatan Kuliah Study Amsal. STT Cipanas, 2009.

Sinulingga, Risnawaty. Tafsiran Alkitab; Kitab Amsal 1-9. BPK: Gunung Mulia, 2007.

Wahono, Wismoady, S. Di Sini Kutemukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar