Jumat, 23 April 2010

AJARAN ETIS PAULUS TENTANG PENDERITAAN DALAM SURAT FILIPI


Nama: Edi Paimon Labang dan Sarmen Sababalat


Pendahuluan
Penderitaan memang sulit didefinisikan. Yang pasti adalah bahwa penderitaan dialami oleh makhluk hidup yang dapat merasa sakit, baik secara fisik maupun mental. Penderitaan adalah rasa sakit yang dialami oleh manusia sebagai akibat dari sesuatu yang merugikan. Penderitaan juga bisa didefinisikan sebagai rasa sakit yang dialami ketika manusia berada di bawah tekanan tidak terpenuhinya cita-cita kehidupan yang sudah dialami dan atau yang dianggap sebagai hak dan kewajibannya. Penderitaan yang dialami oleh manusia biasanya berhubungan dengan penderitaan karena direndahkan, rasa malu, kejengkelan, keputusasaan, ketiadaan pegangan hidup, penghinaan moral, kesalahan dan juga ketakutan akan kematian. Penderitaan juga dialami oleh sebab orang tidak dapat menjalankan kewajiban sosial dan pribadinya. Akan tetapi, bagaimanakah pengajaran etis Paulus tentang penderitaan? Maka melalui makalah ini, akan dibahas tentang penderitaan dalam pengajaran etis Paulus dalam Surat Filipi, yang juga menjadi nilai-nilai etis bagi umat Kristen dalam memahami penderitaan.

Latar Belakang Historis
Kota Filipi mendapat nama ini pada tahun 356 sM dari Philip II, raja Makedonia dan ayah dari Aleksander Agung, yang menjadikannya wilayah permukiman. Pada tahun 168-167 sM Filipi dikuasai oleh kekaisaran Romawi dan menjadi kota penghubung penting pada Via Egnatia, suatu jalan raya yang menghubungkan Asia Barat Laut dengan pelabuhan-pelabuhan di laut Adriatik. Pada masa kekaisaran Markus Antonius (42 sM) dan kemudian Agustus (31 sM), kota Filipi dijadikan tempat tinggal para serdadu veteran Romawi, dengan sistem pemerintahan yang mengikuti “hukum Italia” yaitu sistem hukum bagi kota-kota propinsi Romawi yang paling dihormati. Meskipun bahasa setempat tetap bahasa Yunani, namun bahasa Latin banyak digunakan di Filipi.
Kota Filipi merupakan tempat permulaan penginjilan di Eropa. Filipi adalah kota pertama di daratan Eropa yang diinjili oleh Paulus (Kis 16:13-40). Paulus menulis surat ini di penjara (Fil 1:12-13, 15-17) dan sedang menantikan putusan pengadilan, apakah ia akan dibebaskan atau dihukum mati (1:20-25). Menurut Kis 23 dan 28, Paulus dipenjarakan dua kali, yakni di Kaisarea dan di Roma. Gereja di Filipi didirikan oleh Paulus dan teman-teman sekerjanya (Silas, Timotius, Lukas) pada perjalanan misi yang kedua sebagai tanggapan terhadap penglihatan yang Allah berikan di Troas (Kis 16:19-40). Suatu ikatan persahabatan yang kuat berkembang di antara rasul itu dan jemaat Filipi. Beberapa kali jemaat itu mengirim bantuan keuangan kepada Paulus (2 Kor 11:9; Fil 4:15-16) dan dengan bermurah hati memberi kepada persembahan yang dikumpulkannya untuk orang Kristen yang berkekurangan di Yerusalem (bnd. 2 Kor 8:1-9:15). Agaknya dua kali Paulus mengunjungi gereja ini pada perjalanan misinya yang ketiga (Kis 20:1, 3, 6).

Tujuan Penulisan Surat Filipi
Jemaat Filipi hidup dalam keadaan yang sangat kompleks. Di satu pihak, mereka berjuang melawan tetangga-tetangga mereka yang bersifat memusuhi; dan di lain pihak, mereka disusahkan oleh para misionaris yang berkunjung , di mana di satu sisi mengatakan hal-hal yang berbeda dengan yang dikatakan Paulus, tetapi masih tetap mewartakan Injil, dan di lain sisi secara langsung bertentangan dengan pengajaran Paulus mengenai pesan Kristus. Kasus lainnya adalah pertikaian antara orang Kristen. Paulus menyebut dua wanita yang ruwel, Euodia dan Sintikhe (Fil 4:2-3). Hal-hal inilah yang memungkinkan adanya ketidakrukunan dan pertentangan, kesukaran-kesukaran yang terjadi di dalam komunitas Filipi tersebut. Dalam surat ini, Paulus berbicara mengenai tiga masalah kecil di Filipi: Keputusasaan mereka karena masa hukumannya yang begitu lama (Fil 1:12-26); benih-benih perpecahan di antara dua orang wanita di dalam gereja (Fil 4:2; bnd. Fil 2:2-4); dan ancaman ketidaksetiaan yang selalu ada dalam gereja oleh karena para penganut agama Yahudi dan orang-orang yang berpikiran duniawi (pasal 3; Fil 3:1-16). Karena ketiga masalah yang potensial ini, maka munculah pengajaran Paulus yang paling kaya mengenai sukacita di tengah-tengah segala keadaan hidup (mis. Fil 1:4,12; Fil 2:17-18; Fil 4:4,11-13), kerendahan hati dan pelayanan Kristen (Fil 2:1-18), dan nilai pengenalan akan Kristus yang melebihi segala sesuatu (pasal 3; Fil 3:1-16). Bagian-bagian nasihat yang penting berkenaan gagasan persatuan melalui kerendahan hati (2:1-18) dan kedewasaan penuh dalam Kristus (3:1-4:1). Bagian ajaran yang penting adalah mengenai penjelmaan dan pemuliaan Kristus (2:5-11). Dalam setiap keadaan Kristus dipermuliakan: Dalam penderitaan Paulus sendiri (1:12-26); Dalam penderitaan Jemaat-Nya (1:27-30); dalam kehidupan orang Kristen sendiri (2:1-5); dalam keinginan dan ambisi Paulus sendiri (3:7-14); dan dalam hal terwujudnya ketenangan yang sebenarnya di dalam hidupnya (4:10-18).

Konteks Penderitaan dalam Surat Filipi
Dalam penderitaan Paulus sendiri (1:12-26).
Paulus berada dalam di penjara. Hal itu menimbulkan kekuatiran dalam hati anggota-anggota jemaat di Filipi, bukan saja berhubung dengan keselamatan dirinya, tetapi juga berhubung dengan kelangsungan berita Injil. Kekuatiran mereka ini membuat Paulus memberikan pengertian bahwa benar, ia pada saat itu berada dalam penjara, tetapi berita Injil tidak turut terpenjara. Berita Injil tidak terhalang, tetapi terus maju, terus berkembang, sekalipun Paulus telah beberapa waktu lamanya terkurung di dalam penjara, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa ia dipenjarakan karena Kristus. Penderitaan Paulus dan keberaniannya dalam menyaksikan kebenaran Injil di dalam penjara dan di muka pengadilan, selain di seluruh istana, juga ke dalam jemaat, di daerah ia dipenjarakan, sehingga banyak saudara-saudara (sebagaian besar dari anggota-anggotanya) yang mulanya takut dan ragu-ragu – mendapat keberanian lagi untuk memberitakan Injil. Menurut Paulus, menderita demi Injil bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda kemenangan.

Dalam Penderitaan Jemaat-Nya (1:27-30)
Bagian ini merupakan nasihat Paulus supaya bertekun di dalam iman. “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus”. Ada tuntutan yang dituliskan oleh Paulus, yaitu hidup mereka harus berpadanan dengan Injil Kristus. Mereka tidak hanya harus mewartakan injil, tetapi juga harus sesuai dengan hal itu. Untuk “hidup”, Paulus di sini tidak memakai “peripatein” (berjalan, berlaku), yang biasa dipergunakan dalam surat-suratnya (bdk. 3:17-18; Rom 6:4; Ef 2:2, dll) tetapi kata “politeuesthai” yaitu kata yang dipergunakan waktu ia memberikan pertanggungjawaban di depan Majelis Agama (Kis 23:1). Paulus bukan saja memberikan kepada mereka nasihat tetapi lebih dari pada itu: suatu peringatan, suatu perintah dan perintah itu terus menerus berlangsung. Hidup mereka harus berpadanan dengan Injil Kristus. Bagi Paulus yang terpenting adalah persatuan mereka yang bukan hanya saja dalam roh, tetapi dalam perbuatan juga. Dengan tegas ia katakan bahwa mereka harus “teguh berdiri”. Paulus mau mengatakan bahwa mereka sedang dalam bahaya: mereka diserang, karena itu mereka harus tahan berdiri dan terus berjuang. Selain daripada teguh berdiri di dalam satu roh, mereka juga harus sehati-sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil. Persatuan “di dalam roh” bukanlah suatu tugas, tetapi suatu pemberian, yang tiap-tiap kali mengingatkan jemaat untuk tetap bersatu. Persatuan “di dalam hati dan jiwa” adalah suatu tugas, suatu amanat dalam perjuangan. Tanpa persatuan itu, jemaat tidak dapat berdiri dan berjuang dengan baik. Yang dimaksudkan di sini berjuang ialah bukan berjuang melawan musuh (supaya dimusnahkan), tetapi berjuang untuk tetap berdiri, berjuang untuk iman: bukan saja iman kepada (dalam) berita Injil, tetapi juga iman yang timbul dari berita Injil.
Paulus kemudian melanjutkan nasihatnya tentang bagaimana caranya mereka harus menghadapi lawan mereka: jangan kamu digentarkan sedikitpun oleh lawanmu! Yang dimaksudkan Paulus tentang lawan di sini yaitu mereka yang menentang jemaat dan memusuhi Injil Kristus. Terhadap orang-orang ini mereka tidak boleh takut, tidak boleh gentar. Tetapi mereka harus tetap bertahan dan sehati serta sejiwa dalam iman. Bagaimanapun juga akhir perjuangan mereka, satu hal telah pasti: tanda itu akan tetap berbicara, pada satu pihak tentang penghukuman dan kebinasaan untuk orang-orang yang menentang jemaat dan memusuhi Injil Kristus dan pada pihak lain tentang keselamatan untuk mereka yang percaya dan terus berjuang. Tanda keselamatan itu adalah pekerjaan anugerah Tuhan.
Dalam ayat 29 pemberian (anugerah) Allah itu Paulus jelaskan dalam suatu kalimat kausal: sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya, melainkan juga menderita untuk Kristus. Paulus katakan bahwa kepada mereka Tuhan Allah berikan dua macam karunia (anugerah). Yang pertama: supaya mereka boleh percaya kepada Kristus. Yang kedua: supaya mereka boleh menderita untuk Dia. Jadi, percaya kepada Kristus itu bukan pekerjaan manusia tetapi pemberian Allah. Manusia sendiri tidak mempunyai percaya, Allah yang memberikan kepadanya. Ia buat bukan karena manusia berhak menerimanya, tetapi semata-mata anugerah-Nya. Di samping karunia untuk percaya kepada Kristus, mereka juga diberikan karunia untuk menderita demi Dia. Menderita untuk Kristus adalah suatu karunia (anugerah). Bukan tiap-tiap orang boleh menderita untuk Dia. Hanya orang-orang yang Ia pilih dan panggil. Karena itu mereka tidak boleh melihat penderitaan yang mereka tanggung untuk Dia – penderitaan karena nama dan kemuliaan-Nya – hanya sebagai perbuatan jahat dari musuh dan lawan mereka saja, tetapi sebagai suatu karunia (anugerah) yang mereka terima dari tangan Allah. Sekali lagi Paulus mengingatkan mereka bahwa ia juga melakukan demikian. Perjuangan (pergumulan) yang mereka hadapi sekarang ialah perjuangan (pergumulan) yang sama, seperti yang dahulu mereka lihat padanya dan yang sekarang mereka dengar tentang dia. Perjuangan ini terus menerus dilakukan oleh Paulus sejak Kristus berkenan memilih dan memanggilnya sebagai saksi-Nya di dalam dunia. Mereka sendiri pernah melihat perjuangan itu, yaitu ketika ia untuk pertama kali berada di Filipi untuk memberikan Injil kepada mereka (Kis 16:9). Sampai sekarang – seperti yang telah mereka dengar – perjuangan itu masih terus ia perjuangkan dengan kemungkinan, bahwa ia akan dijatuhi hukuman mati. Maksud Paulus dengan tulisannya ini bukanlah hendak menonjolkan diri dan apa yang telah ia buat untuk Kristus – karena semuanya itu adalah anugerah tetapi untuk menghibur dan menguatkan mereka di dalam perjuangan mereka.

Kesimpulan: Ajaran Etis Paulus Tentang Penderitaan Dalam Surat Filipi
Ajaran Etis Paulus dalam surat Filipi harus dipahami dalam konteks penderitaan pribadi Paulus dan penderitaan jemaat (anggota-anggota Paulus). Penyebab kedua konteks penderitaan itu sama, yakni karena Injil. Penderitaan Paulus adalah karena keberaniannya dalam menyaksikan kebenaran Injil, hingga berujung di dalam penjara dan di muka pengadilan. Akan tetapi menurut Paulus, menderita demi Injil bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda kemenangan. Sementara penderitaan jemaat adalah suatu karunia. Karunia di sini bukan hanya karunia untuk percaya kepada Kristus, mereka juga diberikan karunia untuk menderita demi Dia. Menderita untuk Kristus adalah suatu karunia (anugerah). Bukan tiap-tiap orang boleh menderita untuk Dia. Yang boleh melakukan itu hanya jemaat-Nya, hanya orang-orang yang Ia pilih dan panggil. Karena itu mereka tidak boleh melihat penderitaan yang mereka tanggung untuk Dia – penderitaan karena nama dan kemuliaan-Nya – hanya sebagai perbuatan jahat dari musuh dan lawan mereka saja, tetapi sebagai suatu karunia (anugerah) yang mereka terima dari tangan Allah.
Jadi penderitaan di sini adalah konsekuensi dari suatu kehidupan Kristen. Akan tetapi penderitaan ini pun harus kita pahami dalam konteks waktu itu di mana memang keadaannya sangat sulit dan bervariasi. Menjembatani konteks pengajaran etis penderitaan ini ke dalam konteks kita saat ini, perlu dikaji secara kritis. Penderitaan orang Kristen bisa saja sebagai akibat konsekuensi dari pemberitaan Injil dan juga iman kepada Kristus, tetapi juga penderitaan karena ulah orang Kristen itu sendiri yang terlalu “lebay”; sempit dan fanatisme. Dan juga kalau kita terlalu fokus pada penderitaan komunitas kita (Kristen), maka kita akan menjadi eksklusif dan selalu menarik diri dari penderitaan dunia, sebab kita selalu merasa menderita karena kebenaran, sementara orang lain di luar Kristen menderita karena dosa atau hukuman Tuhan. Konteks di mana kita berada saat ini sedang dalam penderitaan. Penderitaan karena ketidakadilan, tekanan, kekerasan, bencana alam (banjir, tanah longsor, gempa bumi, dsb), direndahkan, rasa malu, kejengkelan, keputusasaan, ketiadaan pegangan hidup, penghinaan moral, kesalahan dan juga ketakutan akan kematian. Itulah gambaran yang terjadi. Kalau kita terlalu fokus ke dalam komunitas orang Kristen saja, bagaimanakah dengan orang-orang di sekitar kita? Hendaknya penderitaan kita adalah penderitaan bukan hanya untuk dan karena Injil, tetapi untuk sesama umat manusia, sesama kita, sekalipun berbeda dengan kepercayaan kita.











Daftar Pustaka
Abineno, J.L.Ch. Dr. Tafsiran Alkitab Surat Filipi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Bergant, Dianne dkk. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Drane, John. Memahami PB. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2006.

Dunneett, Ph. D, Walter M. Pengantar Perjanjian Baru. Malang: Penerbit Gandum Mas, 1984.

Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jilid I ). Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992.

Hawthrone, Gerald F. Word Biblical Comentary: Philippians. Texas: Word Book Publisher, 1983.

Kleden, SVD, Paul Budi. Membongkar Derita. Yogyakarta: CV. Titian Galang Printika, 2005.

Marshall, I.H dkk, New Bible Dictionary Third Edition. England: Inter-Varsity Press Leicester, 1996.

Martin, Ralph. P. M.A., Ph.D. The Epistle of Paul To The Philippians. England: Inter-Varsity Press, 1994.

Wiersbe, Warren W. Sukacita Di Dalam Kristus. Bandung: Kalam Hidup, 1978.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar